
Alex susah payah menelan salivanya, sungguh saat ini dia bingung harus menjawab apa.
"Kamu sama Thomas sama saja, apa kamu tidak kasihan kepada Stevi? apa wanita itu sekretaris baru kamu!" teriak Papa Bobby.
Lagi-lagi Alex tidak bisa menjawab, bibirnya mendadak membisu.
"Jawab Alex, jangan diam saja!" bentak Papa Bobby.
Sementara itu Linda terduduk di kursi dengan deraian air mata, Linda tidak habis pikir dengan kelakuan kedua putranya itu.
"Kenapa kalian menjadi seperti ini? Mama malu dengan kedua orang tua Stevi, Stevi adalah wanita baik tapi kamu dan Thomas dengan teganya menyakiti Stevi," seru Mama Linda dengan deraian air matanya.
"Ma, Alex mohon jangan nangis."
Alex paling tidak suka membuat Mamanya menangis, apalagi ini adalah untuk pertama kalinya Mamanya menangis dan itu semua gara-gara dirinya.
"Sekarang kamu harus pertanggung jawabkan apa yang sudah kamu lakukan, nama baik perusahaan dan keluarga kita tercoreng gara-gara kelakuan kamu dan Thomas. Dari subuh rekan bisnis Papa banyak yang menghubungi Papa meminta penjelasan mengenai video yang menyebar itu. Dasar anak tidak tahu diri kamu, Alex!" bentak Papa Bobby.
"Pa, itu bukan Alex," dusta Alex.
"Mana buktinya kalau itu bukan kamu? dari fostur tubuh, kelihatan sekali itu kamu."
"Pa, itu videonya buram tidak terlihat sama sekali jadi Papa jangan langsung memutuskan kalau itu aku."
Alex berusaha mengelak, dia benar-benar takut kalau Papanya sudah marah seperti itu.
"Baiklah, kalau itu memang bukan kamu sekarang juga kamu ganti baju dan adakan jumpa pers. Jelaskan kepada semua orang kalau itu bukan kamu karena ini menyangkut nama baik perusahaan dan juga keluarga," geram Papa Bobby.
Alex langsung menuju ke kamarnya untuk mandi dan mengganti bajunya, Alex sungguh sangat bingung entah apa yang harus dia lakukan saat ini.
Sementara itu, Stevi sama sekali tidak terganggu dengan teriakan Papa mertuanya itu mungkin efek obat jadi tidur Stevi sangat nyenyak.
Tidak lama kemudian, Alex sudah siap..
"Mana Stevi?" tanya Mama Linda.
"Stevi masih tidur, mungkin kecapean. Biarkan saja nanti Bi Wati yang akan membangunkannya," sahut Alex gugup.
"Ya sudah, lebih baik sekarang kita pergi ke kantor dan adakan jumpa pers di sana. Syukur-syukur masalahnya beres sebelum Stevi bangun karena kasihan dia," seru Papa Bobby.
__ADS_1
Bobby kembali menyeret Alex, mereka bertiga pergi menuju kantor dan di kantor sudah banyak wartawan yang menunggu.
Sementara itu di kamar Stevi, dia mulai menggerakkan tubuhnya. Demamnya sudah sembuh dan kepalanya juga sudah mendingan tidak sesakit tadi malam.
"Astaga, sudah siang aku telat bangun mana aku belum menyiapkan sarapan lagi," gumam Stevi.
Stevi keluar dari kamarnya dan langsung menuju dapur.
"Non Stevi sudah sembuh?" tanya Bi Wati.
"Alhamdulillah sudah Bi, oh iya aku bangun kesiangan jadi tidak sempat menyiapkan sarapan."
"Tidak apa-apa Non, lagipula Tuan Alex sudah berangkat ke kantor."
"Hah, sudah berangkat?"
"Iya, tadi Tuan besar dan Nyonya besar datang ke sini bahkan Tuan Alex dipukuli dan dimarahi habis-habisan sama Tuan besar."
"Apa? tapi kenapa?" tanya Stevi kaget.
"Bibi kurang tahu, tapi Tuan besar menyalakan tv dan memarahi Tuan Alex."
"Bi, aku mandi dulu ya."
Stevi segera berlari ke kamarnya, dia dengan cepat mandi dan mengganti bajunya. Stevi terburu-buru menuruni anak tangga.
"Aku berangkat dulu, Bi."
