
Perlahan Alex membuka pintu kamar Stevi, terlihat Stevi sedang tertidur dengan lelapnya. Alex berjongkok di hadapan Stevi, dilihatnya wajah, Stevi yang tersirat kesedihan yang sangat luar biasa itu.
Mata Stevi terlihat sembab karena terlalu lama menangis.
"Maafkan aku Stevi, lagi-lagi aku sudah membuatmu marah. Aku tidak bisa menjadi suami yang baik untukmu karena aku selalu melakukan kesalahan yang membuatmu semakin membenciku," gumam Alex.
Alex mengusap kepala Stevi namun sayang Stevi merasakannya dan mulai membuka matanya.
"Maaf, aku sudah mengganggu tidurmu," seru Alex lembut.
Stevi langsung terbangun dan menatap tajam ke arah Alex. "Ngapain kamu di sini? keluar dari kamarku!" bentak Stevi.
"Stevi, tadi malam aku nyariin kamu kenapa kamu pulang sendirian? kenapa kamu tidak bilang sama aku?" seru Alex.
Stevi berdiri di hadapan Alex. "Apa pedulimu sama aku, Kak? yang ada di otak kamu hanya Maya, Maya, dan Maya!" teriak Stevi dengan deraian air matanya.
"Stev, maafkan aku tadi malam Maya mabuk jadi aku menjemputnya karena bagaimana pun itu negara orang dan Maya menjadi tanggung jawabku juga," sahut Alex dengan wajah memelas.
"Makanya jangan sok bilang jatuh cinta kepadaku kalau hati Kakak masih untuk Maya, aku muak denganmu Kak!"
Alex menghampiri Stevi berniat ingin menenangkan Stevi, tapi Stevi semakin histeris dan memukul tubuh Alex.
"Kamu jahat Kak, apa salah aku sama kamu sampai-sampai kamu menghajar mentalku habis-habisan seperti ini!" teriak Stevi histeris.
"Tenang Stev, aku mohon jangan seperti ini karena aku semakin merasa bersalah kepadamu."
"Apa Kakak tahu kalau selama ini aku sangat terluka? secara fisik mungkin aku tidak sakit karena fisik aku lebih kuat daripada yang lain, tapi hatiku sakit Kak, karena hatiku jauh lebih lemah dari siapa pun, apa Kakak tahu itu?" teriak Stevi dengan deraian air matanya.
"Maafkan aku."
"Kenapa Kakak selalu saja meminta maaf? tapi Kakak selalu mengulangi kesalahan yang sama. Kenapa Kakak dan Thomas harus hadir dalam hidupku kalau itu hanya untuk menyakiti aku? Kakak tahu, aku dari semenjak kuliah memendam perasaan kepada Kakak tapi Kakak lebih memilih Maya dan selama ini aku hanya bisa memendamnya. Tapi di saat aku bertemu dengan Thomas, aku sedikit demi sedikit mulai bisa melupakan cinta aku kepada Kakak namun Thomas lagi-lagi menghancurkan hatiku berkeping-keping. Sebenarnya apa mau kalian? punya dendam apa kalian sama aku sampai-sampai kalian menyiksa hatiku seperti ini?" teriak Stevi semakin histeris.
__ADS_1
Stevi kembali memukul tubuh Alex dan Alex hanya bisa diam saja, Alex tidak menyangka kalau perlakuan dia selama ini membuat Stevi sangat hancur. Begitu pula dengan Thomas yang berada di depan pintu kamar Stevi, dia terdiam bahkan saat ini Thomas sampai meneteskan air matanya.
Thomas tidak kuat mendengar tangisan Stevi, dia pun lebih memilih pergi.
"Maaf, maafkan aku," lirih Alex.
Stevi menangis sejadi-jadinya, hatinya saat ini benar-benar sakit.
