DINIKAHI PRIA KEJAM

DINIKAHI PRIA KEJAM
Episode 49 Bos Cantik Yang Dingin


__ADS_3

Stevi masuk ke dalam ruangannya diikuti oleh Jhon dan juga Alex.


"Oh iya Stev, aku belum kenalin kamu sama asisten pribadi aku. Ini namanya Alex, sumpah kerjanya sangat bagus dan dia juga orangnya pinter malah kadang-kadang lebih pintar daripada aku," seru Jhon.


Stevi malah sibuk dengan berkas-berkas yang dia lihat, Stevi sama sekali tidak mau melihat wajah Alex.


"Jadi jika nanti aku gak ada di kantor, kamu bisa tanya-tanya kepada Alex bahkan kalau kamu mau, Alex bisa juga merangkap jadi asisten pribadi kamu," sambung Jhon.


Stevi terdiam lalu menatap tajam ke arah Jhon. "Bawel banget jadi orang, kamu pikir aku bodoh? aku tidak perlu bantuan siapapun, aku bisa mengerjakannya sendiri jadi aku sama sekali tidak butuh asisten pribadi. Aku trauma dengan asisten pribadi, soalnya dulu aku pernah mempunyai asisten pribadi yang aku anggap baik tapi ternyata menikam aku dari belakang," seru Stevi dingin.


Alex menatap Stevi, dia paham sekali siapa yang Stevi bicarakan.


"Aku mau memeriksa berkas-berkas ini, jadi lebih baik kalian keluar dari ruangan ku," tegas Stevi.


"Oke."


Jhon memberi kode supaya Alex mengikutinya untuk pergi dari ruangan Stevi. Jhon masuk ke dalam ruangannya dan diikuti oleh Alex.


"Stevi memang seperti itu Lex, dia selalu bersikap dingin bahkan selama tiga tahun ini aku sudah gak kehitung nembak dia tapi dia terus saja menolak ku. Menurutmu apa kekuranganku? sampai-sampai Stevi sama sekali tidak mau melirikku? padahal diluaran sana, semua wanita berlomba ingin menjadi kekasihku," seru Jhon dengan mengusap wajahnya kasar.


"Aku tidak tahu Pak, soalnya kalau masalah perasaan aku sama sekali tidak mengerti," sahut Alex.


"Oh iya, apa kamu pernah pacaran?" tanya Jhon.


"Bukan pacaran lagi Pak, tapi aku pernah menikah juga tapi usia pernikahan aku hanya beberapa bulan saja," sahut Alex dengan tatapan menerawang.


"Hah, maksud kamu jadi kamu seorang duda?"


"Iya, Pak."


"Astaga, kamu sama sekali tidak terlihat seperti duda. Padahal kamu tampan, tapi kenapa kamu bercerai? itu wanita memang tidak bersyukur mempunyai suami seperti kamu," seru Jhon.


Alex tersenyum kecut. "Lebih tepatnya sebaliknya, Pak."


"Maksud kamu apa?" tanya Jhon bingung.


"Sebenarnya yang tidak bersyukur itu aku bukan dia, aku sudah terlalu banyak menyakiti hatinya maka dari itu dia memilih pergi karena mungkin dia sudah lelah menghadapi sikapku," sahut Alex dengan wajah yang terlihat sedih.


Jhon terdiam, terlihat sekali Alex sangat menyesal.


"Apa kamu masih mencintai mantan istrimu?" tanya Jhon.


"Sangat, aku sangat mencintainya Pak. Bahkan aku rela menduda lama demi menunggu dia dan sekarang aku putuskan untuk mendekati dia lagi dan berusaha mendapatkan hatinya lagi," sahut Alex.

__ADS_1


Jhon tersenyum. "Bagus Lex, pria sejati itu tidak boleh menyerah harus buktikan kalau sekarang kamu sudah berubah."


"Iya, Pak."


Jhon tidak tahu kalau mantan istri Alex adalah Stevi, wanita yang sudah lama dia cintai.


***


Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, tinggal beberapa menit lagi jam istirahat.


Tok..tok..tok..


"Masuk!"


"Maaf Pak, barusan pihak investor dari Jepang menghubungi saya katanya beliau ingin bertemu dengan Bapak sekarang juga karena beliau satu jam lagi mau kembali ke Jepang jadi pertemuannya mendadak sekali," seru Alex.


