
Pesta ulang tahun perusahaan keluarga Brasco berjalan dengan sangat lancar, Alex dan Stevi memutuskan untuk pulang karena sudah tengah malam juga.
Baru saja Alex melajukan mobilnya, Alex pun menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Ternyata di sana sudah ada Maya yang menunggu Alex.
"Kamu pindah ke belakang, karena Maya yang akan duduk di sana," seru Alex.
Tanpa banyak bicara, Stevi pun keluar dari dalam mobil Alex dan berpindah duduk ke jok belakang.
"Barusan gak ada yang melihat kamu kan, sayang?" tanya Alex.
"Aman Kak, tidak ada yang tahu kalau aku masuk ke dalam mobil Kakak," sahut Maya.
Alex pun mulai melajukan mobilnya, Alex dan Maya berbincang-bincang dan tertawa bersama sedangkan Stevi memilih untuk diam dan memalingkan pandangannya keluar jendela.
"Kok, kepala aku pusing banget ini dari tadi gak hilang-hilang," batin Stevi.
Maya terus saja menempel kepada Alex sembari sesekali melirik ke belakang, berharap Stevi akan marah dan cemburu.
"Sayang, aku mau liburan dong," rengek Maya.
"Sayang, untuk saat ini kita tidak mungkin liburan bersama karena kamu tahu kan status aku sekarang apa?" sahut Alex.
"Kita liburannya ke luar negeri saja biar tidak ada yang tahu."
"Iya, nanti aku usahakan."
Stevi pura-pura tidak mendengar, bohong rasanya kalau Stevi tidak cemburu tapi apalah daya Stevi tidak berhak untuk marah.
Hingga beberapa saat kemudian, mobil Alex pun sampai di depan rumah Maya. Lagi-lagi mereka bermesraan di depan Stevi, dan betapa hancurnya hati Stevi diperlakukan seperti itu.
Entah terbuat dari apa hati Stevi, yang jelas Stevi adalah wanita kuat.
"Ya Allah, kuatkan hati hamba jangan sampai hamba lemah di depan mereka," batin Stevi.
"Sayang, kalau begitu aku masuk dulu ya."
"Iya, kamu tidur yang nyenyak sampai jumpa besok."
Maya pun keluar dari dalam mobil Alex dan masuk ke dalam rumahnya, Alex mulai melajukan mobilnya menuju rumahnya. Alex melihat Stevi dari kaca spion, terlihat Stevi tertidur bahkan wajahnya sedikit pucat.
"Kenapa dia? apa dia sakit?" batin Alex.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mereka sampai di rumah. Stevi masih setia memejamkan matanya, Alex bingung harus bagaimana karena dia tidak mau membangunkan Stevi.
__ADS_1
Akhirnya Alex memilih keluar dari dalam mobilnya dan menyuruh Wati untuk membangunkan Stevi.
"Nona bangun."
Stevi mulai membuka matanya. "Sudah sampai? mana Kak Alex?" lirih Stevi.
"Sudah masuk ke dalam kamarnya."
Stevi keluar dari dalam mobil dengan memegang kepalanya yang terasa semakin berdenyut, tubuh Stevi oleng untung ada Wati yang menahannya.
"Nona kenapa?"
"Kepala aku pusing, Bi."
"Ya Allah, badan Nona juga demam. Ayo kita ke kamar nanti Bibi buatkan teh hangat untuk Nona."
Wati memapah Stevi masuk ke dalam kamarnya, lalu Wati setengah berlari menuju dapur dan ternyata di dapur ada Alex yang sedang mengambil air minum.
"Ada apa, Bi?" tanya Alex.
"Itu Tuan, Non Stevi demam dan sekarang Bibi mau bawakan teh hangat dan kompresan juga," sahut Bi Wati.
Alex terdiam sejenak, lalu setelah itu Alex kembali ke kamarnya. Sebenarnya ada rasa ingin melihat kondisi Stevi tapi ego dia terlalu tinggi.
"Bibi tidur saja, ini sudah tengah malam aku gak apa-apa kok," lirih Stevi.
