DINIKAHI PRIA KEJAM

DINIKAHI PRIA KEJAM
Episode 53 Wanita Kuat


__ADS_3

Linda dan Bobby sangat menyayangi Stevi..


"Apa kamu sudah makan malam, sayang?" tanya Mama Linda.


Stevi menggelengkan kepalanya, Stevi memang belum sempat makan malam tadi karena terburu-buru untuk datang ke rumah Alex.


"Kebetulan sekali, Mama tadi masak banyak jadi sekarang kamu makan dulu ya," seru Mama Linda.


"Ah, tidak udah ma, Stevi pulang saja," sahut Stevi sungkan.


"Kalau kamu tidak mau makan, mama akan marah sama kamu," ancam Mama Linda.


Stevi menoleh ke arah Alex dan Alex tampak tersenyum.


"Ma, Stevi suka lupa makan saking sibuknya bekerja," seru Alex.


"Benarkah? sayang, kamu jangan terlalu sibuk bekerja, kamu juga harus jaga kesehatan kamu. Ayo, pokoknya sekarang kamu harus makan dulu di sini karena mama tidak akan mengizinkan kamu pulang sebelum kamu makan terlebih dahulu," seru Mama Linda.


Akhirnya mau tidak mau Stevi mengalah dan mengikuti langkah Linda ke meja makan. Stevi duduk dan Linda dengan semangatnya mengambilkan nasi dan lauk pauknya untuk Stevi.


"Maaf ya sayang, mama hanya bisa masak masakan sederhana," seru Mama Linda.


Stevi memperhatikan piring di depannya itu, ada nasi, ayam goreng, tahu, dan juga tempe. Mata Stevi kembali berkaca-kaca, dia teringat akan maminya yang sudah meninggal.


"Kenapa diam? kamu gak suka ya, kalau begitu biar mama masakan yang lain dulu."


Linda bangkit dari duduknya tapi Stevi menahannya. "Tidak ma, Stevi suka kok. Stevi hanya ingat saja kepada mami Stevi," seru Stevi dengan deraian air matanya.


"Jangan menangis sayang, kamu masih punya mama dan papa kalau kamu membutuhkan apa pun kamu datang saja ke sini karena selama kami bisa membantu, kami akan siap untuk memberikan bantuan," seru Mama Linda.


Stevi tersenyum, dia pun langsung melahap makanan itu dengan air mata yang terus mengalir di pipinya. Sesekali Stevi tersenyum ke arah Linda dengan mulut penuh makanan.


"Pelan-pelan makannya, sayang."


Alex dan Thomas sampai mengusap ujung matanya yang berair, sungguh mereka sangat merasa bersalah dan sekaligus bangga kepada Stevi karena masih bisa bertahan meskipun dia harus berdiri sendiri di atas kakinya.


Thomas memilih masuk ke dalam kamarnya, dia tidak kuat kalau harus melihat Stevi seperti itu karena bagaimana pun awal penderitaan Stevi akibat ulahnya sendiri.

__ADS_1


Setelah selesai makan, Stevi pun berbincang-bincang bersama Linda dan juga Bobby.


"Kamu benar-benar wanita hebat dan kuat, papa bangga sama kamu Nak."


"Maafkan Stevi, Pa. Stevi sudah membuat perusahaan Papa bangkrut dan kalian harus tinggal di rumah kecil ini," seru Stevi.


"Tidak apa-apa sayang, kami sangat mengerti dengan kemarahan kamu. Kami tidak benci kok sama kamu, justru kami sangat berterima kasih karena berkat kamu, kedua anak Papa bisa merasakan bagaimana rasanya hidup susah," sahut Papa Bobby.


Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 23.00 malam, Stevi pun izin pamit.


"Ya Allah, sudah malam sepertinya Stevi harus pulang dulu," seru Stevi.


"Bagaimana kalau kamu menginap saja di sini, soalnya mama khawatir kalau kamu harus pulang malam-malam begini sendirian mana kamu wanita lagi," seru Mama Linda.


"Alex, kamu antarkan Stevi pulang," seru Papa Bobby.


"Siap, Pa."


"Ah, tidak usah Pa, Stevi bisa pulang sendiri," tolak Stevi.


"Tidak ada bantahan, kamu pulang diantar Alex atau menginap di sini," tegas Papa Bobby.


"Ya sudah, Stevi mau pulang saja."


"Lex, kamu antar Stevi pulang ya," seru Mama Linda.


"Siap, Ma."


"Ma, Pa, Stevi pulang dulu ya."


"Iya sayang, jangan kapok kamu harus sering-sering ke sini," seru Mama Linda.


"Iya, Ma."


Stevi mencium punggung tangan Linda dan juga Bobby.


"Mana kunci mobilnya, biar aku yang bawa," seru Alex.

__ADS_1


Stevi memberikan kuncinya, Stevi masuk ke dalam mobilnya dan duduk dengan diam. Begitu pun Alex yang mulai melajukan mobil milik Stevi.


Selama dalam perjalanan, Stevi tidak bicara sama sekali dan membuang pandangannya ke luar jendela.


"Aku turut berduka cita atas meninggalnya mami Nia, aku sangat salut karena kamu adalah wanita yang hebat dan kuat," seru Alex.


Stevi tersenyum sinis. "Kalau aku tidak kuat, siapa lagi yang akan menguatkanku. Aku sama sekali tidak punya siapa pun untuk dijadikan sandaran jadi aku harus kuat demi diriku sendiri. Kedua orang tuaku yang selalu menguatkanku, kalau tidak ada mereka mungkin dari dulu aku sudah gila akibat ulahmu dan juga Thomas," sahut Stevi.


"Aku tahu perbuatanku di masa lalu sulit untuk dimaafkan, tapi aku juga manusia yang ingin berubah. Kamu tidak tahu kan, betapa hancurnya hatiku saat mendengar anakku harus pergi sebelum melihat dunia ini. Bahkan sampai saat ini aku tidak bisa melupakannya, dan rasa bersalah itu terus menghantuiku. Aku juga menderita Stev," seru Alex dengan bibir yang bergetar.


Stevi menoleh ke arah Alex dan ternyata air mata Alex sudah mengalir di pipinya dan Alex segera menghapusnya.


"Aku sudah membuat istri dan anakku terluka, dan itu adalah kejahatan yang tidak akan pernah termaafkan tapi aku akan tetap berusaha meminta pengampunan darimu karena aku takut jika suatu saat nanti umurku tidak lama lagi dan kamu belum bisa memaafkanku, aku tidak akan bisa tenang."


Deg...


Hati Stevi terasa sangat ngilu, Stevi bisa melihat kesungguhan dan ketulusan dari Alex.


Hingga tidak lama kemudian, mereka pun sampai di depan rumah Stevi.


"Ini kunci mobilmu," seru Alex.


Alex hendak keluar dari dalam mobil Stevi tapi Stevi menghentikannya.


"Kakak pulang mau pakai apa?" tanya Stevi.


"Jangan pikirkan aku, aku bisa pesan taksi," sahut Alex dengan senyumannya.


Stevi memberikan kunci mobilnya kepada Alex. "Pakailah mobilku, besok kamu jemput aku ke sini," sahut Stevi.


Stevi dengan cepat keluar dari dalam mobilnya dan masuk ke dalam rumahnya, sedangkan Alex menyunggingkan senyumannya dia merasa kalau Stevi mulai meresponnya.


*


*


*

__ADS_1


Guys, Altaf dan Alika di off dulu ya soalnya persiapan naskah event belum selesai dan mau tamatin Stevi dan Alex dulu biar tenang☺☺


__ADS_2