
Stevi sudah sampai di Perancis, dia mempunyai sebuah apartemen di sana. Stevi merebahkan tubuhnya di atas kasur, tatapannya lurus ke arah langit-langit kamarnya.
"Mudah-mudahan aku bisa melupakanmu, Kak," batin Stevi.
***
Keesokan harinya...
Alex dan Thomas berniat akan mencari pekerjaan, mereka sudah tidak peduli lagi dan sudah tidak merasa malu yang penting saat ini mereka mendapat pekerjaan.
"Kak, rencananya kamu mau melamar ke mana?" tanya Thomas.
"Entahlah, aku mau melamar ke semua perusahaan saja," sahut Alex.
"Sama, aku juga seperti itu," sambung Thomas.
"Putra-putra Mama, yang semangat ya kerjanya jangan malu dan harus pantang menyerah," seru Mama Linda memberikan semangat.
"Siap, Ma," sahut Alex dan Thomas bersamaan.
Setelah selesai sarapan, kedua pria tampan itu pun menaiki motor masing-masing dan pergi mencari pekerjaan.
Alex memang menjual mobilnya dan dia belikan lagi dua unit motor untuk dirinya dan juga Thomas.
Mereka memasukan surat lamaran ke semua perusahaan, namun sayang hampir semua perusahaan menolak Alex dan Thomas karena mereka tahu siapa mereka dan saat ini berita mengenai mereka sedang viral-viralnya.
"Ya Allah, ternyata begini rasanya mencari pekerjaan. Stevi, kamu sudah sukses menghukumku tapi aku tidak merasa marah karena aku sadar ini semua balasan atas apa yang sudah aku lakukan kepadamu dan anak kita," batin Alex.
Setiap ingat akan anaknya, hati Alex terasa sangat ngilu. Hari sudah sore, dia pun memutuskan untuk pulang ke rumah.
Beberapa saat kemudian, Alex pun sampai di rumah dan bersamaan dengan Thomas yang sama-sama baru pulang juga.
"Bagaimana, apa kamu sudah dapat pekerjaan?" tanya Alex.
"Belum Kak, semuanya tidak mau menerimaku."
"Sama, kasus kemarin berdampak kepada kita semuanya. Sepertinya kita memang harus membuat usaha sendiri," seru Alex.
Kakak beradik itu melangkahkan kakinya dengan gontai masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, eh kalian sudah pulang. Bagaimana, apa kalian dapat pekerjaan?" tanya Mama Linda.
__ADS_1
"Tidak Ma, sepertinya masalah kemarin mempengaruhi semuanya jadi gak ada satu pun perusahaan yang mau menerima kita. Maafkan Alex ya, semua ini gara-gara Alex dan kalian yang harus menanggung semuanya," seru Alex dengan menundukkan kepalanya.
"Sudahlah Kak, jangan terus-terusan menyalahkan diri sendiri. Sekarang kita jalani saja dan sepertinya kita memang harus buat usaha kecil-kecilan," seru Thomas.
"Kalian terlalu menganggap remeh Stevi, walaupun dia wanita tapi Stevi bukan wanita sembarangan. Papa harap, semua ini jadikan pelajaran untuk kalian berdua," seru Papa Bobby.
"Iya, Pa."
Sementara itu, di belahan dunia lainnya Stevi terlihat sangat sibuk karena dia berencana mau mendirikan perusahaan baru maka dari itu Stevi rajin mengikuti seminar dan mulai belajar lebih dalam lagi mengenai bisnis.
Stevi memang sengaja menyibukkan dirinya supaya dia bisa cepat melupakan Alex. Malam ini Stevi masih sibuk dengan pekerjaannya, Nia membawakan susu untuk Stevi.
"Sayang, jangan terlalu sibuk mami tidak mau kalau kamu sampai sakit," seru Mami Nia.
"Mami tenang saja, Stevi kan anak kuat," sahut Stevi dengan masih fokus ke laptopnya.
"Minum dulu susunya."
"Terima kasih, Mi."
Stevi pun meneguk susu yang dibawakan oleh maminya itu, Stevi tersenyum ke arah maminya terlihat sekali kalau maminya saat ini sangat khawatir akan keadaan dirinya.
