
Tidak membutuhkan waktu berjam-jam karena dalam sekejap dagangan Lana ludes tak bersisa.
"Alhamdulillah, akhirnya habis juga. Terima kasih ya mas-mas tampan," seru Lana dengan girangnya.
"Jangan panggil kami mas, memangnya kami sudah tua apa?" sentak Thomas.
a"Terus aku harus panggil apa? aku kan, gak tahu nama kalian," seru Lana.
"Aku Niko, ini Thomas, dan itu Kak Alex," sahut Niko.
"Ah, aku panggil kakak saja ya soalnya umur kalian di atas aku gak enak kalau cuma panggil nama doang," seru Lana.
"Terserah kamu saja," sahut Niko.
"Mahdi, ayo kita pulang pasti bunda bakalan senang banget kalau dagangan kita habis," seru Lana.
"Ayo, Kak."
"Kakak-kakak tampan, kita pulang duluan ya."
Lana dan Mahdi segera menaiki sepedanya dan dengan cepat mengayuh sepeda itu meninggalkan Alex, Thomas, dan Niko.
"Lucu juga tuh bocah," seru Niko.
"Hebat, dia bekerja demi menghidupi adik-adik pantinya," sambung Alex.
Thomas terus memperhatikan Lana sampai Lana menghilang dari pandangannya, lalu sedikit senyuman muncul dibibir Thomas.
Tidak terasa waktu pun sudah hampir sore dan dagangan Alex sudah habis tak bersisa. Ketiga pria tampan itu memutuskan untuk pulang, sedangkan Alex seperti biasa mendatangi rumah Stevi walaupun dia tahu kalau Stevi memang benar-benar sudah pergi.
***
"Nona, ini investor yang akan bekerjasama dalam pembuatan perusahaan baru Nona," seru Pieter yang merupakan asisten pribadi Stevi.
Stevi mendongakkan kepalanya. "Halo, perkenalkan nama aku Jhon Hummers."
Seorang pria tampan yang bernama Jhon itu mengulurkan tangannya ke arah Stevi, Stevi bangkit dari duduknya dan membalas uluran tangan Jhon.
"Stevi, silakan duduk Tuan Jhon," seru Stevi.
"Tidak usah panggil Tuan, panggil Jhon saja aku merasa tua kalau dipanggil Tuan," seru Jhon dengan senyumannya.
"Ah baiklah."
Stevi bisa melihat kalau Jhon adalah pria blasteran karena bahasa Indonesianya sangat fasih.
"Apa anda orang Indonesia?" tanya Stevi.
"Ya, aku lahir di Indonesia. Mommy ku orang Indonesia dan Daddy ku orang Perancis, aku besar di Indonesia dan baru beberapa tahun tinggal di sini," sahut Jhon.
"Oh begitu, soalnya bahasa Indonesia kamu sangat lancar."
__ADS_1
Jhon tersenyum, sungguh kesan pertama bertemu dengan Stevi membuat Jhon merasa sangat terpesona. Jhon melihat selain cantik, Stevi juga seorang wanita yang cerdas dan mandiri.
"Saat kamu ingin membuat perusahaan baru di Indonesia, aku langsung tertarik karena aku belum punya perusahaan di sana jadi ini kesempatan aku untuk mengelola sebuah perusahaan di Indonesia, apalagi harus bekerjasama dengan wanita secantik kamu," puji Jhon.
"Anda terlalu memuji, aku wanita biasa-biasa saja kok," sahut Stevi.
"Tidak, justru kamu wanita luar biasa. Maukah nanti malam pergi denganku? aku ingin mengajakmu makan malam sekaligus mengelilingi kota Paris yang indah ini," seru Jhon.
"Sepertinya malam ini aku tidak bisa, lain kali saja ya," tolak Stevi secara halus.
"Baiklah."
***
Keesokan harinya...
Seperti biasa, Lana akan bangun di jam empat subuh. Lana dan Fatma akan membuat berbagai macam kue yang akan Lana jual di pagi harinya.
"Lana, mudah-mudahan hari ini jualan kamu habis lagi ya seperti kemarin," seru Bunda Fatma.
"Amin..kemarin habis karena dibantu mas-mas tampan penjual ayam geprek, Bunda."
"Hah, mas-mas penjual ayam geprek? kok bisa?"
"Bukan ayam geprek saja, ada makanan Korea dan minuman juga. Pedagangnya tiga pria tampan, mereka bantuin Lana karena kemarin dagangan Lana baru laku sedikit," sahut Lana.
