DINIKAHI PRIA KEJAM

DINIKAHI PRIA KEJAM
Episode 13 Sakit Tak Berdarah


__ADS_3

Hati Stevi sakit sekali diperlakukan kasar dan di fitnah oleh sahabatnya sendiri dengan apa yang sama sekali tidak dia lakukan. Alex benar-benar sudah dibutakan oleh cintanya kepada Maya sehingga Alex tidak bisa melihat kalau pipi Stevi memerah akibat tamparan Maya.


"Apa aku bisa bertahan sampai akhir? rasanya sungguh sangat berat," batin Stevi dengan deraian air mata.


Stevi pun melangkah dengan gontai menuju kamarnya, dia segera merebahkan tubuhnya karena hari ini pekerjaannya sungguh sangat melelahkan.


Perlahan mata Stevi mulai menutup, dia langsung tertidur dengan air mata yang terus mengalir dari matanya.


***


Keesokan harinya...


Seperti biasa, Stevi bangun pagi-pagi untuk menyiapkan sarapan. Stevi selalu bilang kepada Bi Wati untuk tidak memberitahukan mengenai dia yang setiap pagi menyiapkan sarapan.


Setelah selesai menyiapkan sarapan, Stevi pun langsung masuk ke dalam kamarnya untuk mandi sedangkan Alex sudah berada di meja makan. Alex selalu sarapan dengan lahap karena menurut Alex masakannya sangat enak dan lezat.


"Bi, Bibi sangat pandai memasak aku tidak salah mempekerjakan orang. Masakan Bibi sangat cocok dengan lidahku," seru Alex.


Bi Wati seperti biasa hanya menyunggingkan senyumannya. "Seandainya Tuan tahu kalau masakan itu buatan istri Tuan sendiri, kasihan Non Stevi," batin Bi Wati.


Stevi pun menuruni anak tangga dan langsung duduk tanpa menyapa Alex karena percuma, disapa pun Alex tidak akan peduli kepada Stevi.


Stevi segera mengambil roti, kali ini Stevi sedang tidak berselera untuk makan. Alex melirik sekilas ke arah Stevi, dilihatnya mata wanita cantik itu sembab dan sudah dipastikan tadi malam pasti Stevi menangis.


Ada sedikit rasa bersalah di hati Alex tapi sayang rasa benci Alex jauh lebih besar dibandingkan dengan rasa kasihannya.


"Pagi anak-anakku sayang!"


Alex dan Stevi terkejut dengan kedatangan kedua orang tua Alex.


"Mama, Papa."


Stevi bangkit dari duduknya dan segera mencium punggung tangan keduanya.


"Tumben Papa sama Mama ke sini pagi-pagi," seru Alex.


"Memangnya kita tidak boleh berkunjung ke rumah anak sendiri?" tanya Mama Linda.


"Ma, Pa, ayo sarapan dulu," seru Stevi dengan ramah.


Bobby dan Linda pun ikut bergabung dengan Alex dan Stevi, lalu mencicipi masakan Stevi.


"Hmmm...masakannya enak sekali, siapa yang masak?" tanya Mama Linda.

__ADS_1


"Yang jelas bukan Stevi, mana bisa dia masak," sinis Alex.


"Alex, jangan bicara seperti itu!" tegas Papa Bobby.


"Tidak apa-apa Pa, memang kenyataannya Stevi tidak bisa memasak nanti kalau ada waktu Stevi akan belajar masak sama Mama," seru Stevi dengan senyumannya.


Linda mengusap kepala menantu kesayangannya itu. "Tidak apa-apa, kamu kan sibuk bekerja mana sempat memasak. Lagipula ada Bi Wati yang mengurus semuanya," seru Mama Linda.


Alex menatap tidak suka kepada Stevi, dia berharap kalau nanti kedua orang tuanya bisa menerima Maya menjadi menantu mereka.


"Alex, besok adalah hari ulang tahun perusahaan kita jadi kamu harus siap-siap karena Papa akan memperkenalkan Stevi kepada semua orang," seru Papa Bobby.


"Hmmm."


"Oh iya, dengar-dengar kamu sekarang punya sekretaris baru? bukanya wanita itu dulu asistennya Stevi ya? kenapa sekarang dia jadi sekretaris kamu?" tanya Papa Bobby.


Stevi menghentikan suapannya begitu pun dengan Alex, dia tidak bisa menjawab pertanyaan Papanya itu.


"Mama tidak suka dengan wanita itu, terlihat sekali kalau dia wanita penggoda untung saja saat ini kamu sudah menikah dengan Stevi," seru Mama Linda.


Alex merasa kaget dengan ucapan Mamanya itu. "Jangan menilai dari luarnya saja Ma, bisa jadi wanita itu lebih baik daripada Stevi," kesal Alex.


