
Alex dan Thomas mulai mencari tempat untuk berjualan dengan ditemani Niko. Mereka menggunakan mobil milik Niko, mencari tempat tongkrongan anak muda dan strategis juga.
"Kak, kayanya di sini tempatnya bagus," seru Niko.
Ketiga pria tampan itu keluar dari dalam mobil dan melihat-lihat tempat.
"Memangnya kita tidak apa-apa kalau jualan di sini?" tanya Alex.
"Banyak kok Kak yang jualan di sini, palingan kita bayar uang sewa tempat saja," sahut Niko.
"Bagaimana, Thom?" tanya Alex.
"Bagus juga, kita jualan di sini saja," sahut Thomas.
Ketiganya sepakat kalau mereka akan jualan di tempat itu. Tempatnya sangat ramai karena selalu dijadikan tempat nongkrong anak-anak muda.
Thomas menanyakan kepada pedagang di sana, siapa yang memegang tanah itu dan setelah berbincang-bincang akhirnya ketiga pria tampan itu memutuskan untuk pulang.
"Nik, mampir dulu?" seru Thomas.
"Aku mau ke kantor dulu, nanti malam kalau gak lembur aku mampir lagi ke sini," sahut Niko.
"Oke, terima kasih ya, Nik."
"Siap, pokoknya kalau kalian butuh bantuanku jangan sungkan-sungkan bicara saja," seru Niko.
Niko pun mulai melajukan mobilnya meninggalkan rumah Alex dan Thomas.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Bagaimana, apa kalian sudah mendapatkan tempat untuk kalian berjualan?" tanya Papa Bobby.
"Sudah Pa, sekarang kita tinggal memikirkan apa yang mau kita jual," sahut Alex.
"Bagus, semoga jualan kalian nanti berjalan dengan lancar. Maaf kalau papa tidak bisa ikut berjualan bersama kalian," seru Papa Bobby dengan raut wajah yang sedih.
"Papa jangan khawatir, kita pasti bisa," sahut Thomas.
Alex dan Thomas mulai searching mengenai makanan dan minuman yang saat ini sedang digandrungi semua orang, bahkan keduanya sibuk melihat tutorial cara membuat makanan dan minuman itu.
"Ya Allah, asyik benar putra-putra tampan mama sedang apa kalian?" tanya Mama Linda dengan membawakan cemilan untuk kedua jagoannya.
"Ini ma, kita sedang lihat cara membuat makanan dan minuman ini, kita tidak yakin bisa melakukannya," seru Alex lemas.
"Lah, harus semangat dong masa belum apa-apa kalian sudah menyerah. Apapun harus dicoba dulu jangan langsung bilang gak bisa," seru Mama Linda.
"Iya Kak, kita harus semangat," seru Thomas.
***
Dua hari pun berlalu...
__ADS_1
Hari ini adalah hari Sabtu, hari yang pas untuk mereka memulai jualan karena sebagian besar anak sekolah maupun karyawan libur.
Alex dan Thomas sudah siap dengan jualannya, mereka sudah dua hari melihat cara bikin makanan dan minuman serta berharap akan laku.
Alex dan Thomas memutuskan untuk menjual ayam geprek, dan berbagai makanan berbau Korean food karena saat ini makanan dari negara gingseng itu sedang digandrungi berbagai kalangan.
Mereka juga membuat sebuah kedai dipinggir jalan dengan harga yang terjangkau supaya semua orang bisa membeli makanan itu. Bahkan mereka juga memasang kursi dan meja bagi yang mau makan di tempat.
"Busyet, banyak banget bawaannya. Awas saja kalau gak bagi hasil sama aku," seru Niko.
"Astaga, itungan banget jadi orang. Kalau perlu kita sewa mobilmu," kesal Thomas.
"Yaelah sensi amat, kaya cewek yang lagi datang bulan," ledek Niko.
"Sudah-sudah, buruan nanti keburu siang lagi," kesal Alex.
Thomas dan Niko pergi menggunakan mobil, sedangkan Alex memilih mengendarai motornya dan tidak membutuhkan waktu lama, ketiga pria tampan itu sampai di lokasi dan ketiganya langsung mendirikan tenda-tenda kecil.
"Wah, ada yang jualan baru mana tampan-tampan lagi."
"Iya, kita ke sana yuk!"
Beberapa anak muda langsung menghampiri Alex, Thomas, dan juga Niko.
"Kakak, kita mau beli dong."
"Bentar bocah, kita belum siap masih beres-beres dulu," sahut Niko.
"Astaga, anak zaman sekarang bahasanya brutal sekali," seru Thomas.
"Serem Thom, lebih seram dari emak-emak," sambung Niko.
