
Tanpa banyak basa-basi, Niko segera memindahkan foto itu ke laptopnya lalu Niko mengotak-ngatik laptopnya membuat Thomas kebingungan.
"Kamu kenapa?" tanya Thomas.
"Apa sebelumnya kamu sudah menanyakan mengenai foto itu kepada Stevi?" tanya Niko dengan fokus ke laptopnya.
"Tidak, aku keburu emosi jadi aku tidak mau menanyakan kebenarannya kepada Stevi karena melihat foto itu saja aku sudah jijik sama dia," kesal Thomas.
"Dasar bodoh."
"Maksud kamu apa bilang aku bodoh?" bentak Thomas.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Niko bisa membuktikan kalau foto itu hasil editan.
"Lihatlah, foto itu editan ternyata yang tidur sama pria itu bukan Stevi, hanya wajahnya saja yang diubah jadi wajah Stevi," seru Niko.
Seketika Thomas terkejut dan merebut laptop milik Niko, Thomas benar-benar tidak menyangka kalau foto itu palsu dan yang lebih menyesakan dada, Thomas langsung kabur saja tanpa meminta penjelasan dari Stevi terlebih dahulu.
"Mampus kamu, sekarang kamu menyesalkan apalagi sekarang Stevi sudah menikah sama Kakak kamu," ledek Niko.
Thomas menjambak rambutnya sendiri, dia merasa frustasi dan seketika rasa bersalah menghantui Thomas. Dia tidak bisa membayangkan betapa hancurnya hati Stevi waktu itu saat Thomas dengan jahatnya kabur di hari pernikahan mereka.
"Sial, kenapa dulu aku tidak mencari tahu dulu mengenai kebenaran foto itu. Aku terlalu terbawa emosi makanya aku tidak bisa berpikir panjang," kesal Thomas.
"Terus sekarang apa yang akan kamu lakukan?" tanya Niko.
"Sepertinya aku harus pulang dan meminta maaf kepada Stevi walaupun aku tahu akan sulit karena mungkin saja Stevi tidak akan mau memaafkanku."
"Ya jelaslah, mana mungkin Stevi bisa memaafkan perbuatan yang sudah kamu lakukan itu. Perbuatan kamu itu sudah sangat fatal dan tidak bisa dimaafkan," seru Niko.
Tubuh Thomas begitu sangat lemas, dia menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Sungguh saat ini dia merasa sangat berdosa kepada Stevi.
"Maafkan aku, Stevi," gumam Thomas.
***
Keesokan harinya...
Hari ini adalah week end, dan Stevi berencana ingin diam saja di rumah. Tiba-tiba, ponsel Stevi bergetar tanda ada notif pesan yang masuk.
__ADS_1
Ternyata itu pesan dari salah satu teman SMAnya kalau malam ini mereka akan mengadakan reunian.
"Astaga reunian lagi," gumam Stevi.
Stevi sudah beberapa tahun ini absen dari reunian karena kesibukannya yang sangat padat.
"Sepertinya malam ini aku harus datang, gak enak kalau absen terus," gumam Stevi.
Stevi pun bangun dan mencari-cari gaun yang akan dia gunakan nanti malam.
"Pasti Maya juga datang, apa dia mau datang bersama Kak Alex?" gumam Stevi.
Setelah menemukan gaun yang akan dia gunakan, Stevi pun turun ke bawah karena perutnya terasa sangat lapar. Stevi mulai membuat pasta, hingga beberapa saat kemudian Alex pun ikut turun dengan pakaian yang sudah rapi.
Alex sempat melihat ke arah Stevi yang sedang memasak itu.
"Memangnya dia bisa masak apa?" gumam Alex.
Alex hendak melangkahkan kakinya tapi Stevi menoleh.
"Kak, tunggu!"
"Ada apa?"
"Terserah, kamu mau pergi atau tidak karena itu bukan urusan aku."
"Baiklah, yang penting aku sudah minta izin karena bagaimana pun Kakak adalah suami aku dan aku harus mendapatkan izin jika ingin bepergian keluar rumah."