"Tidak mungkin ada wanita yang lebih baik daripada Stevi, Stevi adalah menantu idaman setiap orang tua. Sudah cantik, pinter, ramah, dan juga sopan jadi kamu beruntung bisa menikahi Stevi," seru Mama Linda.


"Kalau dia wanita baik-baik, tidak mungkin Thomas kabur dan memilih meninggalkan dia," sinis Alex.


Alex bangkit dari duduknya. "Alex sudah kenyang, kalau begitu Alex ke kantor dulu."


"Alex, kamu tidak bareng sama Stevi?" geram Papa Bobby.


"Pa, Stevi bisa bawa mobil sendiri lagipula kantor Stevi dan Kak Alex itu berlawanan arah jadi kasihan kalau Kak Alex harus mengantarkan Stevi dulu," sahut Stevi dengan seulas senyumannya.


"Maafkan sikap Alex ya Nak, Papa yakin kalau suatu saat nanti Alex akan berubah saat ini dia hanya belum bisa menerima saja karena harus menggantikan anak brengsek itu," geram Papa Bobby.


"Iya Pa, Stevi ngerti kok."


***


Di perusahaan Alex...


Maya mengikuti langkah Alex di belakang, banyak karyawan yang tidak suka kepada Maya karena mereka menganggap Maya wanita genit yang menggoda atasannya meskipun kenyataannya Maya adalah kekasih Alex.


Karyawan Alex hanya tahu kalau Alex sudah menikah dengan Stevi.

__ADS_1


"Ishh..ishh..wanita itu genit sekali sih, bagaimana kalau Bu Stevi tahu bisa-bisa wanita itu di lempar dari sini."


"Iya, lagipula cantikan Bu Stevi kemana-manalah kalau sampai Pak Alex tergoda oleh wanita genit itu, Pak Alex benar-benar keterlaluan."


Begitulah kasak-kusuk para karyawan Alex dan Maya bisa mendengarnya. Para Karyawan memang sudah curiga kepada Maya karena sikapnya seakan-akan menggoda bos mereka.


"Brengsek mereka, berani sekali mereka menyebutku dengan sebutan wanita genit, awas kalian," batin Maya dengan kesalnya.


Alex dan Maya masuk ke dalam ruangan Alex, Alex tampak mengerutkan keningnya saat melihat Maya yang cemberut.


"Kamu kenapa, sayang?" tanya Alex.


"Karyawan kamu menyebalkan semuanya Kak, masa mereka menyebut aku wanita genit padahal mereka tidak tahu saja kalau Kakak adalah pacar aku," kesal Maya.


Alex tersenyum, dia menarik Maya sehingga Maya duduk di pangkuan Alex.


"Kamu yang sabar ya, mungkin mereka akan terus julidin kamu karena mereka tidak tahu yang sebenarnya."


"Makanya Kakak yang tegas dong, supaya mereka tahu kalau sebenarnya aku ini pacar Kakak."


"Untuk sekarang aku belum bisa melakukannya sayang, kamu juga kan tahu bagaimana posisi aku sekarang. Aku sudah menjadi suami Stevi, kamu bisa kan bersabar setidaknya satu tahun ke depan."


"Tapi Kakak harus janji ya, pernikahan Kakak hanya satu tahun saja gak boleh lebih," rengek Maya.


"Iya, aku janji."


Maya tersenyum, perlahan Alex mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Maya. Dalam hitungan detik, bibir keduanya sudah menempel satu sama lain.


Ceklek...


Pintu ruangan Alex terbuka membuat Alex dan Maya menghentikan kegiatannya dan melotot ke arah orang yang saat ini berdiri mematung.


Maya tersenyum penuh kemenangan saat melihat Stevi berdiri di depan pintu dengan wajah terkejutnya.


"Mau ngapain kamu ke sini?" bentak Alex.


"Dasar tidak sopan, buka pintu bukannya ketuk dulu main selonong saja," sinis Maya.


Stevi meremas berkas yang dia pegang, matanya memanas menahan rasa sakit melihat suami dan sahabatnya melakukan hal menjijikan di hadapannya sendiri.


Stevi melangkahkan kakinya menghampiri Alex dan menyerahkan berkas itu kepada Alex.


"Tadi berkas ini ketinggalan di meja makan, bukanya ini materi untuk meeting pagi ini. Maaf sudah mengganggu kesenangan kalian berdua, kalau begitu aku pamit," seru Stevi.

__ADS_1


Stevi pun akhirnya pergi dari ruangan Alex dan dengan cepat masuk ke dalam lift. Di dalam lift, Stevi memukul-mukul dadanya yang tiba-tiba terasa sesak itu.


"Ya Allah, kenapa dadaku sesak dan sakit sekali," batin Stevi dengan deraian air matanya.


__ADS_2