
Keesokan harinya...
Stevi dan maminya sudah siap-siap karena pagi ini juga mereka akan pergi ke Perancis dan entah sampai kapan mereka akan menetap di sana.
"Bi, tolong jaga rumah ini baik-baik ya. Pokoknya saya nitip rumah ini," seru Mami Nia.
"Baik, Nyonya. Semoga Nyonya dan Nona sehat-sehat di sana dan cepat kembali ke sini lagi," seru Bi Ratih.
"Amin, iya Bi nanti pasti kita akan kembali ke sini tapi tidak tahu kapan," sahut Mami Nia.
Stevi sudah menunggu di dalam mobil, entah kenapa Stevi berat sekali meninggalkan Indonesia tapi Stevi harus kuat, karena dia berniat ingin melupakan Alex.
Melihat maminya hendak masuk ke dalam mobil, Stevi pun dengan cepat menghapus air matanya.
"Kamu tidak apa-apa kan, sayang?" tanya Mami Nia.
"Tidak Mi, Stevi baik-baik saja. Pak, jalan."
"Baik, Non."
Sopir pun mulai melajukan mobilnya meninggalkan rumah, beberapa saat kemudia Alex sampai di rumah Stevi dengan menggunakan taksi.
Alex tidak ingin apa-apa, dia hanya ingin meminta maaf lagi dan berharap Stevi mau memaafkannya supaya hidupnya tenang tidak dihantui oleh rasa bersalah.
Alex berdiri di hadapan rumah Stevi. "Mudah-mudahan, kali ini Stevi mau memaafkanku," batin Alex.
Bi Ratih yang hendak masuk kembali menghentikan langkahnya saat melihat Alex ada di depan gerbang. Bi Ratih dengan cepat menghampiri Alex.
"Mas Alex."
"Bi, aku mau bertemu dengan Stevi," seru Alex.
"Owalah, Mas Alex terlambat baru saja Non Stevi dan Nyonya Nia pergi."
"Pergi ke mana?" tanya Alex.
"Memangnya Mas Alex tidak tahu? mereka mau pergi ke Perancis Mas, dan tidak tahu akan kembali lagi kapan."
"Apa? ka-kapan mereka pergi?"
"Baru saja, Mas."
"Ya sudah, aku pergi dulu Bi."
Alex dengan cepat masuk kembali ke dalam taksi, dia berencana mau menyusul Stevi.
"Ya Allah, mudah-mudahan saja aku bisa mengejar Stevi," batin Alex.
__ADS_1
Stevi dan Nia sampai di Bandara, mereka duduk sebentar karena keberangkatan masih dua puluh menit lagi.
"Mi, Stevi beli kopi dulu ya."
"Iya, sayang."
Sementara itu Alex terjebak macet. "Ah, sial mana pakai macet segala lagi," kesal Alex.
Cukup lama Alex terjebak macet, hingga akhirnya Alex pun sampai di Bandara. Alex segera keluar dari dalam taksi dan berlari masuk Bandara, Alex mencari-cari keberadaan Stevi.
"Stevi, aku mohon kamu jangan pergi. Aku hanya ingin meminta maaf," batin Alex sembari celingukan mencari keberadaan Stevi.
Setelah mencari ke mana-mana, Alex sama sekali tidak menemukan Stevi. Alex pun melihat ternyata keberangkatan menuju Perancis sudah take off dua menit yang lalu.
Lemas sudah, Alex sama sekali tidak sempat bertemu dengan Stevi.
"Stevi, maafkan aku. Asalkan kamu tahu, aku sangat mencintaimu," gumam Alex.
Stevi menatap ke arah jendela, air matanya kembali menetes tapi Stevi dengan cepat menghapusnya karena takut maminya tahu.
"Biarlah jalur langit yang memutuskannya. Ya Allah, jika dia bukan ditakdirkan menjadi jodohku maka aku minta jangan pertemukan aku lagi dengannya untuk selamanya, tapi jika memang dia adalah jodohku maka suatu saat nanti kita akan bertemu kembali," batin Stevi.
Alex pulang dengan perasaan yang sangat sedih, entah kenapa hatinya begitu sakit.
"Ada apa?" tanya Thomas.
"Pergi, pergi ke mana?"
"Perancis."
"Apa?"
"Kata Bi Ratih, Stevi akan pergi dalam jangka waktu yang lama dan tidak tahu akan kembali lagi kapan," seru Alex lemas.
Thomas duduk di samping Alex. "Kak, apa Kakak mencintai Stevi?" tanya Thomas.
