
Tidak lama kemudian, Alex sudah selesai membuatkan ayam geprek untuk Stevi lalu segera membawakannya kepada Stevi.
"Cobalah, apa masakan ku enak?" seru Alex.
Stevi melihat ke arah Alex, sungguh Stevi tidak percaya kalau Alex bisa memasak seperti ini.
Stevi mulai mencoba ayam geprek buatan Alex itu dan Stevi sangat terkejut karena rasanya sangat enak.
"Bagaimana, enak tidak?" tanya Alex.
"Berisik, sana pergi aku mau makan dulu," ketus Stevi.
"Tidak, aku mau lihatin kamu makan," sahut Alex dengan senyumannya.
"Pergi sekarang atau aku yang pergi?" ancam Stevi.
"Oke-oke, aku pergi."
Akhirnya Alex pun memilih untuk pergi, Alex tidak mau sampai mengganggu makan Stevi karena menurut Jhon, jadwal makan Stevi tidak teratur.
"Kak, itu ya yang namanya Kak Stevi? cantik banget, pantas saja kalian memuji dia memang aku juga yang wanita kagum akan kecantikan dia bagaimana dengan pria," seru Lana dengan senyumannya.
"Makanya kedua adik kakak ini tergila-gila kepada Stevi," ceplos Niko.
"Apa?"
Thomas panik, dia menutup mulut Niko dengan tangannya lalu melotot ke arah Niko sebagai kode. Niko mengangguk dan Thomas pun melepaskan tangannya.
"Tidak apa-apa sayang, jangan didengerin ucapan si Niko soalnya dia suka ngaco kalau ngomong," seru Thomas gugup.
Lana merasa curiga, dia melihat Alex yang saat ini sedang menatap Stevi dengan senyumannya.
"Pantas saja Kak Alex tidak mau denganku soalnya wanita yang dia cintai terlalu sempurna untuk aku ajak bersaing," batin Lana.
Stevi sudah selesai makan dan dia pun turun dari kap mobilnya sendiri dan menghampiri lapak Alex.
"Berapa semuanya?" tanya Stevi dingin.
"Gratis, untuk kamu tidak usah bayar," sahut Alex dengan senyumannya.
"Tidak bisa, ini kan jualan jadi aku tidak bisa makan gratis," seru Stevi.
Stevi mengambil uang dari dalam dompetnya dan memberikan uang kepada Alex.
"Ini uangnya."
"Tidak, aku barusan sudah bilang kamu tidak usah bayar, tapi dengan satu syarat," sahut Alex.
Stevi mengerutkan keningnya. "Apaan sih, aku gak mau. Ini bayarannya," seru Stevi dengan menyimpan uang di depan Alex.
__ADS_1
Stevi membalikan tubuhnya hendak meninggalkan tempat itu.
"Mama dan Papa ingin bertemu denganmu," seru Alex.
Stevi menghentikan langkahnya, Alex segera menghampiri Stevi dan berdiri di hadapan Stevi.
"Mama dan Papa sangat merindukanmu, kamu boleh membenciku dan Thomas seumur hidupmu tapi tolong jangan membenci kedua orang tuaku karena mereka tidak salah," seru Alex.
Stevi terdiam, selama ini mantan mertuanya itu memang sudah sangat baik.
"Kirimkan saja alamat rumahmu, nanti kalau ada waktu aku akan datang ke sana untuk mampir," sahut Stevi.
Stevi dengan cepat masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan tempat itu, lagi-lagi Alex hanya bisa menghembuskan napasnya kasar.
Alex pun mengirimkan alamat rumahnya kepada Stevi, dia tahu nomor ponsel Stevi dari Jhon.
***
Malam pun tiba...
Stevi terlihat memperhatikan layar ponselnya, di sana tertera alamat rumah Alex.
"Apa aku ke sana saja ya? bagaimana pun mama Linda dan papa Bobby sudah sangat baik kepadaku," batin Stevi.
Stevi mengambil kardigannya lalu menyambar kunci mobilnya.
