
Stevi pun memutuskan untuk tidur di sofa, Alex memang keterlaluan bahkan Stevi tidak diberikan selimut membuat Stevi kedinginan dan hanya bisa memeluk dirinya sendiri.
"Thomas, kamu adalah awal dari penderitaanku dan aku sangat membencimu. Aku berharap tidak akan pernah bertemu lagi denganmu, ini semua aku anggap sebagai peringatan dari Allah kalau kamu memang tidak pantas untukku," batin Stevi dengan deraian air matanya.
***
Keesokan harinya...
Tadi malam Stevi tidak bisa tidur dengan nyenyak, sehingga pagi ini dia belum bangun sama sekali. Sementara itu, Alex sudah keluar dari kamar mandi dan mengganti bajunya dengan baju santai karena hari ini dia dan Stevi masih menjalani cuti pernikahan.
Alex menghampiri Stevi yang saat ini masih tertidur dengan posisi meringkuk di atas sofa karena kedinginan.
Alex memperhatikan wajah Stevi. "Aku tidak menyangka, dibalik wajah cantik kamu yang selalu menyunggingkan senyuman kepada siapa pun merupakan wajah penggoda yang sudah tidur dengan banyak pria," batin Alex.
Alex menendang sofa yang dengan kerasnya membuat Stevi kaget dan langsung terbangun.
"Jam segini belum bangun, dasar wanita pemalas berbeda sekali dengan Maya yang rajin dan pandai memasak. Boro-boro bisa masakin aku, bangun aja kesiangan!" sentak Alex.
"Aku bisa masak kok Kak, Kakak mau aku masakin apa?" tanya Stevi.
"Aku tidak mau makan buatan tangan wanita murahan seperti kamu. Cepat mandi karena aku akan membawa kamu pindah dari sini."
Stevi tidak mau banyak bicara, dia langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah selesai, Stevi pun keluar dan menyusul Alex ke bawah.
"Pagi Ma, Pa," sapa Stevi.
"Pagi, sayang. Ayo sarapan dulu bersama kami."
Stevi duduk di samping Alex, Alex terlihat sangat cuek sekali bahkan saat ini dia asyik makan roti tanpa memperdulikan Stevi sama sekali.
"Ma, Pa, hari ini Alex mau ngajak Stevi pindah rumah ke rumah Alex," seru Alex.
"Memangnya rumah kamu sudah jadi?" tanya Papa Bobby.
__ADS_1
"Sudah satu bulan yang lalu."
"Baiklah kalau kamu ingin membawa Stevi pergi dari rumah ini, tapi ingat satu hal Papa minta sama kamu tolong jaga Stevi dan jangan sakiti dia."
Alex hanya diam saja, sebenarnya alasan dia mengajak Stevi pindah ke rumahnya supaya Alex lebih leluasa melakukan apa pun tanpa ada campur tangan dari kedua orang tuanya.
Rumah itu sebenarnya Alex persiapkan untuk dirinya dan Maya jika suatu saat nanti mereka menikah, tapi sekarang justru Stevilah wanita pertama yang akan menginjakan kakinya di rumah Alex.
"Stevi, kedua orang tua kamu sudah menitipkan kamu kepada kami jadi kalau ada apa-apa kamu jangan sungkan bicaralah kepada kami," seru Mama Linda.
"Baik, Ma."
Alex dan Stevi pun akhirnya pergi dari rumah orang tua Alex, selama dalam perjalanan Alex diam saja wajahnya dingin dan tampak menyeramkan membuat Stevi tidak berani hanya untuk sekedar mengajaknya bicara.
"Apa pun yang nantinya terjadi kepada dirimu, jangan sampai kamu mengadu kepada kedua orang tuaku ataupun orang tuamu karena kalau sampai itu terjadi, aku akan melakukan hal yang jauh lebih menyakitkan dan tidak akan pernah kamu lupakan seumur hidup kamu," seru Alex.
"Kenapa Kakak berubah? dulu Kakak tidak seperti ini, tapi sekarang Kakak seolah membenciku?" tanya Stevi.
"Iya, karena dulu aku tertipu oleh sikap baik dan ramahmu padahal kenyataannya hati dan perilakumu begitu sangat busuk."
