
Tanpa sengaja gelas di meja jatuh tepat di kaki Airin, hingga saat dia bergerak sedikit, kakinya mengenai serpihan kaca. Airin menahan kesakitan di kakinya, kemudian kembali berusaha menarik kursi rodanya mendekat, kemudian duduk. Menggeser kursi Roda dan mencari bajunya di laci kemudian dirobek sebagai pengganti perban lainnya.
Airin menghubungi customer service hotel untuk membersihkan kamarnya. Sambil meminta obat luka dan perban.
Staf hotel pun datang membersihkan kamar Airin, dan membantu Airin membalut luka di kakinya.
***
Esok harinya, Airin menjadi kesulitan untuk memijak tanah saat melakukan terapi, dan Mona terus mengomel menyalahkan Airin yang teledor. Airin hanya bisa diam dan masih terus berusaha melakukan gerakan lainnya untuk melemaskan otot kakinya.
Angga akhirnya datang, dan Mona seperti biasa mencari perhatian dengan mengadukan semua hal yang berkaitan dengan Airin.
"Tadi sudah aku bawa ke ruang pemeriksaan agar tidak infeksi, ah … tapi Airin ini selalu saja tidak bisa membuat orang lain tenang," ujar Mona, ikut mendekat dan melihat luka Airin.
"Masih sakit, Rin?" tanya Angga, Airin mengangguk.
"Airin kan masih terapi dengan Dokter, yuk kita cari makan di luar!" ajak Mona, yang juga seperti biasa selalu saja ingin pergi dengan Angga saat baru datang.
Angga mengangguk, kemudian berbalik badan, namun Airin dengan sigap langsung menarik tangan Angga, lalu menatap Angga dan menggelengkan kepalanya.
"Ja… ja… ngan." ucap Airin tertatih. Angga menatap mata Airin, keduanya melihat mata yang sama-sama haus kerinduan. Angga diam kemudian menoleh kearah Mona.
"Kamu makan saja dulu, aku ingin menemani Airin," kata Angga, kemudian kembali menoleh ke arah Airin dan tersenyum. Airin melihat wajah Mona yang pergi dengan kesal.
"Ayo kita masuk!," ajak Angga, sambil mendorong kursi roda Airin perlahan masuk ke ruang terapi. Airin menyentuh tangan Angga perlahan yang berada di belakang pundaknya. Airin merasakan kehangatan dari suaminya yang akhir-akhir ini terasa perlahan hilang.
***
Setelah terapi, Angga dan Airin kembali ke hotel. Airin mendengar ponsel Angga terus berdering, dan saat dijawab ternyata terdengar suara Mona yang ingin mengajak Angga keluar sebentar. Mona akan mengirimkan pengasuh untuk merawat Airin di hotel. Airin kemudian menarik ponsel Angga, dan mematikan telepon. Airin menggelengkan kepalanya, menolak keras untuk Angga pergi. Kemudian menggenggam tangan Angga erat. Angga pun tersenyum, kemudian menggendong Airin ke tempat tidur, setelah itu membersihkan tubuh Airin dengan handuk yang sudah di basahi air hangat. Airin terus menatap wajah Angga tak lepas, Airin mencoba kali ini akan mempertahankan Angga meskipun dengan keterbatasannya. Setelah memakai piyama, Airin bersandar manja di pelukan Angga dan tidak melepaskan genggaman tangan Angga sedetik pun.
__ADS_1
Namun, tidak cukup sampai disitu. Mona datang ke kamar. Berulang kali menekan bel. Angga membuka kamar, dan Mona langsung masuk. Mona membawa beberapa makanan dan ditaruhnya penuh di meja.
"Aku nggak biasa makan sendiri, temani aku dong!" ucap Mona, kemudian menarik tangan Angga dan keduanya duduk di sofa.
Airin melihat tingkah Mona dari kejauhan dengan wajah kesal, namun tidak bisa melakukan apapun. Setidaknya, Airin masih melihat suaminya di depan mata daripada berkeliaran di luar bersama Mona yang tidak tahu apa yang mereka lakukan.
"Ah waktu terasa cepat juga, sebentar lagi kita pulang," keluh Mona sambil bersandar di bahu Angga.
"Iya, padahal Airin belum bisa menggerakkan otot kakinya dengan maksimal," jawab Angga.
