DINIKAHI PRIA KEJAM

DINIKAHI PRIA KEJAM
Episode 14 Ulang Tahun Perusahaan


__ADS_3

Dua hari kemudian...


Malam ini adalah malam ulang tahun perusahaan milik keluarga Brasco, semua pemilik perusahaan yang ada di kota itu diundang.


Acara dilaksanakan di sebuah hotel berbintang dan sangat mewah. Alex terus saja melihat jam tangannya sembari berdiri di pinggir mobilnya menunggu Stevi keluar.


"Astaga, wanita itu sedang apa sih? lama banget," kesal Alex.


Sebenarnya Alex tidak mau pergi bersama Stevi tapi dia sadar saat ini dia dan Stevi sudah menikah dan kedua orang tua Alex dan Stevi pasti akan curiga kalau mereka tidak pergi bersama.


Tidak lama kemudian, Stevi pun muncul dengan penampilan dengan sangat cantik. Alex mendongakkan kepalanya, Alex sampai melongo melihat penampilan Stevi bahkan ponselnya hampir saja jatuh tapi Alex tersadar.


"Kamu ngapain saja di dalam? ini sudah terlambat," sentak Alex.


"Maaf Kak, sudah menunggu lama."


Alex langsung masuk ke dalam mobilnya, Alex sedikit melonggarkan dasinya melihat penampilan Stevi yang menurutnya sangat cantik dan anggun itu.


Tidak bisa dipungkiri, sebagai pria normal Alex akui kalau Stevi wanita yang sangat cantik namun perkataan Maya membuat Alex jijik kepada Stevi dan mengira kalau Stevi memanfaatkan kecantikannya untuk menggoda banyak pria.


Stevi pun ikut masuk, Alex mulai melajukan mobilnya.


"Ingat, di tempat pesta nanti kita harus berpura-pura menjadi pasangan suami istri karena aku tidak mau semua orang berpikiran yang buruk terhadapku," seru Alex dingin.


"Kalau Kakak tidak mau semua orang berpikiran buruk mengenai Kakak, Kakak harus jaga sikap. Meskipun Kakak tidak menyukaiku, tapi status kita tetap sebagai suami istri jadi kalau Kakak melakukan hal macam-macam, itu akan berpengaruh dengan nama baik Kakak sendiri," sahut Stevi.


Seketika Alex langsung menghentikan mobilnya membuat Stevi terkejut dan melotot ke arah Alex. Alex langsung mencengkram wajah Stevi dan menatap Stevi dengan tatapan tajamnya.


"Jangan mengajariku, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Justru, kamu yang harus bersikap baik karena kalau semua orang tahu siapa kamu sebenarnya, aku dan keluargaku yang akan menanggung malu karena sudah menikah dengan wanita murahan sepertimu," seru Alex.


Stevi menghempaskan tangan Alex, air mata Stevi kembali menetes tapi Stevi dengan cepat menghapusnya.


"Berhenti menyebutku dengan sebutan wanita murahan, Kakak boleh saja membenciku tapi Kakak tidak berhak menghinaku seperti itu karena asalkan Kakak tahu, kedua orang tuaku mendidik ku dengan sangat baik dan harga diriku sangat aku jaga jadi Kakak jangan menghinaku seperti itu," kesal Stevi.


Alex tersenyum sinis. "Permainanmu sangat rapi sehingga semua orang selalu memujimu sebagai wanita yang sempurna padahal kenyataannya kamu tidak lebih rendah dari sampah!" hardik Alex.


Plaaakk...


Stevi menampar Alex dengan sangat keras membuat Alex emosi dan kembali mencengkram lengan Stevi dengan sangat kencang.


"Lepaskan Kak, sakit."


"Berani sekali kamu menamparku!"

__ADS_1


"Lepaskan dan turunkan aku di sini saja," seru Stevi dengan deraian air mata.


Alex dengan cepat mengunci mobilnya. "Jangan harap kamu bisa lepas dariku, Stevi. Kamu sudah memulai permainanmu jadi kamu sendiri yang harus menyelesaikannya."


Alex menghempaskan tubuh Stevi, lalu dengan emosi Alex kembali melajukan mobilnya. Tidak membutuhkan waktu lama, mereka pun sampai di hotel.


Stevi merapikan dandanannya, dia tidak mau sampai kedua orang tuanya melihat matanya sembab. Setelah selesai, Alex keluar dari dalam mobilnya dan menunggu Stevi.


Setelah Stevi keluar, Alex dengan kasarnya menarik tangan Stevi dan memaksa Stevi untuk merangkul lengannya.


"Tersenyumlah, jangan membuat semua wartawan mencurigai raut wajah kamu yang sedih seperti itu," seru Alex dingin.


Stevi pun mulai menyunggingkan senyumannya walaupun terlihat terpaksa dan ternyata benar saja, para wartawan langsung menyerbu Alex dan Stevi. Mereka berlomba-lomba mengambil foto Alex dan Stevi, Alex yang tidak suka di foto memilih menerobos para wartawan itu.


