
Niko menahan tawanya, terlihat sekali kalau Alex takut kehilangan Stevi.
"Kak, sepertinya aku harus pergi soalnya pagi ini aku ada meeting di kantor," seru Niko.
"Baiklah, terima kasih Niko kamu sudah mau datang ke sini."
"Santai saja Kak, pokoknya kalau Kakak butuh sesuatu jangan sungkan-sungkan hubungi aku saja."
"Oke."
Niko pun pamit pergi dari kantor Alex, Maya sangat penasaran dengan apa yang dibicarakan mereka berdua.
"Sebenarnya Kak Alex membicarakan apa dengan pria tadi?" batin Maya.
Alex teringat kalau Stevi belum sarapan, dia pun dengan cepat memesankan makanan untuk Stevi dan mengirimkannya langsung ke kantor Stevi.
"Mudah-mudahan dia mau memakannya, aku sangat merasa berdosa kepada Stevi karena selama ini sudah sering menyakiti hatinya apalagi tadi malam aku sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal," gumam Alex.
Sementara itu di kediaman Brasco, Bobby dengan kalapnya memukuli Thomas sampai Thomas babak belur.
"Pa, sudah Pa," seru Mama Linda dengan menahan tubuh suaminya itu.
"Lepaskan Ma, anak brengsek ini tidak pantas menginjakan lagi kakinya di rumah ini karena sudah mempermalukan keluarga kita dan keluarga Stevi!" bentak Papa Bobby.
"Pa, Thomas mohon maafkan Thomas. Thomas sangat menyesal, tapi Thomas punya alasan kenapa Thomas sampai kabur waktu itu," seru Thomas.
"Alasan apa?" bentak Papa Bobby.
Thomas mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto itu kepada Papa dan Mamanya, kedua orang tua Thomas sangat terkejut.
"Tidak mungkin Stevi seperti ini," seru Mama Linda.
"Iya Ma, itu memang bukan Stevi tapi foto orang lain yang di edit dan diganti wajahnya dengan wajah Stevi dan yang membuat Thomas sangat menyesal adalah Thomas tidak mencari tahu kebenarannya dulu, malah langsung kabur begitu saja," seru Thomas dengan menundukkan kepalanya.
Bobby terduduk di sofa dengan memejamkan matanya, sungguh saat ini dia merasa sangat pusing.
"Kamu tahu betapa hancurnya hati Stevi saat itu, bahkan Alex yang Papa andalkan bisa menggantikan kamu malah sama saja selalu membuat Stevi sedih. Papa tidak tahu harus menebus dengan cara apa rasa bersalah Papa kepada Stevi dan keluarganya, Papa sungguh sangat malu mempunyai dua putra yang sama-sama tidak bisa diandalkan," seru Papa Bobby.
Thomas menghampiri Papanya dan bersujud di depan kaki Papanya itu dengan meneteskan air matanya.
"Pa, Thomas mohon maafkan Thomas karena sudah membuat keluarga kita malu," seru Thomas.
__ADS_1
Linda mengusap punggung putra bungsunya itu sembari meneteskan air matanya.
"Minta maaflah kepada Stevi karena dia orang yang paling sedih dan hancur," seru Papa Bobby.
***
Tok..tok..tok..
"Masuk."
"Maaf Bu, ini ada yang mengantarkan makanan untuk Ibu."
"Dari siapa?"
"Dari Pak Alex."
"Bawa saja kamu yang makan," seru Stevi dingin.
"Baik Bu, terima kasih."
OB itu pun keluar dari ruangan Stevi, Stevi terdiam dan sedikit menyunggingkan senyumannya sinis.
"Aku tahu kamu melakukan itu karena kamu merasa bersalah Kak, tapi aku tidak butuh rasa bersalah dari kamu karena kamu sudah melakukan hal yang membuat aku sangat membencimu," gumam Stevi.
"Astaga, perut aku lapar sekali," gumam Stevi.
Stevi dengan cepat membereskan meja kerjanya dan dengan cepat mengambil kunci mobil dan juga tas selempangnya, dia berniat akan pergi ke sebuah restoran untuk makan siang.