"Bagaimana kalau menambah jadwal terapi lagi, 6 bulan lagi," imbuh Mona. Airin yang mendengarnya langsung naik pitam dengan saran Mona. Kemudian mencari cara agar Angga tidak menjawab usulan Mona. Airin kemudian mengambil gelas di meja samping tempat tidurnya kemudian membantingnya keras. Hingga Mona dan Angga terkejut.
"Ada apa, Rin?" tanya Angga mendekat.
"A… a… ku ma… pu…lang!" Airin mencoba menggertak dengan kalimat yang terbata-bata.
"Di… diam!" teriak Airin memekik, hingga Mona ketakutan.
"Sudah Mon, kamu kembali saja ke kamarmu," ucap Angga, berjongkok membersihkannya pecahan gelas kaca.
"Aku bantu saja, sini," kata Mona sambil ikut berjongkok.
Airin kemudian mendorong kursi rodanya ke arah Mona, hingga Mona mengeluh kesakitan. Angga mendongak, kemudian bangkit dan menatap Airin dengan kesal.
"Kenapa sih kamu?!" gertak Angga kepada Airin.
"Ke … ke … lu … ar!" teriak Airin, mendorong tubuh Mona lagi dengan kursi rodanya.
Mona keluar dari kamar Airin dengan wajah kesal.
__ADS_1
"Ada apa sih denganmu?" tanya Angga, mendekat ke arah Airin setelah selesai membuang serpihan kaca. Airin hanya diam dan membuang muka.
"Mona kan teman kita, jangan bersikap seperti itu, jika bukan karena Dokter Najwa kenalan ayahnya, tidak mungkin perawatanmu berjalan dengan baik," imbuh Angga, Airin menoleh dan menatap wajah Angga dengan kesal.
Malam ini keduanya sangat asing, Airin berbaring di tempat tidur, sedangkan Angga berbaring di sofa sambil menatap layar ponselnya yang menyala.
Sentuhan yang mulai perlahan menghilang, dan hasrat untuk bercinta yang meredup. Airin bingung harus berbuat apalagi untuk membuat keharmonisan itu kembali terjalin dengan situasi kerapuhannya.
Angga memakai jaketnya dan kemudian keluar dari kamar. Airin yang masih terjaga, melihat kepergian suaminya yang terlihat tergesa-gesa. Hati Airin perlahan sakit, pikirannya melayang ke hal yang paling buruk.
Airin menerka jika Angga menemui Mona, karena tidak ada orang lain lagi yang suaminya bisa temui di negara asing ini. Air mata perlahan tumpah, ketika menyadari pernikahannya saat ini bagai di ujung tanduk.
Airin meraih kursi rodanya, lalu duduk. Membuka pintu menuju arah balkon, dan menikmati gemerlap bintang di langit yang cerah.
'Apakan aku bisa keluar dari kesengsaraan ini?' batin Airin. Ada Angga maupun tidak di sampingnya, Airin merasa sangat kesepian. Bahkan, lebih menyakitkan dari sebelumnya menikah dengan Angga. Kali ini rasa cemburu itu seribu kali lipat saat dirinya sudah menjadi istri Angga, karena Angga masih dekat dengan Mona.
Airin diam sejenak menikmati malam, membangkitkan semangatnya untuk pulih dan bisa hidup normal seperti dulu kala.
'Apakah jika aku mengatakan, kecelakaannya itu adalah kesengajaan yang di buat Mona, Angga akan percaya?' pertanyaan itu selalu terbesit namun enggan Airin utarakan, karena melihat Angga yang sepertinya sangat terpesona dengan wajah baru Mona.
Angin bertiup semakin kencang, Airin masuk kedalam kamarnya lagi. kemudian, berusaha mengangkat badannya perlahan ke tempat tidur.
Ceklek …, suara pintu terbuka, Airin pura-pura memejamkan mata dan menarik selimutnya, karena masih kesal dengan sikap Angga.
"Kembalilah ke kamarmu!" ucap Angga, Airin melihat bayangan bukan hanya suaminya saja yang masuk kedalam kamar.
"Apa ada yang salah dengan ciuman tadi?" sahut seseorang.
Dan Airin tahu, siapa pemilik suara itu.
__ADS_1