"Pokoknya kita akan tunggu sampai kakak-kakak selesai."
"Bodo amat," sahut Niko.
"Niko, jangan seperti itu bagaimana pun mereka adalah pembeli dan pembeli itu adalah raja," seru Alex.
Ketiga pria tampan itu dengan cekatan membereskan dagangannya, bahkan kedua bocil yang menunggu mereka tampak mengambil foto ketiganya.
"Astaga, nih bocah malah juprat-jepret segala lagi," kesal Thomas.
Orang-orang mulai berdatangan, ada yang jogging dan ada yang hanya sekedar jalan-jalan. Para perempuan langsung melirik ke arah kedai milik Alex dan Thomas, sebenarnya yang membuat mereka tertarik bukanlah makanan yang dijual tapi penjualnya yang tampan-tampan bak model.
"Mas, aku mau pesan yang ini dong."
"Aku juga ya, Mas."
"Iya, silakan duduk dulu ya Mbak-mbak," sahut Niko.
Mereka bertiga berbagi tugas, Alex spesialis ayam geprek, Thomas spesialis Korean food, dan Niko spesialis minumannya.
__ADS_1
Ketiganya sangat kaget karena di hari pertama jualan sudah diserbu banyak pembeli membuat ketiganya kewalahan.
"Mas, punyaku mana!"
"Iya, aku juga sudah pesan dari tadi!"
"Sebentar ya Mbak, mohon bersabar," sahut Alex.
Wajah ketiganya mulai berkeringat membuat para wanita semakin berteriak karena menurut mereka, ketiga pria itu semakin tampan dan seksi kalau berkeringat.
Sementara itu di sebuah panti asuhan, seorang wanita cantik nan imut masih terbaring di atas tempat tidurnya.
"Lana, makan dulu buburnya habis itu kamu minum obat biar cepat sembuh," seru Bunda Fatma.
"Iya Bunda. Oh iya, Lana minta maaf ya Bunda karena sudah satu Minggu Lana tidak jualan dan kita gak bisa dapatkan uang tambahan," lirih Lana.
"Kamu itu yang dipikirkan hanya jualan saja sedangkan kesehatan kamu tidak pernah kamu pikirkan," kesal Bunda Fatma.
"Habisnya kalau Lana tidak jualan, anak-anak kasihan," sahut Lana.
"Sudah, kamu jangan pikirkan itu uang dari donatur pun masih ada kok jadi lebih baik sekarang kamu fokus dulu ke kesehatan kamu ya, Nak."
"Iya, Bunda."
Lana adalah anak tertua di panti asuhan itu, Lana mempunyai tanggung jawab untuk ikut mengurus adik-adiknya dengan berjualan kue basah buatannya dan Bunda Fatma.
Lana baru saja lulus SMA, dan dia tidak bisa melanjutkannya ke jenjang perguruan tinggi karena terhalang oleh biaya sehingga Lana harus mengubur cita-citanya yang ingin menjadi seorang dokter.
Sungguh diluar dugaan, tidak sampai sore dagangan mereka ludes. Ketiga pria tampan itu duduk selonjoran di rumput sembari mengipas-ngipaskan topi ke wajah masing-masing.
"Alhamdulillah, jualan kita ludes," lirih Thomas.
"Ternyata jualan itu sangat melelahkan, apalagi aku yang dari tadi memukul-mukul ayam tanganku sampai pegal," sambung Alex.
"Aku bilang juga apa, sebenarnya daya tarik jualan kita itu bukan karena makanan dan minumannya tapi karena wajah kita yang tampan makanya mereka menyerbu jualan kita," seru Niko dengan bangganya.
Setelah beristirahat sejenak, mereka pun mulai membereskan barang-barang untuk membawanya pulang kecuali tenda-tendanya tidak mereka bongkar dan dibiarkan begitu saja.
"Kalian pulang duluan, aku mau ke suatu tempat dulu," seru Alex.
"Kakak mau ke mana?" tanya Thomas.
"Pokoknya aku mau ke suatu tempat, kamu jangan khawatir aku akan segera pulang kok."
"Ya sudah, hati-hati."
"Oke."
Alex pun segera melajukan motornya, entah kenapa dia ingin sekali ke rumah Stevi hanya untuk memastikan kalau Stevi memang sudah pergi.
Beberapa saat kemudian, Alex pun sampai di depan rumah megah itu dan terlihat sangat sepi seperti tidak ada kehidupan sama sekali.
__ADS_1
"Aku tidak peduli kamu mau pergi berapa puluh tahun pun, yang jelas aku akan selalu menunggumu pulang karena hatiku mengatakan kalau kamu akan kembali ke sini," batin Alex.