
Dua hari pun berlalu dan Stevi masih setia menutup matanya.
"Stev, bangun Stev. Aku janji, kalau sampai kamu sadar, aku akan mengabulkan apa pun permintaan kamu," seru Alex dengan menggenggam tangan Stevi.
Tidak lama kemudian, tangan yang sedang digenggam oleh Alex tiba-tiba saja bergerak membuat Alex kaget.
"Astaga, Stevi."
"Ada apa, Nak?" tanya Mami Nia yang baru masuk ke dalam ruangan.
"Tangan Stevi barusan bergerak, Mami."
"Hah, serius?"
Tiba-tiba, Stevi mulai membuka matanya membuat Alex dan Nia merasa sangat bahagia.
"Ya Allah sayang, Alhamdulillah akhirnya kamu sadar juga," seru Mami Nia dengan senyumannya.
Stevi melirik ke arah Alex, dia ingat betul kalau Alex dan Maya yang saat itu menabraknya namun saat ini Stevi tidak bisa marah karena tenaganya sama sekali tidak ada.
"Alex panggilkan dokter dulu ya, Mi."
Alex langsung berlari keluar untuk memanggil dokter, dan tidak membutuhkan waktu lama dokter dan Alex pun datang.
"Silakan, ibu dan masnya tunggu diluar soalnya saya akan periksa pasien dulu," seru dokter.
"Baik, dok."
Alex dan Nia pun keluar, sedangkan dokter memeriksa keadaan Stevi soalnya ditakutkan Stevi mengalami luka dalam atau bahkan hilang ingatan karena waktu kecelakaan, kepala Stevi memang terbentur sangat keras.
Alex dan Nia menunggu dengan gelisah, hingga beberapa menit kemudian dokter pun keluar.
"Bagaimana dok, keadaan putri saya?" tanya Mami Nia.
"Alhamdulillah, setelah saya periksa keseluruhan ternyata putri anda tidak mengalami luka dalam bahkan yang paling ditakutkan hilang ingatan, ternyata tidak terjadi. Putri anda sehat dan hanya butuh pemulihan saja bekas operasi," sahut dokter.
"Alhamdulillah."
"Kalau begitu, saya pamit dulu dan untuk sekarang jangan sampai pasien stres dan banyak pikiran kalau bisa ceritakan yang bahagia-bahagia dulu," seru dokter.
"Baik dokter, terima kasih."
__ADS_1
Dokter pun pergi, Alex dan Nia kembali masuk ke dalam ruangan rawat Stevi. Stevi sudah sadar sepenuhnya, Nia langsung memeluk Stevi.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar juga sayang. Mami sudah sangat khawatir takut kamu meninggalkan Mami," seru Mami Nia dengan mata yang sudah mengeluarkan air matanya.
Stevi melepaskan pelukan maminya dan menghapus air mata maminya itu.
"Stevi tidak akan meninggalkan mami," lirih Stevi.
Alex ikut bahagia, dia menghampiri Stevi. "Kamu mau minum?" tanya Alex lembut.
Stevi membuang wajahnya, sungguh saat ini Stevi tidak mau melihat wajah Alex. Stevi sangat marah dan membenci Alex. Stevi belum sadar dengan janinnya yang sudah tidak ada.
"Sayang, Mami mau makan siang dulu ya, kamu tidak apa-apa kan kalau Mami tinggal dulu?" seru Mami Nia.
Stevi menganggukkan kepalanya lemah..
"Nak Alex, tolong jaga Stevi dulu ya."
"Iya, Mami."
Nia pun keluar menuju kantin rumah sakit untuk makan siang, sedangkan Stevi memilih menutup matanya dia sungguh tidak mau melihat wajah pria tampan yang ada di sampingnya itu.
"Stev, kamu minum dulu ya," seru Alex.
Beberapa saat tanpa bicara sepatah katapun, tiba-tiba Stevi membuka matanya dan mengusap perutnya.
"Astaga, bagaimana dengan keadaan anakku?" gumam Stevi.
Alex mulai panik, dia sungguh tidak tahu harus menjawab apa kalau tiba-tiba Stevi menanyakannya.
Stevi bangun dan Alex reflek membantu Stevi untuk bangun.
