
Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, tidak terasa besok adalah hari pernikahan Stevi dan Thomas. Pernikahan mereka merupakan hal yang sangat membahagiakan untuk kedua keluarga.
Saat ini Stevi sedang berada di kamarnya, sudah satu Minggu Stevi tidak diperbolehkan bekerja dan bertemu dengan Thomas begitu pun dengan Thomas.
"May, maafkan aku ya karena aku sudah merepotkan kamu selama seminggu ini," seru Stevi.
"Tidak apa-apa kok Stev, selama ini kamu sudah banyak sekali membantuku jadi sekarang giliran aku yang harus membantumu. Setidaknya aku bisa membantumu dengan tenaga aku soalnya kalau materi aku tidak punya."
"Terima kasih ya May, kamu memang sahabat terbaikku."
Stevi memeluk Maya, Stevi sangat beruntung mempunyai sahabat seperti Maya tapi berbeda dengan Maya yang merasa tidak beruntung dan hanya dijadikan alas kaki saja oleh Stevi.
"Tersenyumlah Stev, aku yakin ini adalah hari terakhir kamu bisa tersenyum karena besok akan ada kejadian yang sangat luar biasa," batin Maya dengan senyumannya.
Setelah menemani Stevi, Maya pun memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, Maya mengotak-ngatik laptop entah apa yang sedang dia cari dan lakukan.
"Akhirnya aku menemukan foto yang cocok," gumam Maya.
Maya mengedit foto itu dan menggantinya dengan wajah Stevi. Maya mencari foto sepasang wanita dan pria yang sedang telanjang dan tidur di sebuah hotel, Maya dengan jahatnya mengganti wajah si wanita dengan wajah Stevi sehingga untuk sekilas foto itu terlihat Stevi.
"Kali ini kamu akan hancur Stevi, aku tidak akan membiarkan kamu bahagia," gumam Maya dengan senyuman penuh kemenangan.
Malam pun tiba...
Thomas saat ini sedang rebahan sembari melihat-lihat foto Stevi.
"Akhirnya besok kamu akan menjadi istriku, Stev," gumam Thomas dengan senyumannya.
Tidak lama kemudian, ada sebuah pesan bergambar yang masuk ke ponsel Thomas dan itu dari nomor yang tidak dikenal.
✉️"Lihatlah kelakuan wanita yang kamu puja-puja, Stevi bukan wanita baik-baik seperti yang kamu pikirkan. Dia sering gonta-ganti pria untuk memuaskan hasratnya, jadi apa kamu masih mau menikah dengan wanita kotor ini."
Thomas membelalakkan matanya, dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Thomas menghubungi nomor itu untuk menanyakan lebih detail lagi tapi orang itu tidak mau mengangkat telepon dari Thomas.
"Brengsek, siapa yang sudah mengirim foto ini?" geram Thomas.
Thomas hendak menghubungi Stevi tapi lagi-lagi ada notif pesan masuk.
✉️"Kalau kamu ingin menanyakan kebenarannya kepada Stevi, dia tidak akan pernah mengaku karena Stevi orang yang sangat pintar. Wajahnya pura-pura polos padahal dalam hatinya busuk, jadi sebelum terlambat lebih baik kamu pikirkan lagi daripada nanti kamu menyesal."
Thomas sangat frustasi, dia tidak tahu siapa yang harus dia percaya. Thomas berusaha menutup mata dan pura-pura tidak tahu, tapi foto itu benar-benar sudah meracuni otaknya.
__ADS_1
***
Keesokan harinya...
Di sebuah kamar hotel, Stevi sedang didandani oleh MUA terkenal. Stevi terlihat sangat bahagia, Maya ikut bahagia mendampingi Stevi seperti tidak akan terjadi apa-apa.
Hingga beberapa saat kemudian, Stevi sudah tampil sangat cantik dengan menggunakan kebaya putih. Maya memapah Stevi ke ruangan di mana Stevi dan Thomas akan melaksanakan ijab kabul.
Semua orang sangat kagum akan kecantikan Stevi yang sangat luar biasa itu, Alex tampak tersenyum kepada Maya dan tentu saja Maya membalas senyuman sang kekasih.
"Aku bisa pastikan kalau hari ini adalah hari terakhir kamu tersenyum Stevi, karena sebentar lagi senyuman kebahagiaan itu akan hilang dan berganti dengan senyuman kesedihan," batin Maya.
Stevi duduk di kursi yang sudah ada penghulu, saksi, dan juga Papi Heri. Maya duduk di samping Mami Nia sembari berpegangan tangan saking gugupnya dan tidak jauh dari Maya ada Alex duduk dengan santainya.
