DINIKAHI PRIA KEJAM

DINIKAHI PRIA KEJAM
Episode 33 Kemarahan Mami Nia


__ADS_3

Nia sudah melihat foto itu jadi ia tahu alasan Stevi tidak mau memberitahukan mengenai kehamilannya kepada besannya itu. Nia selalu mendukung setiap apa yang dilakukan anaknya, selama itu bisa membuat Stevi bahagia.


Sementara itu, Alex baru saja bangun semalaman dia tidak bisa tidur karena memikirkan Stevi. Dia langsung bangun dan masuk ke dalam kamar mandi karena pagi ini dia harus segera pulang ke Indonesia.


Berbeda dengan Alex yang baru mandi, Thomas sudah rapi dan siap untuk pulang tapi hal yang mengejutkan Thomas dapatkan saat ponselnya dia hidupkan.


"Kak Alex! Kak Alex!" teriak Thomas menggedor pintu kamar hotel Alex.


Alex yang sedang mandi pun langsung dipercepat dan membuka pintu.


"Ada apa? pagi-pagi sudah bikin rusuh," kesal Alex.


"Kakak sudah buka ponsel belum?"


"Belum, memangnya kenapa?" tanya Alex bingung.


"Buka sekarang dan cepat bersiap-siap kita harus segera pulang," seru Thomas panik.


Melihat raut wajah adiknya panik, Alex pun segera menghidupkan ponselnya. Puluhan telepon dia terima dari papanya dan satu pesan dari papanya mengejutkan Alex.


Jantung Alex seakan berhenti berdetak, pikirannya kacau.


"Papi Heri?"


"Iya, semalam dia meninggal makanya Stevi pulang sendirian dan sialnya diantara kita tidak ada yang menemani Stevi. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya Stevi," seru Thomas dengan raut wajah sedihnya.


Alex dengan cepat memakai baju dan bersiap-siap, Maya sudah bangun dan mandi tapi dia terus saja memegang kepalanya yang masih terasa sangat pusing itu.


Maya menerima pesan dari Alex kalau pagi ini mereka akan kembali ke Indonesia. Ketiganya sudah berada di Bandara, Thomas dan Alex tidak ada yang memperdulikan Maya membuat Maya sangat kesal.


"Tidak ada satu pun yang peka, padahal kepala aku sangat pusing ini tapi tidak ada yang mau membantu membawakan koperku, sungguh sangat menyebalkan," gerutu Maya.


"Ini semua gara-gara kamu Maya, kalau tadi malam kamu tidak melakukan hal konyol aku tidak akan meninggalkan Stevi sendirian di hotel," geram Alex.


"Memangnya kenapa dengan wanita itu? apa dia pulang duluan?" seru Maya dengan santainya.

__ADS_1


"Astaga, memangnya kamu tidak tahu kalau tadi malam Om Heri meninggal?" sentak Thomas.


"Apa?"


Maya merasa sangat terkejut, walaupun dia tidak tahu terima kasih tapi Maya masih punya perasaan karena bagaimanapun keluarga Stevi berjasa sekali dengan hidup Maya.


Selama di dalam pesawat, ketiganya sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Pasti Stevi sangat terpukul dan aku dengan bodohnya tidak ada di samping Stevi," batin Alex.


Tepat pukul sembilan pagi, ketiganya sampai di Bandara Soeta dan mereka langsung menuju rumah Stevi. Alex sudah tidak memikirkan apa-apa lagi karena yang saat ini ada di otaknya hanyalah Stevi.


Mereka segera menghentikan taksi menuju rumah Stevi. Jalanan sedikit macet, sehingga mereka bertiga membutuhkan waktu yang lumayan lama untuk sampai di rumah Stevi.


Satu jam pun berlalu, akhirnya mereka sampai. Alex langsung keluar dari dalam taksi dan berlari masuk ke dalam rumah Stevi.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Kalian memang anak brengsek, kalian ke mana saja? apa tadi malam kalian keluyuran? sehingga kalian tidak tahu papinya Stevi meninggal!" bentak Papa Bobby.


Alex dan Thomas hanya bisa menundukkan kepalanya, mereka sadar kalau mereka memang salah apalagi Alex kalau saja tadi malam dia tidak menyusul Maya, mungkin Alex akan menemani Stevi pulang.


"Papa berusaha menghubungi kalian sampai puluhan kali tapi tidak ada satu pun ponsel milik kalian yang aktif!" bentak Papa Bobby.