"Kamu mau ke mana?" tanya Alex.
"Jangan sentuh aku," geram Stevi.
"Jangan banyak bergerak dulu, kamu masih belum pulih," seru Alex.
"Apa pedulimu, Kak? apa sekarang kamu merasa sedih karena aku belum mati? kamu dan Maya pasti mengharapkan aku mati kan?" bentak Stevi.
Alex menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak, aku sama sekali tidak seperti itu. Kamu salah paham," seru Alex.
__ADS_1
"Salah paham apanya? jelas-jelas aku lihat di mobil itu ada kamu, kamu memang benar-benar jahat Kak. Belum puas kamu menyiksa hati dan batinku selama ini? dan sekarang kamu berniat membunuhku?" teriak Stevi histeris.
"Stevi, aku mohon jangan seperti ini kamu baru saja sadar dan masih sakit. Nanti setelah kamu sehat, aku akan jelaskan semuanya," seru Alex dengan wajah yang memelas.
Tidak lama kemudian, dokter datang masuk ke dalam ruangan rawat Stevi.
"Nona jangan banyak gerak dulu, soalnya luka bekas operasi belum sepenuhnya pulih," seru dokter.
"Dok, tapi kandunganku baik-baik saja, kan?" tanya Stevi.
Dokter menoleh ke arah Alex, wajah Alex sudah pasrah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
"Nona, maaf kami tidak bisa menyelamatkan janin dalam kandungan Nona soalnya Nona mengalami pendarahan yang sangat hebat," seru dokter.
"Apa?"
Air mata Stevi mulai menetes, dia tidak menyangka kalau janin yang selama ini dia pertahankan dan menjadi penyemangatnya sudah tidak ada lagi.
Napas Stevi mulai terengah-engah, tangannya dia kepalkan. Stevi menatap tajam ke arah Alex dengan cepat Stevi melompat dari tempat tidurnya dan memukul Alex, bahkan Stevi mencekik Alex dia tidak peduli rasa sakit yang sedang dia rasakan yang jelas saat ini dia ingin sekali membunuh pria yang saat ini ada di hadapannya itu.
"Dasar pembunuh, kamu sudah membunuh anakku jadi sekarang juga kamu harus mati!" teriak Stevi dengan deraian air matanya.
Dokter menahan Stevi dan berusaha menarik tubuh Stevi, sementara itu Alex hanya pasrah dia tidak melawan dan walaupun saat itu dia harus mati tidak apa-apa karena memang Alex pantas mendapatkannya.
"Nona, tenanglah saat ini Nona masih sakit," seru dokter dengan berusaha melepaskan tangan Stevi yang masih mencekik leher Alex.
Pintu ruangan terbuka, dan betapa terkejutnya Nia saat melihat putrinya sedang mengamuk dan berusaha membunuh Alex.
"Astagfirullah Stevi."
Nia melepaskan Stevi dan Stevi akhirnya bisa lepas, Alex terbatuk-batuk dan Nia memeluk anaknya dengan sangat erat.
"Istighfar Nak, kamu jangan seperti ini," seru Mami Nia.
"Dia pembunuh Mi, dia sudah membunuh anakku jadi dia pantas mati juga. Aku tidak rela anakku meninggal, kamu pembunuh!" teriak Stevi histeris dengan deraian air matanya.
Dokter yang melihat Stevi terus saja berontak memutuskan untuk menyuntikan obat penenang. Perlahan, Stevi mulai lemas dan pingsan.
Stevi kembali ditidurkan di atas ranjang pasien, Nia kembali menangis melihat putrinya seperti itu sedangkan Alex hanya bisa menundukkan kepalanya sembari air mata yang terus mengalir dari matanya.
"Nak Alex, lebih baik sekarang kamu pulang saja karena Mami takut Stevi akan kembali ngamuk kalau melihat kamu masih ada di sini," seru Mami Nia.
__ADS_1
"Maafkan Alex, Mi. Alex sudah membuat Stevi seperti ini," seru Alex.
Nia menganggukkan kepalanya, dengan langkah gontai akhirnya Alex pun memilih pergi walaupun dalam hatinya Alex ingin sekali menjaga Stevi.