"Aku adalah wanita yang sudah terbiasa sakit tanpa ada yang menyembuhkan, aku sudah terbiasa kecewa tanpa ada yang menenangkan, dan aku juga sudah terbiasa bersedih tanpa ada yang mau memelukku. Aku selalu diam meskipun ada luka yang ingin bicara, aku juga selalu berusaha tersenyum walaupun setiap hari aku dipeluk oleh air mata bahkan aku harus pura-pura tertawa meski banyak sekali beban yang harus aku pikul. Apa Kakak tahu itu rasanya sangat berat dan aku harus melakukan semua itu di hadapan Papi karena aku tahu penyakit jantungnya sewaktu-waktu akan mengancam nyawanya tapi sekarang apa Kakak lakukan sudah merenggut nyawa Papi," seru Stevi.
Alex membelalakkan matanya. "Maksud kamu apa? aku tidak mengerti," tanya Alex bingung.
Stevi segera mengambil ponselnya dan memperlihatkan foto Alex dan Maya sedang berciuman di dalam bar.
"Itu adalah foto yang Papi lihat sehingga Papi terkena serangan jantung dan akhirnya meninggal," seru Stevi.
Alex sangat terkejut, dia tidak menyangka kalau ada yang mengambil fotonya. Alex hanya bisa pasrah, dia tidak mau membela dirinya sendiri karena dia yakin kalau Stevi tidak akan mempercayainya.
Alex sangat terkejut, dia langsung bersujud di hadapan Stevi.
"Maafkan aku Stev, aku mohon jangan seperti ini. Aku sudah tidak punya perasaan apa-apa lagi kepada Maya dan aku juga sudah mulai sadar kalau aku mencintaimu," seru Alex dengan meneteskan air matanya.
"Sudah terlambat Kak, karena aku sudah mati rasa kepadamu. Jadi sekarang kamu pergi dari sini!" bentak Stevi.
Stevi mulai memegang kepalanya yang sudah terasa berdenyut itu.
"Stevi, aku mohon beri aku kesempatan untuk menunjukan kalau aku benar-benar mencintaimu," seru Alex.
Pandangan Stevi buram hingga akhirnya Stevi jatuh tak sadarkan diri.
"Astaga, Stevi!" teriak Alex.
__ADS_1
Bobby dan Linda terkejut saat mendengar teriakan Alex, mereka langsung berlari menghampiri Alex.
"Astaga, Stevi kenapa?" tanya Mama Linda.
Alex mengangkat tubuh Stevi dan merebahkannya di atas tempat tidur, Linda memanggil Nia dan Nia tampak panik.
"Stevi kenapa?" tanya Mami Nia khawatir.
Alex hanya menundukkan kepalanya, dia tidak menjawab pertanyaan mertuanya itu.
"Nak Alex, sebaiknya kamu dan Stevi berpisah saja," seru Mami Nia.
Kedua orang tua Alex membelalakkan matanya mendengar ucapan besannya itu.
"Mi, Alex mohon beri kesempatan untuk Alex," seru Alex memelas.
"Nak, pernikahan kalian dari awal memang atas dasar paksaan dan segala sesuatu yang atas dasar paksaan tidak akan berjalan dengan mulus jadi daripada kalian menyiksa diri kalian sendiri lebih baik kalian berpisah dan menjalani hidup masing-masing karena Mami yakin, kalau kalian berjodoh kalian akan dipersatukan kembali," seru Mami Nia lembut.
"Maafkan Alex, Mi. Alex belum bisa membahagiakan Stevi."
"Iya Nak, tidak apa-apa."
Alex bangkit dengan lemasnya, dengan langkah gontai Alex pergi dari kamar Stevi dan meninggalkan rumah Stevi.
Bobby dan Linda merasa sangat bersalah, mereka pun meminta maaf atas perlakuan kedua putranya yang sudah menyakiti Stevi. Bobby tidak bisa memaksakan kehendaknya, Bobby sangat menyayangi Stevi tapi Bobby juga tidak berhak menahan Stevi untuk tetap bersama Alex.
"Maafkan kedua putra kita ya Nia, kita harap hubungan silaturahmi kita tidak akan terputus walaupun kita sudah tidak menjadi besan lagi," seru Mama Linda.
"Iya Mbak, kita akan tetap bersaudara," sahut Mami Nia.
Linda dan Nia pun saling berpelukan, mereka sadar kalau selama ini mereka sudah membuat anak-anak mereka menderita satu sama lain.
__ADS_1