Di sisi lain, Alex juga berniat ingin ke kantor Stevi dan mengajaknya makan siang sembari dia ingin meminta maaf atas apa yang sudah dia lakukan tadi malam.
"Kak, ayo kita makan siang bersama," seru Maya.
"Maaf May, hari ini aku ada janji sama teman aku mau makan siang bersama jadi kamu makan sendirian saja ya," dusta Alex.
"Lho, kamu gak ngajak aku?" kesal Maya.
"May, dia itu tahu aku sudah menikah dengan Stevi jadi kalau aku bawa kamu dia bisa curiga."
"Kok kamu hari menyebalkan sekali sih," kesal Maya.
"Sudahlah May, aku malas berdebat denganmu. Aku pergi dulu."
__ADS_1
Alex pun dengan cepat meninggalkan Maya dan itu membuat Maya sangat kesal. Alex melajukan mobilnya dengan kencang hingga saat sampai di kantor Stevi, Alex melihat Stevi masuk ke dalam mobilnya.
"Mau ke mana dia?" gumam Alex.
Alex pun mengikuti Stevi dari belakang hingga Stevi pun menghentikan mobilnya di sebuah restoran, Alex dan Stevi tidak menyadari kalau Thomas pun ada di sana mengikuti Stevi.
"Aku sangat merindukanmu, Stevi," gumam Thomas dari dalam mobilnya.
Stevi pun masuk ke dalam restoran itu dan segera memesan makanan, Alex hendak membuka pintu mobilnya tapi Alex membelalakkan matanya saat Thomas masuk ke dalam restoran itu.
"Thomas, ngapain dia masuk ke dalam restoran itu? jangan bilang dia ingin menemui Stevi dan meminta maaf kepada Stevi," gumam Alex dengan kesalnya.
Alex merasa sangat kesal awalnya dia memang berusaha untuk membuat Stevi membencinya tapi di saat Stevi sudah membencinya, Alex justru merasa tidak rela.
Stevi duduk sendirian dan mengotak-ngatik ponselnya sembari menunggu pesanannya datang, Thomas memperhatikan Stevi dari kejauhan. Thomas menarik napasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan.
"Semoga Stevi mau memaafkanku," batin Thomas.
Perlahan Thomas melangkahkan kakinya menghampiri Stevi, jantung Thomas berdetak sangat kencang sungguh sebenarnya dia sudah tidak punya wajah untuk bertemu dengan Stevi tapi rasa cinta Thomas yang besar membuat Thomas harus memberanikan diri bertemu dan meminta maaf kepada Stevi.
"Stevi."
Stevi mendongakkan kepalanya, betapa terkejutnya Stevi melihat siapa yang orang yang berdiri di sampingnya itu.
Mata Stevi mulai berkaca-kaca, tidak lama kemudian pelayan pun datang membawakan pesanan Stevi namun sayang, selera makan Stevi sudah menghilang.
Stevi mengeluarkan uang dari dompetnya, lalu memberikannya kepada pelayan itu.
"Mba, makanan ini bawa saja buat Mba soalnya saya sudah tidak lapar lagi dan ini bayarannya," seru Stevi.
Stevi bangkit dari duduknya dan hendak pergi meninggalkan Thomas tapi Thomas dengan cepat menahan lengannya.
"Tunggu Stev, ada yang ingin aku bicarakan denganmu," seru Thomas.
Stevi menghempaskan tangan Thomas dengan sangat kasar, wajahnya menyiratkan kebencian yang sangat luar biasa.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, semuanya sudah berakhir jadi jangan pernah kamu memperlihatkan wajah kamu di hadapanku lagi," geram Thomas.
Stevi pun dengan cepat berlari, Thomas berusaha mengejar Stevi tapi Stevi langsung masuk ke dalam mobilnya dan menancapkan gas pergi dari restoran itu.
"Stevi aku mohon maafkan aku!" teriak Thomas.
__ADS_1
Alex yang dari tadi menunggu di dalam mobil memutuskan untuk mengikuti Stevi karena Alex merasa sangat khawatir dengan Stevi, sedangkan Thomas menjambak rambutnya sendiri dan berteriak sekuat tenaga melampiaskan amarahnya.
"Stevi, maafkan aku!" teriak Thomas.