"Masya Allah, baik sekali mereka."
"Menyebalkan kenapa? bukanya mereka sudah bantuin kamu?"
"Iya, kalau bukan karena ide Kak Alex mereka berdua gak bakalan mau bantuin Lana tapi berkat Kak Alex, akhirnya mereka juga mau."
"Kamu ada-ada aja, oh iya Bunda bikin kuenya lebih nanti kamu kasih kepada mereka ya sebagai ucapan terima kasih."
"Siap, Bunda."
"Lain kali ajak ke sini juga, nanti masakin buat mereka."
Lana tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. Waktu sudah menunjukan pukul tujuh pagi, Lana dan Mahdi segera mengayuh sepedanya ke tempat kemarin.
Sesampainya di tempat kemarin, Lana mengerutkan keningnya karena lapak Alex masih kosong dan belum buka sama sekali.
"Lah, kok masih sepi?" seru Lana.
"Mungkin belum datang, Kak," sahut Mahdi.
"Iya kali ya, ya sudah kita beres-beres saja dulu," seru Lana.
Kali ini Lana berjualan tepat di samping lapak Alex karena kemarin Alex menyuruh Lana untuk berjualan di sana.
Hari ini adalah hari Senin, Alex dan yang lainnya akan berjualan di sore hari kecuali Sabtu dan Minggu akan dimulai dari pagi hari.
__ADS_1
Alex mulai menggerakkan tubuhnya, badannya begitu sangat lelah bahkan tangannya terasa sangat pegal karena menggeprek ayam setiap hari.
"Kak, sarapannya sudah aku siapkan terus baju Kakak sudah aku siapkan juga, sekarang kakak bangun dan mandi."
Dalam keadaan setengah sadar, Alex samar-samar mendengar dan melihat Stevi sedang sibuk menyiapkan sarapan dan baju kerja Alex.
Alex tersenyum lebar dan langsung bangun, tapi di saat Alex tersadar dengan mata yang sepenuhnya terbuka bayangan Stevi menghilang.
"Astaga, kenapa aku tidak bisa melupakan Stevi," gumam Alex dengan mengusap wajahnya kasar.
Alex melamun, lagi-lagi Alex tersenyum saat membayangkan kalau seandainya dia menikah lagi dengan Stevi pasti kehidupannya akan sangat bahagia.
Alex mengacak-ngacak rambutnya, dengan langkah gontai Alex pun masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
"Ma, Pa, Alex keluar sebentar ya."
"Mau ke mana kamu, Alex?" tanya Papa Bobby.
"Cari angin saja mumpung belum terlalu siang, mataharinya masih bagus untuk kesehatan."
Alex mencium punggung tangan Linda dan juga Bobby, lalu melajukan motornya tanpa tujuan. Alex menuju lapak jualannya, dia berniat mencari sarapan lontong.
"Kak Lana, bukanya itu Kak Alex ya!" teriak Mahdi.
"Mana?"
Lana tersenyum lebar, saat melihat Alex menghampirinya.
"Kak Alex tidak jualan?" tanya Lana.
"Tidak, hari Senin sampai Jum'at kita jualan di sore hari kalau Sabtu dan Minggu kita jualan dari pagi," sahut Alex dingin.
Alex hendak melajukan kembali motornya karena dia ke sana hanya ingin melihat lapaknya saja.
"Eh, Kak Alex mau ke mana lagi?" tanya Lana.
"Mau cari sarapan."
Lana segera mengambil beberapa kue basah buatan Fatma.
"Ini kue buatan Bunda, tadi Bunda menyuruh aku memberikannya kepada Kak Alex, Kak Thomas, dan Kak Niko sebagai ucapan terima kasih karena kemarin sudah membantu aku jualan kue."
"Ah tidak usah, kita ikhlas kok bantuin kamu."
Lana memberikan kantong kresek itu kepada Alex. "Bawa saja, kalau tidak dibawa nanti Bunda akan marah," seru Lana dengan senyumannya.
Alex tidak bisa menolak, akhirnya dengan terpaksa Alex pun menerima kue itu.
"Baiklah, terima kasih."
Tanpa ekspresi apa-apa, Alex pun menyalakan motornya dan langsung pergi meninggalkan Lana.
__ADS_1
"Ya Allah, Kak Alex tampan banget namun sayang sikapnya dingin sekali kaya kulkas seratus pintu," batin Lana.