Alex tersenyum sinis dan langsung pergi meninggalkan Stevi, dalam hatinya Stevi begitu sakit tapi Stevi berusaha kuat. Stevi kembali ke dapur untuk menyelesaikan masakannya.
Sementara itu di apartemen, Thomas masih duduk termenung. Semalaman dia tidak tidur karena teringat akan Stevi, dia tidak bisa membayangkan betapa hancurnya Stevi saat itu.
"Apa Kak Alex memperlakukan Stevi dengan baik?" gumam Thomas.
Thomas mengusap wajahnya dengan kasar, tidak terasa air mata Thomas menetes dengan sendirinya. Hatinya begitu sakit dan dadanya sangat sesak saat tahu kalau itu bukanlah Stevi melainkan orang lain.
"Siapa yang sudah mengirimkan foto itu dan motifnya apa? awas saja kalau sampai aku tahu siapa orang itu, aku janji tidak akan pernah melepaskan dia bahkan dia harus membayar setiap rasa sakit yang sudah Stevi rasakan," gumam Thomas.
***
__ADS_1
Malam pun tiba...
Stevi mematut penampilannya di depan cermin, setelah dirasa sudah cantik Stevi pun keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga.
Alex yang sedang fokus menonton tv di ruang tengah, menoleh saat mendengar suara heels Stevi. Lagi-lagi Alex hanya bisa menganga melihat penampilan Stevi, tidak bisa dipungkiri kalau Stevi memang sangat cantik dan Alex juga dalam hatinya mengakui kalau Stevi wanita yang begitu sempurna.
"Kak, aku pergi dulu," seru Stevi.
"Hmmm."
Stevi tidak banyak bicara lagi, dia pun pergi dengan mengendarai mobilnya sendiri. Tidak membutuhkan waktu lama, Stevi pun sampai di sebuah hotel bintang lima tempat di mana acara reunian diadakan.
Stevi melangkahkan kakinya dengan sangat anggun membuat semua mata memandang ke arah Stevi.
"Hai, Stevi!" sapa Rida.
"Hai, Rida."
"Ya ampun kamu makin cantik saja."
"Ah kamu bisa saja," sahut Stevi.
"Seriusan, kamu makin cantik kayanya kalau yang gak kenal sama kamu pasti mengira kamu belum menikah," sambung Lili.
"Oh iya, suami kamu mana? kok gak diajak?" tanya Rida.
"Dia lagi gak enak badan, jadi gak bisa ikut," dusta Stevi.
"Bagaimana rasanya menikah dengan pengusaha tampan itu? kata orang Alex orangnya dingin dan kejam, terus apa dia juga bersikap seperti itu sama kamu?" tanya Lili.
"Astaga Lili, kalau sama istrinya pasti romantislah masa iya sama istrinya dingin juga, iya kan Stev?" sambung Rida.
Stevi hanya tersenyum menanggapi ocehan para teman SMAnya itu, hingga tidak lama kemudian Maya pun datang. Maya menyapa kepada setiap orang kecuali kepada Stevi membuat semua orang merasa aneh karena pasalnya Maya dan Stevi adalah dua manusia yang seperti lem nempel satu sama lain.
"Stev, kamu marahan ya sama Maya? kok dia gak nyapa kamu?" tanya Rida.
Lagi-lagi Stevi hanya menyunggingkan senyumannya, dia tidak mau masalahnya dengan Maya diumbar-umbar kepada semua orang.
Stevi mulai berbaur dengan teman-temannya dulu, semua orang memang menyukai Stevi karena Stevi dari dulu tidak pernah sombong walaupun dia putri seorang pengusaha kaya tapi Stevi tetap ramah dan baik hati kepada semua orang.
__ADS_1
"Dasar penjilat, bisa-bisanya semua orang memuji Stevi," batin Maya dengan kesalnya.
Stevi terlihat tertawa, ini kali pertama Stevi kembali bisa tertawa lepas setelah kemarin-kemarin dia merasakan kesedihan yang bertubi-tubi walaupun di saat pulang nanti Stevi akan kembali sedih tapi setidaknya untuk malam ini Stevi bisa tertawa dan melupakan sejenak permasalahan hidupnya.