Stevie menggenggam tangan Nia. "Mami, sejak kecil mami dan papi sudah mendidik Stevi supaya menjadi anak yang mandiri dan kuat, jadi mami jangan khawatir Stevi bisa jaga diri dan kesehatan kok," seru Stevi.
"Siap mami, sebentar lagi Stevi tidur kok," sahut Stevi.
Nia pun keluar dari kamar Stevi, Stevi duduk termenung entah apa yang dipikirkan Stevi. Stevi menghembuskan napasnya dengan kasar, lalu menutup laptopnya.
"Lebih baik sekarang aku tidur sajalah, karena besok banyak sekali pekerjaan yang sudah menungguku," gumam Stevi.
Stevi merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, dan tidak membutuhkan waktu lama akhirnya Stevi pun terlelap.
***
Keesokan harinya...
Alex dan Thomas tidak pergi ke mana-mana, mereka sibuk dengan laptop masing-masing. Kedua pria tampan itu sedang mencari usaha apa yang saat ini sedang digandrungi oleh semua orang.
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan rumah mereka.
"Hai, pengangguran! lagi ngapain kalian?" seru Niko.
"Sialan, gak enak banget panggilannya pengangguran," ketus Thomas.
__ADS_1
"Lah, memang sekarang kalian sudah jadi pengangguran, kan," ledek Niko.
"Kita ikut kerja dong di perusahaan kamu," seru Alex.
"Astaga Kak, kaya yang gak tahu saja perusahaan aku kaya gimana. Perusahaan aku itu kecil gak kaya perusahaan kalian dulu, kalau kalian bekerja di perusahaanku, aku gak sanggup menggaji kalian," sahut Niko.
"Kenapa gak sanggup?" tanya Alex.
"Memangnya aku tega mau menggaji kalian sama dengan karyawan lain? sedangkan aku tahu skill kerja kalian seperti apa?" seru Niko.
"Ya gak apa-apa, sekarang kan kita sudah tidak menjadi bos lagi jadi kamu bebas menggaji kita berapa pun sesuai peraturan perusahaan," sambung Thomas.
"Enggak-enggak, lebih baik aku bantuin kalian buat usaha aja daripada melihat kalian bekerja di perusahaanku karena bagaimana pun dulu kalian sudah sangat baik kepadaku dan aku gak bakalan tega melihat kalian bekerja capek di perusahaanku," sahut Niko.
Alex dan Thomas terdiam, akhirnya ketiga pria tampan itu berdiskusi mengenai usaha apa yang akan Alex dan Thomas dirikan.
Ketiga pria tampan itu kadang tertawa bersama dan kadang berselisih paham juga mengenai usaha yang akan didirikan Alex dan Thomas.
"Ah, susah juga ternyata mencari usaha," gumam Alex dengan mengusap wajahnya.
"Lebih susah dari mencari pekerjaan," sambung Thomas.
"Ah, aku tahu!" teriak Niko.
"Busyet, sampai kaget aku," seru Thomas dengan memegang dadanya.
"Bagaimana kalau kalian buka usaha dalam bidang kuliner? saat ini usaha makanan dan minuman itu yang paling menjanjikan. Apalagi kalau makanan dan minuman yang saat ini sedang viral dan digandrungi anak muda, beuhhh..pasti akan sukses kalian," seru Niko.
"Memang iya?" seru Alex.
"Kalian itu kan pria-pria tampan walaupun ketampanan kalian belum bisa mengalahkan aku sih," ledek Niko.
Thomas menjitak kepala Niko. "Sialan, kamu."
"Terus, bagaimana?" tanya Alex.
"Untuk usaha kecil-kecilan dan pemula seperti kalian, lebih baik kalian jualan di pinggir jalan saja dulu seperti di tempat tongkrongan anak muda gitu," seru Niko.
"Kita mau jualan makanan dan minuman apaan? cara bikinnya aja gak bisa," seru Thomas.
"Kalau soal bikin makanan, kan ada Tante Linda, iya kan Tante."
"Bisa diatur," sahut Mama Linda dengan mengacungkan jempolnya.
__ADS_1
Ketiga pria tampan itu menyunggingkan senyumannya, sebenarnya mereka bisa dengan mudah menggaet pembeli karena wajah tampan ketiganya sudah sangat menjual.