"Maaf Pak, mempelai prianya mana? sudah satu jam menunggu kok belum datang juga?" tanya Penghulu.
Boby bangkit dari duduknya dan memanggil salah satu anak buahnya.
"Panggilkan Thomas, suruh dia cepat turun," bisik Papa Boby.
"Baik, Tuan."
"Maaf Tuan, saya tidak menemukan Tuan Thomas di dalam kamarnya, saya hanya menemukan kertas ini di atas kasur," bisiknya.
Boby terkejut, dengan isi surat yang ditulis oleh Thomas bahkan saat ini tangan Boby terlihat bergetar saking geramnya dengan kelakuan Thomas.
"Anak kurang ajar," geram Thomas.
Boby sangat bingung apa yang harus dia lakukan, ia mengusap wajahnya kasar kali ini anak bungsunya sudah membuat dia dan keluarganya malu.
Sementara itu, Stevi menundukkan kepalanya bahkan air matanya sudah berjatuhan karena Stevi sangat jelas mendengar pembicaraan Boby dan juga anak buahnya.
"Mampus kamu Stevi, akhirnya si Thomas kemakan juga sama omongan aku," batin Maya dengan senyumannya.
"Ada apa ini?" batin Alex.
Boby menoleh ke arah Alex. "Alex, ke sini kamu?" seru Papa Boby.
Alex menghampiri Papanya membuat semua orang melihat ke arah mereka.
"Ada apa, Pa?" tanya Alex.
__ADS_1
"Kamu gantikan Thomas untuk menikah dengan Stevi."
"Apa?"
Semua orang sangat terkejut dengan ucapan Boby, begitu pun dengan Maya dan juga Stevi yang sangat-sangat terkejut.
"Tidak Pa, Alex tidak bisa."
"Kenapa? kamu sudah berani melawan sama Papa? apa kamu mau melihat nama baik keluarga kita malu akibat kelakuan adikmu itu!" bentak Papa Boby.
Heri terdiam sembari mengepalkan tangannya, ia tidak terima putrinya dipermalukan seperti ini.
"Baiklah Pak Penghulu, silakan dimulai ijab kabulnya," seru Papa Boby.
Boby memaksa Alex untuk duduk di samping Stevi, Alex melihat ke arah Maya dan Maya yang tidak menyangka kalau Alex yang akan menjadi gantinya, memilih pergi dari gedung itu.
Untuk sesaat semuanya terdiam, hingga beberapa saat kemudian ijab kabul pun terucap. Stevi terus saja menangis tiada henti, dia merasa sudah menyakiti hati sahabatnya Maya.
Setelah selesai mengucapkan ijab kabul, Alex bangkit dari duduknya dan langsung berlari meninggalkan Stevi.
"Alex, mau ke mana kamu?" teriak Papa Boby.
Alex tidak mendengarkan teriakan Papanya itu, dia berlari keluar hotel untuk mencari keberadaan Maya. Terlihat Maya sedang duduk di taman hotel sendirian, sembari mengusap air matanya yang sudah menetes itu.
"Sayang."
Maya mendongakkan kepalanya, dia bangkit dan hendak pergi tapi Alex dengan cepat menahan lengan Maya dan memeluk Maya dengan penuh rasa bersalah.
"Maafkan aku Maya, ini semua bukan keinginan aku," seru Alex.
"Tapi kenapa kamu tidak menolak Kak? dari dulu Kakak memang tidak pernah menghargai perasaanku," seru Maya dengan deraian air mata.
"Maaf May, bukanya aku tidak menghargai perasaan kamu tapi kamu harus tahu bagaimana sifat Papaku. Dia begitu keras, kalau aku bilang kamu adalah pacar aku nanti yang ada hidup kamu akan dalam bahaya dan aku gak mau itu sampai terjadi."
Maya melepaskan pelukannya. "Tapi sekarang bagaimana? kamu sudah menjadi suami Stevi, aku gak rela kamu tinggal bersama Stevi bahkan tidur bareng bersama Stevi, membayangkannya saja aku sudah sangat sakit," seru Maya dengan deraian air matanya.
Alex kembali memeluk Maya. "Aku tidak pernah mencintai Stevi, jadi kamu jangan khawatir aku janji tidak akan pernah menyentuh Stevi," seru Alex.
Maya mengepalkan tangannya, lagi-lagi kali ini dia kalah oleh Stevi. Niat hati ingin memisahkan Stevi dari Thomas dan membuat Stevi hancur malah dia sendiri yang hancur.
"Awas kamu, Stevi," batin Maya dengan kesalnya.
__ADS_1