DINIKAHI PRIA KEJAM

DINIKAHI PRIA KEJAM
Episode 47 Cinta Tak Terbalas


__ADS_3

Lana mengurung diri di kamarnya membuat Fatma merasa sangat khawatir.


"Lana, apa Bunda boleh masuk? kamu belum makan loh, nanti kamu sakit," seru Bunda Fatma dari balik pintu.


Lana segera menghapus air matanya dan dengan cepat membuka pintu kamarnya.


"Ya Allah, kamu kenapa Lana? habis nangis ya?" tanya Bunda Fatma.


"Lana tidak apa-apa kok, Bunda," sahut Lana.


Fatma menarik tangan Lana kembali masuk ke dalam kamarnya dan duduk di ranjang milik Lana. Fatma menggenggam tangan Lana dengan lembut.


"Lana, Bunda tahu siapa kamu. Kamu tidak akan menangis seperti ini kalau kamu tidak mengalami masalah besar. Coba cerita sama Bunda, ada apa?" tanya Bunda Fatma.


"Ini bukan masalah besar, tapi masalah hati Bunda," lirih Lana.


"Masalah hati? maksudnya?"


"Lana menyukai seorang pria dan Bunda juga tahu kalau ini pertama kalinya Lana tertarik akan pria, namun pria itu tidak menyukai Lana," sahut Lana.


Fatma tersenyum dan mengelus kepala Lana dengan penuh kasih sayang.


"Ya Allah, jadi ceritanya anak Bunda sedang patah hati ya? siapa pria yang sudah dengan teganya menyakiti anak Bunda yang cantik ini," goda Bunda Fatma.


"Bunda apaan sih, lagi sedih juga malah diledekin," seru Lana cemberut.


Fatma menarik tubuh Lana ke dalam dekapannya dan menciumi pucuk kepalanya.


"Memangnya siapa pria yang kamu sukai?" tanya Bunda Fatma.


"Kak Alex, Bunda."


"Owalah, Nak Alex yang jarang bicara itu dan pelit senyum?"


Lana menganggukkan kepalanya dan itu membuat Fatma tersenyum.


"Kenapa kamu gak suka sama Nak Thomas atau Nak Niko saja, mereka berdua juga tampan-tampan kok," goda Bunda Fatma.


Lana melepaskan pelukan Fatma dan lagi-lagi Lana cemberut.


"Idih ogah, mereka berdua itu pria-pria menyebalkan Bunda apalagi Kak Thomas benar-benar sangat menyebalkan dan Lana juga berdo'a semoga Lana tidak berjodoh dengan Kak Thomas tapi berjodoh dengan Kak Alex," ketus Lana.


"Lana, jodoh itu ditangan Allah jangan terlalu memaksakan diri karena seseorang yang memang bukan jodoh kita, sekuat apa pun kita mengejarnya maka kita tidak akan pernah mendapatkannya," seru Bunda Fatma.


Lana terdiam, benar juga apa yang dikatakan bundanya itu.

__ADS_1


"Ya sudah, sekarang kamu makan dulu ya."


Lana menganggukkan kepalanya dan pergi ke meja makan untuk makan.


"Oh iya, Bunda dapat transferan uang dari donatur tetap kita jadi besok kamu temani bunda ke pasar untuk membeli peralatan sekolah adik-adik kamu."


"Siap, bunda."


Selama satu tahun ini Alex, Thomas, dan Niko memang sering berkunjung ke panti untuk sekedar bermain dengan anak-anak panti.


***


Keesokan harinya...


Alex sudah bangun pagi-pagi sekali dan sudah rapi dengan setelan kerjanya, kalau dilihat-lihat Alex memang pantasnya menjadi seorang bos bukan karyawan.


"Wah, putra Mama sudah tampan sekali," seru Mama Linda.


"Iya dong, Ma."


"Ayo, sarapan dulu."


"Thomas dan Papa mana?" tanya Alex.


"Thomas masih tidur, sedangkan Papa sedang berjemur di halaman depan," sahut Mama Linda.


"Bismillah, mudah-mudahan aku diterima bekerja di sana," gumam Alex dengan penuh semangat.


Beberapa saat kemudian, motor yang dikendarai Alex pun sampai di perusahaan itu dan betapa terkejutnya Alex saat melihat orang-orang yang melamar pekerjaan begitu sangat banyak.


"Astaga, banyak sekali," gumam Alex.