Alex menatap adiknya itu. "Jujur, aku sangat mencintai Stevi. Aku juga tidak tahu kapan perasaan itu muncul, yang jelas ada perasaan sakit dan tidak ikhlas dihatiku saat Stevi membenciku," sahut Alex.
Thomas menepuk pundak Alex dan tersenyum. "Aku yakin, kalau kalian berjodoh pasti kalian akan dipertemukan lagi."
"Apa kamu juga mencintai Stevi?" tanya Alex.
"Kalau aku jelas dari awal memang mencintai Stevi, tapi aku sadar kalau aku hanya dijadikan pelarian semata oleh Stevi karena aku tahu kalau Stevi selama ini mencintai Kakak."
"Aku menyesal sudah menyia-nyiakan Stevi, dan rasa bersalah ini akan terus menghantuiku."
"Sabarlah, aku yakin Stevi akan kembali dan jika saat itu tiba, Kakak harus bisa membuktikan kalau Kakak benar-benar mencintai Stevi," seru Thomas.
__ADS_1
"Pasti, aku akan membuktikan kepada Stevi."
Thomas tersenyum, lalu Alex memeluk adiknya itu. Thomas sudah bisa merelakan Stevi untuk kakaknya, karena memang pada dasarnya Stevi mencintai Alex bukan dirinya.
***
Malam pun tiba...
Bobby sudah kembali ke rumah, saat ini mereka tinggal di sebuah rumah yang tidak terlalu besar karena mereka harus menabung uang untuk membuka usaha baru walaupun kecil-kecilan.
Tok..tok..tok..
"Lex, apa Mama boleh masuk!"
"Masuk saja, Ma."
Linda pun masuk ke dalam kamar Alex, terlihat Alex duduk selonjoran di lantai dengan menyandarkan punggungnya ke ranjang.
"Kamu kenapa, Nak?" tanya Mama Linda.
"Ma, aku bisa gila kalau terus-terusan seperti ini," sahut Alex dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kenapa Lex, ada apa?" tanya Mama Linda panik.
"Apa ini? dada Alex begitu sakit, Ma," sahut Alex dengan memukul-mukul dadanya sendiri bahkan saat ini air mata Alex sudah menetes.
"Ada apa sebenarnya, Lex? bicara sama Mama."
"Alex tidak sanggup hidup lagi Ma, Alex benar-benar sudah berdosa karena sudah membuat Stevi pergi dan terluka bahkan Alex juga sudah membunuh anak Alex sendiri. Alex sudah berusaha untuk bisa menerima semua ini, tapi Alex selalu dihantui rasa bersalah. Sekarang Alex harus bagaimana, Ma?" seru Alex dengan tangisannya.
Alex terus memukul-mukul dadanya membuat Linda ikut menangis dan memeluk putranya itu.
"Mama tahu kamu sudah melakukan kesalahan besar, tapi mama yakin kalau Stevi akan memaafkan kamu karena mama tahu kalau Stevi adalah wanita yang baik," seru Mama Linda.
"Alex tidak bisa meminta maaf kepada Stevi karena Stevi sudah pergi, Ma."
"Apa? pergi ke mana?"
"Stevi tadi pagi sudah pergi ke Perancis dan Alex tidak tahu kapan dia kembali lagi ke sini, hati Alex sakit sekali, Ma."
"Ya Allah Alex, jangan begini mama ikut sakit kalau melihat kamu seperti ini. Bersabarlah dan ikhlas, Mama yakin kalau kalian berjodoh pasti Allah akan mempertemukan kalian kembali."
"Tapi bagaimana kalau Stevi tidak kembali? Alex tidak sanggup kehilangan Stevi, Alex mencintai Stevi, Ma. Alex memang suami dan papa yang buruk, tapi Alex tidak mau bercerai dengan Stevi. Belum juga Alex membuktikan kepada Stevi tapi Stevi sudah pergi meninggalkan Alex, Alex tidak sanggup Ma," seru Alex sesenggukan.
Linda semakin mengeratkan pelukannya sebagai seorang ibu, hatinya ikut hancur melihat anaknya seperti itu tapi mau bagaimana lagi, semuanya akibat kelakuan anaknya sendiri.
Linda cuma bisa berdo'a supaya Alex dan Stevi masih bisa berjodoh. Setelah cukup lama menangis, Alex pun merebahkan tubuhnya di atas kasur.
__ADS_1
Air matanya kembali menetes. "Aku sangat mencintaimu, Stevi."