"Selamat malam Pak, Bu," sapa Maya dengan senyumannya.


Maya memang bersikap formal karena di sana ada kedua orang tua Alex dan juga Stevi.


"Akhirnya kalian sampai juga, kami pikir kalian gak bakalan datang," seru Mami Nia.


"Maaf, tadi Stevi dandannya kelamaan jadi telat," sahut Stevi.


"Masya Allah, kamu cantik sekali sayang," seru Mama Linda.


"Terima kasih, Ma."


Semuanya maju ke depan, Maya terlihat sangat kesal dan cemburu. Bobby mulai memperkenalkan Stevi sebagai menantunya dan kamera para wartawan berlomba untuk mengambil foto Alex dan Stevi.


Para rekan bisnis dari kedua keluarga banyak yang iri karena mereka sudah lama ingin menjodohkan anak-anaknya dengan Stevi dan itu membuat Maya semakin marah dan memilih pergi keluar dari ruangan itu.


Alex yang melihat Maya pergi menjadi panik. "Maaf, permisi saya mau ke toilet dulu," seru Alex.


Tanpa menunggu lagi, Alex segera pergi berlari menyusul Maya. Alex celingukan, dirasa tidak ada siapa-siapa, Alex dengan cepat menarik tangan Maya dan membawanya ke lorong-lorong menuju toilet.


"Kamu mau ke mana?" tanya Alex.


"Memangnya Kakak pikir aku harus diam saja saat melihat kemesraan Kakak dengan Stevi? kenapa Kakak tidak bisa menjaga perasaan aku?" seru Maya dengan kesalnya.


"Aku tidak bisa berbuat apa-apa sayang, kalau aku tidak pura-pura mesra semuanya akan curiga."


"Tapi aku gak suka, Kakak mesra-mesraan kaya gitu."


"Maafkan aku sayang, tapi kamu jangan khawatir karena cinta aku hanya untukmu dengan Stevi hanya pura-pura saja supaya tidak ada yang curiga," sahut Alex.

__ADS_1


"Aku cemburu, Kak."


Alex mendekatkan wajahnya dan dalam hitungan detik, bibir keduanya kembali menempel. Alex tidak sadar kalau di sana ada cctv dan kalau Papanya sampai tahu, Alex bisa dalam bahaya.


Setelah cukup lama Alex dan Maya melakukan sesuatu, Alex pun merasa sangat tenang karena Maya sudah mulai mengerti.


"Aku mohon untuk malam ini kamu harus ngertiin aku ya," seru Alex.


Maya menganggukkan kepalanya, Alex pun mengajak Maya untuk pergi dari sana. Selain cctv, mereka juga tidak sadar kalau dari tadi Stevi mengintip dan tahu apa yang mereka lakukan.


Alex kembali berbaur dengan para rekan bisnisnya, Alex celingukan mencari keberadaan Stevi.


"Astaga, wanita itu ke mana?" batin Alex.


Di saat Alex sedang mencari keberadaan Stevi, tiba-tiba Stevi menarik tangan Alex dan membawa Alex keluar dari ruangan pesta.


"Kamu apa-apaan narik-natik aku?" sentak Alex.


"Ikut saja, ada yang harus aku katakan kepadamu," sahut Stevi.


Stevi membawa Alex masuk ke sebuah kamar hotel, tapi Alex menolaknya.


"Mau ngapain masuk ke dalam kamar hotel?" tanya Alex.


"Masuk saja, Kakak jangan khawatir aku tidak akan melakukan hal yang menjijikan kepada Kakak."


Akhirnya Alex pun menurut dan masuk ke kamar hotel itu. Stevi mengambil satu stel jas baru dan menyerahkan kepada Alex.


"Ganti jas Kakak dengan ini," seru Stevi.


"Buat apa? kamu jangan sok-sok ngatur aku," kesal Alex.


"Ini demi kebaikan nama Kakak dan keluarga Kakak, karena kalau Kakak tidak mengganti jas itu, aku takut esok hari semua orang akan menghujatmu."


"Maksud kamu apa?"


"Sudahlah, ikuti saja perkataan ku."


Stevi duduk di sofa, sedangkan Alex merasa masih sangat bingung dengan apa yang disuruh oleh Stevi tapi Alex akhirnya menuruti perkataan Stevi walaupun dalam hatinya Alex masih bertanya-tanya.


Beberapa saat kemudian, Alex keluar dan sudah mengganti jasnya. Stevi menghampiri Alex dan tanpa basa-basi mengajak Alex untuk berswa foto. Alex sedikit terkejut karena posisi Stevi sangat dekat dengannya dan itu membuat jantung Alex berdegup sangat kencang.


"Sudah aman, sekarang lebih baik kita kembali ke tempat pesta," seru Stevi.

__ADS_1


Stevi dengan cepat keluar dari kamar hotel itu meninggalkan Alex, sedangkan Alex masih terdiam terpaku.


"Dasar wanita aneh," gumam Alex.


__ADS_2