Alex ikut mengantri dan berdesak-desakan di sana, sungguh perjuangan Alex sangatlah besar dia baru tahu ternyata melamar pekerjaan itu sungguh berat perjuangannya.


Setelah surat lamarannya diserahkan, Alex menunggu di luar gedung untuk mencari udara segar. Hingga tidak lama kemudian, sebuah mobil mewah berhenti di depan perusahaan itu.


Seorang pria blasteran keluar dari dalam mobil dengan dikawal ketat oleh pengawalnya, pria itu adalah Jhon.


"Sepertinya dia pemilik perusahaan ini," batin Alex.


Alex meneguk air mineral yang dia beli di pinggir jalan dan menghela napasnya pelan. Hingga waktu pun berjalan dengan sangat cepat, tiba waktunya Alex masuk ruangan interview.


Alex berjalan dengan santainya menghampiri Jhon, tidak terlihat raut wajah gugup dalam diri Alex karena memang Alex sudah terbiasa menghadapi orang-orang.


"Selamat siang, Pak!" seru Alex.

__ADS_1


"Silakan duduk."


Jhon melihat penampilan Alex dari atas hingga bawah, Jhon mengerutkan keningnya. Penampilan Alex sangat berbeda dengan penampilan orang-orang yang melamar pekerjaan lainnya. Jhon melihat kalau Alex sangat berwibawa seperti seorang bos.


"Kamu pernah bekerja di mana?" tanya Jhon.


"Saya pernah bekerja di PT.ALTOM COMPANY," sahut Alex.


Jhon melihat-lihat surat lamaran Alex. "Bukanya PT.ALTOM sekarang sudah bangkrut?"


"Iya Pak, sudah lama makanya saya tidak punya pekerjaan lagi," sahut Alex.


"Jabatan kamu sebagai apa di sana?" tanya Jhon.


"Saya hanya sebagai karyawan biasa saja, Pak," dusta Alex.


"Karyawan biasa? apa kamu serius? tapi saya lihat kamu orang yang sangat pintar."


"Tidak Pak, Bapak terlalu memuji saya. Saya hanya karyawan biasa saja," sahut Alex merendah.


Jhon terus bertanya kepada Alex dan Alex bisa menjawab pertanyaan Jhon dengan sangat mudah.


Jhon tersenyum dan mengulurkan tangan kepada Alex. "Selamat, kamu diterima bekerja di sini," seru Jhon.


"Serius Pak, saya diterima bekerja di sini?" tanya Alex tidak percaya.


"Iya, dan besok kamu sudah bisa mulai bekerja," sahut Jhon.


"Alhamdulillah, terima kasih Pak."


Alex sangat bahagia, dia keluar dari ruangan interview dengan senyuman yang mengembang. Sungguh dia tidak percaya kalau pada akhirnya dia bisa diterima bekerja di sana.


Alex memutuskan untuk langsung pulang, dia ingin cepat-cepat memberitahukan kepada orang rumah mengenai kabar baik itu.


Berbeda dengan Alex yang sedang merasakan kebahagiaan, Stevi saat ini berada di rumah sakit karena kondisi maminya semakin menurun.


"Mi, cepat sembuh ya jangan buat Stevi khawatir. Stevi sedih kalau melihat mami sakit-sakitan seperti ini," seru Stevi dengan deraian air matanya.


"Jangan menangis sayang, kamu harus menjadi wanita yang kuat dan mandiri karena bagaimana pun mami juga nanti akan pergi juga meninggalkan kamu," lirih Mami Nia.


"Mami jangan bicara seperti itu, Stevi belum siap kalau harus kehilangan mami. Stevi belum siap kalau harus tinggal sendiri," sahut Stevi dengan air mata yang terus mengalir.


Nia mengusap air mata Stevi, dan memeluknya dengan sangat erat.


"Pokoknya kamu harus menjadi wanita yang kuat jangan lemah dan cengeng, mami yakin kamu bisa melaluinya tanpa mami dan cepat atau lambat kamu harus siap karena mami tidak tahu kapan Allah akan mencabut nyawa mami," seru Mami Nia dengan meneteskan air matanya.

__ADS_1


Stevi semakin sesenggukan di pelukan maminya, hatinya begitu sangat sakit. Jangankan ditinggalkan oleh maminya, membayangkannya saja sudah membuat hatinya terasa ngilu.


__ADS_2