DINIKAHI PRIA KEJAM

DINIKAHI PRIA KEJAM
Episode 29 Melakukan Perjalanan Bisnis


__ADS_3

Alex yang sedang fokus bekerja merasa kaget saat pintu ruangannya dibuka dengan kasar.


"Kak, kenapa akhir-akhir ini Kakak berubah tidak seperti dulu lagi?" kesal Maya.


"Astaga Maya, jangan membuat aku tambah pusing saat ini aku sedang banyak pekerjaan dan kamu bukanya membantu malah makin membuat aku pusing," geram Alex.


"Kak, Kakak sangat berubah bahkan sudah dua Minggu ini Kakak tidak mau mengantarkan ku pulang, Kakak hanya bikin aku kesal saja," rengek Maya.


"Kalau kamu sudah kesal sama aku, lebih baik kita akhiri saja hubungan kita," seru Alex.


Maya membelalakkan matanya, dia sangat terkejut dengan ucapan Alex. Biasanya kalau dia sedang kesal itu, Alex akan membujuknya tapi sekarang bukanya membujuk, Alex justru malah ingin putus dengannya.


"Tidak, aku tidak mau putus dengan Kak Alex kalau aku putus dengannya bisa-bisa aku sengsara," batin Maya.


Maya pun langsung berubah, dia menghampiri Alex dan mengusap punggung Alex dengan lembut.


"Sayang, maafkan aku karena aku sudah marah-marah sama kamu," seru Maya dengan rayuannya.


Alex mendengus kesal. "Kamu itu harus mengerti dong, bagaimana posisi aku sekarang bukanya malah nuntut ini dan itu," kesal Alex.


"Iya, maafkan aku sayang."


Entah kenapa Alex sudah hilang rasa kepada Maya, cintanya yang dulu menggebu-gebu tiba-tiba saja hilang justru sekarang malah sebaliknya, Alex sangat bersemangat untuk mendekati Stevi.


Pintu ruangan Alex terbuka, dan Thomas tampak menatap tajam ke arah Alex yang saat ini sedang dipeluk oleh Maya.


"Apa-apaan ini? ini kantor bukan tempat bermesra-mesraan?" geram Thomas.


Alex melepaskan pelukan Maya. "Kamu kembali bekerja."


"Baik, Kak."


Maya pun melenggak-lenggok berjalan meninggalkan ruangan Alex. Thomas melempar berkas ke hadapan Kakaknya itu.


"Tanda tangani berkas itu," seru Thomas.


"Apa kamu tidak punya sopan santun?" bentak Alex.

__ADS_1


"Sudahlah jangan banyak bicara, cepat tanda tangani berkas itu karena aku tidak mau lama-lama berada di tempat mesum ini," sindir Thomas.


Alex bangkit dari duduknya dan menghampiri Thomas, lalu mencengkram baju Thomas.


"Apa maksud kamu bicara seperti itu?" geram Alex.


"Dari awal aku sudah curiga kalau Kakak selingkuh dengan mantan asisten Stevi, seharusnya kalau Kakak tidak mencintai Stevi maka ceraikan dia biar aku kembali dengan Stevi," seru Thomas.


"Jangan mimpi, aku tidak akan pernah menceraikan Stevi," sahut Alex.


"Kenapa? apa Kakak belum puas menyakiti Stevi? apa Kakak mau terus-terusan membuat Stevi menderita?" bentak Thomas.


Bughh..


Alex memukul Thomas. "Jangan sembarangan kalau ngomong, aku tidak akan pernah menceraikan Stevi karena saat ini aku sadar kalau aku sudah mulai jatuh cinta kepada Stevi," sahut Alex.


Thomas emosi dan membalas pukulan Alex. "Brengsek, apa Kakak tidak punya otak? sekarang bilang jatuh cinta kepada Stevi, tapi barusan apa yang kamu lakukan bersama Maya? jangan maruk jadi orang, kalau pria itu harus gentle pilih salah satu wanita bukannya mau dua-duanya!" bentak Thomas.


Alex segera bangkit dan kembali memukul Thomas. "Aku sudah tidak ada rasa kepada Maya, aku akan memutuskan hubunganku dengannya. Lagipula asalkan kamu tahu aku sudah merenggut kesucian Stevi jadi aku takut Stevi hamil dan aku harus tanggung jawab atas semua itu makanya aku tidak akan pernah menceraikan Stevi walaupun Stevi menginginkannya," seru Alex.