"Aku mau ke rumah mama Linda dulu, aku gak bakalan lama kok."
"Hati-hati, Non."
Stevi pun dengan cepat masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya menuju rumah Alex. Stevi mengabaikan panggilan dari Jhon, Stevi sangat kesal karena Jhon terus saja menghubunginya.
Setelah cukup lama mencari, akhirnya Stevi sampai di depan rumah Alex. Stevi memperhatikan rumah Alex dari dalam mobilnya, Stevi merasa miris dan bersalah karena akibat perbuatannya dulu mereka menjadi tinggal di rumah sederhana bahkan Alex dan Thomas sampai jualan di pinggir jalan seperti itu.
"Ya Allah, ternyata selama ini aku sudah keterlaluan," batin Stevi.
Stevi keluar dari dalam mobilnya dan perlahan masuk ke dalam halaman rumah Alex. Stevi kembali memperhatikan setiap sudut rumah itu, hingga tidak lama kemudian Alex keluar rumah hendak mencari angin.
Alex dan Stevi sama-sama terkejut dan untuk sesaat kembali saling pandang satu sama lain.
"Stevi, sejak kapan kamu ada di sini?" tanya Alex.
Stevi tidak menjawab pertanyaan Alex, justru mata Stevi sudah berkaca-kaca.
"Ayo masuk, pasti mama dan Papa bahagia bisa melihat kamu. Tapi maaf, rumahnya kecil," seru Alex dengan senyumannya.
Perlahan Stevi melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah Alex.
"Ma, pa, lihatlah siapa yang datang," seru Alex.
__ADS_1
Linda dan Bobby serempak menoleh, begitu pun dengan Thomas.
"Ya Allah Stevi."
Linda dengan cepat menghampiri Stevi dan memeluknya, air mata Linda tidak bisa tertahan lagi.
"Mama sangat merindukanmu, sayang."
"Maafkan Stevi, Ma."
Stevi ikut meneteskan air matanya membuat Alex dan Thomas tersenyum. Linda melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Stevi.
"Kenapa kamu menangis?" tanya Mama Linda.
"Maafkan Stevi, Ma."
"Kamu tidak salah Nak, justru yang seharusnya minta maaf itu kami semua."
Stevi tersenyum, lalu pandangan Stevi beralih kepada Bobby yang sudah berdiri dengan memegang tongkatnya. Perlahan Stevi menghampiri Bobby dengan mata yang berkaca-kaca kemudian memeluknya.
"Papa, maafkan Stevi."
"Tidak sayang, kami yang harus minta maaf kepadamu karena sudah membuat kamu terluka," sahut Papa Bobby.
Stevi melepaskan pelukannya dan memperhatikan keadaan mantan mertuanya itu.
"Papa kenapa?"
"Tidak apa-apa, kamu jangan khawatir."
Semuanya duduk dan berbincang-bincang. "Bagaimana kabar kamu sayang?" tanya Mama Linda dengan mengusap wajah Stevi.
"Alhamdulillah, baik."
"Bagaimana dengan kabar Mamamu?" tanya Papa Bobby.
Stevi menundukkan kepalanya dan kembali meneteskan air matanya.
"Mama sudah meninggal satu tahun yang lalu, Pa," sahut Stevi.
Semua orang terkejut mendengatnya. "Ya Allah, terus kamu tinggal bersama siapa?"
"Stevi tinggal sendirian di Perancis dan karena kesepian, akhirnya Stevi pun memilih untuk kembali ke sini," sahut Stevi.
"Ya Allah kasihan sekali kamu, Nak."
Alex dan Thomas sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, sungguh Stevi adalah wanita yang luar biasa. Setelah mereka menyakiti hati Stevi, disusul dengan meninggalnya Heri, lalu sekarang mamanya pun ikut menyusul.
"Sungguh kamu wanita yang kuat, Stevi. Aku semakin yakin kalau aku harus bisa meluluhkan hatimu kembali," batin Alex.
__ADS_1