"Tapi sebentar lagi jam istirahat Lex, tidak bisakah diundur sampai waktu jam istirahat selesai?" tanya Jhon.


"Tidak bisa Pak, kalau Bapak mengundur waktu bisa-bisa beliau membatalkan investasinya."


Jhon terdiam sejenak, mau tidak mau Jhon harus pergi walaupun saat ini dia ingin sekali makan siang bersama Stevi.


Akhirnya Jhon pun bangkit dan memakai jasnya. "Kamu diam saja di sini, biar aku sendiri yang menemui investor dari Jepang itu," seru Jhon.


"Yakin Bapak mau berangkat sendiri?" tanya Alex memastikan.


"Baik, Pak."


"Kalau begitu aku pergi dulu."


Jhon pun pergi meninggalkan kantor, sedangkan Alex segera memesankan makanan lewat go food untuk Stevi.


Alex menunggu di lobi dan tidak membutuhkan waktu lama kurir go food pun datang.


"Kembaliannya untuk Mas saja," seru Alex.


"Terima kasih, Pak."


Alex dengan cepat melangkahkan kakinya menuju ruangan Stevi, sesampainya di depan pintu ruangan Stevi, Alex tampak menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan.


"Mudah-mudahan Stevi tidak mengusirku," batin Alex.


Tok..tok..tok..

__ADS_1


"Masuk!"


Dengan perasaan gugup, perlahan Alex membuka pintunya. Stevi sudah tahu kalau itu adalah Alex karena Stevi bisa mencium dari parfum yang Alex gunakan masih sama seperti dulu.


"Maaf Bu, ini saya disuruh Pak Jhon untuk mengantarkan makan siang ini," seru Alex.


"Simpan saja di meja," sahut Stevi tanpa melihat sedikit pun ke arah Alex.


Alex menyimpan makanan itu, lalu dia berdiri di hadapan Stevi. Alex memperhatikan Stevi, rasa rindu yang bertahun-tahun dia pendam akhirnya bisa terobati hanya dengan melihat wajah Stevi saja.


"Semakin dewasa kamu semakin cantik, Stev," batin Alex.


Stevi sadar, kalau saat ini Alex sedang memperhatikannya dan jantung Stevi sudah mulai tidak aman tapi Stevi berusaha tenang.


"Ada apa lagi? kalau tidak ada lagi, lebih baik sekarang kamu keluar dari ruangan aku," seru Stevi dengan masih tidak mau melihat wajah Alex.


"Stevi, apa kamu masih marah sama aku?" tanya Alex.


"Panggil aku Bu, kamu adalah bawahanku jangan kurang ajar kamu, bersikaplah sopan," bentak Stevi.


"Ah, maaf Bu."


"Pergi, aku sedang banyak pekerjaan."


"Baiklah."


Alex pun memilih pergi, dia tidak mau membuat Stevi tambah marah dan benar saja dugaannya selama ini, walaupun sudah 3 tahun berlalu nyatanya Stevi masih marah kepadanya.


Stevi menghentikan pekerjaannya dan menatap pintu lalu menghembuskan napasnya kasar.


"Argh..menyebalkan, kenapa aku sampai sekarang tidak bisa melupakan dia," batin Stevi.


Tidak tahu kenapa Stevi masih belum bisa melupakan Alex, ternyata sedalam itukah rasa cinta Stevi kepada Alex.


Alex melangkahkan kakinya dengan gontai, sungguh dia tidak tahu kalau Stevi begitu dendam kepadanya.


"Ternyata luka yang aku berikan kepadanya terlalu dalam sehingga dia tidak bisa memaafkanku," batin Alex.


"Eh, bos baru kita itu memang cantik ya tapi sayangnya dingin dan sombong."


"Iya, sepertinya dia juga sulit untuk tersenyum."


"Makanya kita harus bekerja yang benar biar tidak dimarahi olehnya, sumpah aku bisa pingsan jika harus berhadapan langsung dengannya."

__ADS_1


Itulah celetukan-celetukan para karyawan wanita yang Alex dengar, mereka sangat takut kepada Stevi.


"Aku harus bisa meluluhkan hati Stevi, bagaimana pun caranya," batin Alex.


__ADS_2