"Tidak Non, Non demam biar Bibi jagain Non malam ini."
Stevi sudah tidak kuat lagi untuk bicara, akhirnya dia membiarkan saja apa mau ARTnya itu. Beberapa saat kemudian, Stevi pun mulai memejamkan matanya mungkin karena efek obat juga.
Sementara itu, Alex tidak bisa tidur entah kenapa dia penasaran sekali dengan keadaan Stevi. Perlahan Alex keluar dari dalam kamarnya dan membuka pintu kamar Stevi dengan sangat hati-hati karena takut Stevi bangun.
Dilihatnya Wati masih setia menunggu Stevi, lalu Alex pun menghampiri Wati.
"Bi, bagaimana keadaan Stevi?" bisik Alex.
"Alhamdulillah demamnya sudah mulai turun dan sekarang Non Stevi sudah tertidur, mungkin efek obat demam," sahut Bi Wati.
"Bibi tidur saja, Stevi biar aku yang jagain."
"Hah, serius Tuan?"
"Serius lah, sejak kapan aku bohong."
__ADS_1
Wati merasa tidak percaya dengan ucapan Alex tapi Wati juga tidak mau membantahnya, hingga akhirnya Wati pun memutuskan untuk pergi.
Alex duduk di kursi samping tempat tidur Stevi, diperhatikannya wajah cantik Stevi yang saat ini terlihat sangat pucat.
"Thomas di mana kamu sekarang? berani sekali kamu kabur meninggalkan Stevi dan akhirnya aku yang harus menanggung semuanya. Karena kelakuan kamu, aku jadi sangat membenci Stevi. Awas saja kalau sampai suatu saat nanti kamu kembali, aku tidak akan mengampunimu," batin Alex.
Stevi menggerakkan tubuhnya membuat Alex panik.
"Thomas, kamu jahat kamu sudah membuat hati aku hancur berkeping-keping. Aku sudah mulai bisa melupakan cintaku kepada Kak Alex tapi kamu malah menyakitiku. Aku benci kamu Thomas, aku benci kamu Kak Alex," lirih Stevi.
Alex sampai membelalakkan matanya mendengar Stevi mengigau seperti itu. Alex tidak menyangka kalau selama ini Stevi mencintainya. Hingga satu jam pun berlalu, Alex sudah mulai mengantuk. Dia melihat Stevi sudah tertidur lelap, Alex pun memutuskan untuk pergi.
***
Keesokan harinya...
"Alex bangun kamu!" teriak Papa Bobby.
Alex yang sedang tertidur lelap tersentak mendengar teriakan Papanya itu.
"Astaga Papa, bagaimana kalau Papa tahu aku dan Stevi tidur terpisah," gumam Alex.
Alex panik, dengan cepat dia melompat dari tempat tidurnya dan segera membuka pintu kamarnya. Alex keluar dan menutup kembali pintu kamarnya karena takut Papanya tahu.
"Ada apa Pa? tumben pagi-pagi sudah ke sini? Mama mana?" tanya Alex gugup.
Bughh...
Tanpa basa-basi Bobby memukul putranya itu dengan sangat kencang sehingga Alex tersungkur ke lantai dengan sudut bibirnya yang berdarah.
"Brengsek kamu Alex, kenapa Papa bisa mempunyai dua putra yang sama-sama brengsek seperti kamu dan Thomas!" bentak Papa Bobby.
"Papa kenapa marah-marah?" tanya Alex bingung.
Bobby menarik tangan Alex dan menyeretnya untuk turun ke bawah, lalu Bobby menghempaskan tubuh Alex.
"Lihat berita di tv!" teriak Papa Bobby.
Alex menoleh ke arah tv, dan betapa terkejutnya Alex saat melihat kelakuan dia dan Maya yang terekam cctv dan entah siapa yang menyebarkannya ke media.
"Itu kamu, kan?" tanya Papa Bobby dengan napas yang memburu saking emosinya.
Alex tidak bisa berkata apa-apa lagi, walaupun gambarnya buram dan tidak terlihat jelas tapi dalam hati Alex mengakui kalau itu dirinya dan Maya.
__ADS_1