"Jangan pura-pura bodoh, aku sudah tahu semuanya mengenai dirimu. Dan aku sangat membencimu karena gara-gara kamu, aku tidak bisa menikah dengan Maya dan kita hampir saja putus."
"Aku sudah bilang Kak, ceraikan aku sekarang juga kalau memang Kakak membenci aku," seru Stevi dengan bibir yang bergetar menahan tangisannya.
Alex tersenyum sinis. "Kamu yakin ingin bercerai denganku sekarang juga? terus bagaimana dengan nasib Om Heri? bukanya Papimu itu mempunyai penyakit jantung? dia sudah sangat syok dengan kejadian kemarin, sekarang kamu mau tambah keterkejutannya dengan berita perceraian ini? apa itu yang kamu inginkan?" sinis Alex.
Luruh sudah air mata Stevi, memang benar apa yang dikatakan oleh Alex kalau saat ini Papinya mengidap penyakit jantung. Kalau saat ini Stevi bercerai sehari setelah menikah, kemungkinan akan membuat Papinya terkejut dan akan membahayakan kondisi kesehatannya.
Beberapa saat kemudian, Alex pun menghentikan mobilnya di sebuah rumah besar yang mewah dan megah itu. Tanpa banyak bicara, Stevi mengikuti langkah Alex dari belakang.
"Ini kamar aku dan kamar kamu yang itu," tunjuk Alex.
Stevi menganggukkan kepalanya, Alex menghubungi seseorang dan Stevi tahu siapa yang Alex hubungi.
__ADS_1
"Aku mau bertemu dengan Maya, kemungkinan akan pulang malam."
Alex dengan cepat pergi dari rumah itu meninggalkan Stevi, sedangkan Stevi dengan cepat memesan taksi online karena dia ingin sekali pulang ke rumahnya untuk mengambil baju dan barang-barangnya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Stevi."
Nia bangkit dari duduknya dan langsung memeluk putri kesayangannya itu.
"Kamu ke sini sendirian? mana Nak Alex?" tanya Mami Nia celingukan.
"Kak Alex ada di rumah Mi, mungkin dia kecapean dan Stevi tidak enak mengganggu dia jadi Stevi ke sini sendirian saja," dusta Stevi dengan pura-pura tersenyum.
Stevi menghampiri Papinya yang dari sudah memperhatikannya.
"Apa Papi baik-baik saja?" tanya Stevi.
"Hai, Papi baik-baik saja seharusnya Papi yang tanya seperti itu. Apa kamu tidak apa-apa? apa Alex memperlakukanmu dengan baik?" tanya Papi Heri dengan mengusap kepala Stevi.
Stevi tidak bisa menahan lagi air matanya. "Stevi juga baik-baik saja kok Pi, dan Kak Alex memperlakukan Stevi dengan sangat baik bahkan saat ini Kak Alex sudah membawa Stevi pindah ke rumahnya," dusta Stevi.
"Syukurlah, tadinya Papi berpikir kalau Alex akan menyakitimu karena kemarin Alex meninggalkanmu begitu saja."
"Kemarin Kak Alex pergi mungkin dia syok saja karena tiba-tiba harus menikah dengan Stevi menggantikan Thomas. Padahal Kak Alex sudah menganggap Stevi sebagai adiknya sendiri," sahut Stevi.
"Papi yakin, Alex akan menjaga kamu dan lama-kelamaan cinta akan tumbuh di hati kalian," seru Papi Heri.
"Iya, Pi."
Lagi-lagi Stevi harus tersenyum penuh dengan kepalsuan, Stevi harus menunjukan kebahagiaan di depan kedua orang tuanya apalagi di depan Papinya karena Stevi tidak mau sampai Papinya sedih dan mempengaruhi kesehatannya.
Setelah berbincang-bincang, Stevi pun masuk ke dalam kamarnya untuk membereskan baju dan barang-barang yang akan dia bawa.
__ADS_1
"Maafkan Stevi, Mi, Pi, karena Stevi sudah membohongi kalian. Stevi tidak mau membuat kalian sedih, biarlah semua ini menjadi rahasia Stevi," batin Stevi dengan deraian air matanya.