Thomas membelalakkan matanya, dia tidak menyangka kalau Alex sudah melakukan itu kepada Stevi. Begitu pun dengan Maya, yang dari tadi menguping di balik pintu.


Thomas bangkit dan mendorong tubuh Kakaknya itu, tanpa bicara sepatah katapun Thomas keluar dari ruangan Alex. Hati Thomas benar-benar sangat sakit mengetahui kenyataan itu, saking sakitnya Thomas sampai meneteskan air matanya.


"Semua ini gara-gara orang yang mengirimkan foto itu, aku harus cari tahu siapa dia karena gara-gara dia mengirimkan foto editan itu aku jadi meninggalkan Stevi," batin Thomas dengan mengepalkan tangannya.


***


Dua Minggu kemudian...


Hari ini adalah hari keberangkatan Alex, Thomas, Stevi, dan juga Maya ke Singapura. Mereka sudah sampai di Bandara dan sedang menunggu keberangkatan, Stevi duduk dengan mengotak-ngatik ponselnya.


Alex dan Thomas secara bersamaan memberikan minuman botol kepada Stevi membuat Maya kesal.


"Minum dulu, Stev," seru Alex dan Thomas bersamaan.


Stevi mendongakkan kepalanya. "Aku tidak minum minuman seperti itu," seru Stevi dingin.

__ADS_1


"Ya sudah, kamu mau minum apa biar aku belikan," seru Alex.


"Apa kamu mau makan sesuatu? soalnya masih ada waktu lima belas menit lagi untuk keberangkatan," seru Thomas.


"Aku tidak mau minum ataupun makan, jadi lebih baik kalian diam saja tidak usah bawel aku pusing," ketus Stevi.


Maya menghentak-hentakan kakinya merasa tidak ada yang peduli kepadanya.


Hingga lima belas menit kemudian, mereka pun masuk ke dalam pesawat. Stevi duduk bersama Stevi sedangkan Thomas bersama Maya, Alex memang sudah mengaturnya sejak awal.


Stevi mengusap perutnya. "Kamu harus kuat ya Nak, meskipun kata dokter kita tidak boleh bepergian jauh dulu tapi ini urusan penting dan Mommy tidak bisa mewakilkannya karena ini menyangkut perusahaan Mommy juga jadi kamu harus kuat ya sayang, demi Mommy," batin Stevi.


"Menyebalkan sekali, awas kamu Stevi," batin Maya.


"Brengsek kamu Kak, bisa-bisanya kamu mengatur semuanya supaya Stevi duduk di samping kamu. Walaupun kamu sudah merenggut mahkota Stevi, aku tidak peduli karena pasti kamu sudah memaksa Stevi. Aku akan tetap merebut kembali Stevi darimu," batin Thomas.


Pesawat pun akhirnya take off, Stevi melihat ke arah jendela sedangkan Alex memperhatikan Stevi dengan seksama.


"Walaupun kamu sangat membenci aku Stev, aku akan berusaha meluluhkan hatimu," batin Alex.


Kurang lebih dua jam sudah mereka melakukan perjalanan, hingga akhirnya pesawat yang mereka tumpangi pun landing. Tanpa sadar, selama dalam perjalanan Stevi tertidur ke pundak Alex.


"Stev, bangun sudah sampai," seru Alex dengan menepuk pelan pipi Stevi.


Stevi mulai membuka matanya dan kaget saat tahu kalau dirinya tidur di pundak Alex, Stevi segera bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Alex. Berbeda dengan Alex yang tersenyum bahagia.


Turun dari pesawat, perut Stevi terasa sangat mual dia ingin sekali muntah hingga Stevi berlari meninggalkan ketiganya dan membuat Alex dan Thomas mengerutkan keningnya.


"Stevi kenapa?" gumam Alex.


Alex menyerahkan kopernya kepada Maya. "Titip koper aku."


"Kakak mau ke mana?" teriak Maya.


"Mau nyusul Stevi."


"Ah, lagi-lagi aku kalah cepat," batin Thomas dengan kesalnya.

__ADS_1


"Astaga, Stevi lagi-Stevi lagi kenapa sekarang dia berubah jadi ratu drama," batin Maya.


Alex menyusul Stevi dan ternyata Stevi masuk ke dalam toilet, Alex tidak bisa masuk karena itu toilet wanita jadi terpaksa Alex menunggu Stevi di luar.


__ADS_2