"Ponsel Thomas sedang di charger Pa, dan Thomas lupa menghidupkannya," sahut Thomas.


"Ponsel Alex juga mati Pa, dan baru dihidupkan tadi pagi," sambung Alex.


"Dasar anak-anak tidak bisa diandalkan, Stevi sampai pulang sendirian ke sini!" bentak Papa Bobby.


Bobby kembali menghajar kedua anak-anaknya itu, sampai-sampai wajah tampan Alex dan Thomas lebam akibat pukulan papanya.


"Sudah Mas, tidak apa-apa jangan pukuli mereka lagi toh suami saya tidak akan kembali dengan Mas memukuli mereka," seru Mami Nia lembut.

__ADS_1


Alex menghampiri Nia. "Maafkan Alex, Mi. Alex sudah sangat bersalah, izinkan Alex bertemu dengan Stevi," seru Alex.


"Stevi baru saja tidur, semalaman dia tidak tidur jadi kalau kamu mau melihat Stevi jangan ganggu dia, kasihan," seru Mami Nia.


"Baiklah Mi, Alex janji tidak akan mengganggu istirahat Stevi."


Alex segera berlari menuju lantai dua untuk melihat keadaan Stevi.


"Mas Bobby, Mbak Linda, saya pamit mau istirahat dulu kalau kalian mau istirahat juga, kalian bisa istirahat di kamar tamu," seru Mami Nia.


"Iya, kamu jangan memikirkan kamu lebih baik sekarang kamu istirahat juga," seru Mama Linda.


Nia melangkahkan kakinya menuju kamarnya, Maya pun segera mengejar Nia. Nia masuk ke dalam kamarnya, di saat Nia hendak menutup pintu Maya dengan cepat menahannya.


"Tante, Maya mau bicara sama Tante."


Nia mempersilakan Maya untuk masuk ke dalam kamarnya, Nia duduk di pinggir ranjang dan Maya bertekuk lutut di hadapan Nia. Maya menggenggam tangan Nia tapi Bia dengan cepat menghempaskan tangan Maya membuat Maya terkejut.


"Tante, maafkan Maya karena Maya tidak tahu kalau Om Heri meninggal. Stevi tidak memberitahukan Maya," seru Maya dengan raut wajah sedihnya.


"Apa sekarang kamu puas Maya sudah membuat suami Tante meninggal?"


"Maksud Tante, apa?" tanya Maya tidak mengerti.


"Kamu sudah Tante anggap sebagai anak Tante sendiri, bahkan Tante dan Om sangat menyayangi kamu. Kami selalu membelikan barang yang kamu mau, bahkan Stevi pun sudah menganggap kamu sebagai saudaranya sendiri. Kalau bukan karena permintaan Stevi, kamu tidak akan mungkin bisa kuliah di kampus yang mahal itu dan kalau bukan karena Stevi, kamu tidak akan mempunyai fasilitas yang mewah tapi kenapa kebaikan Stevi kamu balas dengan pengkhianatan," seru Mami Nia dengan deraian air matanya.


"Tante, Maya sungguh tidak mengerti dengan apa yang Tante bicarakan."


"Alex, kenapa kamu dan Alex jahat kepada Stevi? selama ini Tante dan Om mengira kalau Stevi baik-baik saja karena Stevi tidak pernah mengadu apa pun kepada Tante dan Om, tapi ternyata Stevi menyembunyikan kesakitannya. Entah separah apa kalian menyakiti Stevi, Tante tidak menyangka kalau kamu begitu jahat Maya."


"Tante, Kak Alex itu pacar Maya dan Stevilah yang merebut Kak Alex dari Maya jadi seharusnya yang marah itu Maya bukan Tante," sahut Maya.


"Mau apa pun permasalahan kamu dan Alex, seharusnya kamu tahu kalau sekarang Alex sudah menikah dengan Stevi dan tidak sepantasnya kamu melakukan hal rendah dengan suami orang. Jadi lebih baik sekarang kamu pergi dari rumah ini, kamu sudah ada hubungan apa-apa lagi dengan keluarga ini jangan datang lagi ke sini," seru Mami Nia.


Maya bangkit, Mami Nia sudah sangat marah kepada Maya tapi namanya juga Maya, dia bukannya menyadari kesalahannya justru semakin menyimpan dendam kepada Stevi.

__ADS_1


Maya pergi dari kamar Nia dengan perasaan yang sangat dongkol dan kesal.


__ADS_2