"Non, tidak sarapan dulu?"
"Tidak Bi, nanti saja."
Stevi segera masuk ke dalam mobilnya dan mulai melajukan mobilnya menuju kantor Alex.
Sedangkan di perusahaan milik keluarga Brasco, Alex dicecar pertanyaan oleh wartawan dan Alex bingung harus menjawab apa dia hanya bisa berbohong dan memilih bermain aman.
"Kalian salah lihat, itu bukan saya lagipula video itu terlihat buram mana bisa kalian langsung menyimpulkan kalau itu adalah saya?" geram Alex.
"Tapi ada yang melihat kalau jas yang dipakai orang itu sama dengan jas Tuan Alex, bahkan banyak selentingan kalau Tuan Alex selama ini memang bermain api dengan sekretaris anda sendiri, apa itu benar?" tanya salah satu wartawan.
__ADS_1
Bobby dan Linda hanya bisa menundukkan kepalanya, mereka sangat malu dengan kelakuan putranya itu.
"Tidak benar, saya tidak punya hubungan apa-apa dengan sekretaris saya jadi kalian jangan membuat gosip murahan seperti itu," dusta Alex.
"Berarti gosip itu tidak benar?"
"Tidak, semua itu adalah gosip murahan," seru Stevi.
Seketika semua orang menoleh ke arah Stevi, begitu pun dengan Alex dan kedua orang tua Alex yang sangat terkejut dengan kedatangan Stevi.
Stevi maju ke depan dan berdiri di samping Alex.
"Suami saya tidak mungkin mengkhianati saya, karena suami saya sangat mencintai saya. Masalah video itu, saya berani jamin kalau itu bukan suami saya karena tadi malam suami saya tidak memakai jas itu," seru Stevi.
Alex langsung menatap Stevi, dia tidak percaya dengan ucapan Stevi. Stevi mengambil ponselnya dan memperlihatkan foto dirinya dengan Alex yang tadi malam dia ambil di kamar hotel.
"Lihatlah baik-baik, tadi malam suami saya selalu bersama saya dan jas yang suami saya pakai itu tidak sama dengan jas yang di dalam video, jadi bisa disimpulkan kalau itu bukan suami saya!" tegas Stevi.
Semua wartawan mengangguk-ngangguk pertanda mereka percaya dengan ucapan Stevi.
"Kalian sudah tidak penasaran lagi kan? jadi sekarang lebih baik kalian bubar dan jangan membuat gosip murahan sebelum kalian tahu dari sumbernya. Dan saya meminta kepada kalian untuk hapus video itu dan kalau masih ada stasiun tv yang menayangkan berita itu, aku akan laporkan ke polisi," seru Stevi.
Stevi memutuskan untuk pergi dari sana dan Alex langsung menyusul Stevi.
"Tunggu!"
Stevi menghentikan langkahnya. "Ada apa lagi?" tanya Stevi.
"Jadi ini tujuan kamu menyuruh aku ganti baju tadi malam? kamu sudah tahu kan apa yang akan terjadi? makanya kamu melakukan semua ini supaya aku merasa bersalah dan berterima kasih kepadamu," sinis Alex.
Stevi mengerutkan keningnya, Stevi tidak menyangka bukanya berterima kasih, Alex justru menuduh Stevi yang sudah merencanakan semua itu.
Stevi menunjuk-nunjuk dada Alex dengan jari telunjuknya.
"Kenapa pikiran kamu begitu picik Kak? tadi malam aku tidak sengaja melihat Kakak dan Maya sedang melakukan hal yang menjijikan tanpa kalian sadar kalau di sana ada cctv, makanya aku menyuruh Kakak buat ganti baju dan foto bersama karena aku tahu pasti akan menjadi masalah," geram Stevi.
Mata Stevi sudah mulai berkaca-kaca. "Kalau tadi malam aku tidak menolongmu, sudah dipastikan saat ini nama baik perusahaan dan keluarga Kakak akan hancur. Aku sama sekali tidak mengharapkan ucapan terima kasih dari Kakak, tapi setidaknya jangan menuduh aku sembarangan."
Stevi menatap tajam ke arah Alex, lalu Stevi dengan cepat masuk ke dalam mobilnya dan pergi dari kantor Alex. Entah apa yang ada dipikiran Alex, dia selalu berpikiran negatif kepada Stevi.
__ADS_1