
Stevi dan Jhon sudah mulai bekerjasama untuk proyek pembangunan perusahaan baru yang rencananya akan rampung dalam waktu satu tahun.
"Stevi, besok aku mau ke Indonesia untuk memantau proyek perusahaan baru kita, apa kamu mau ikut?" tanya Jhon.
Stevi yang sedang asyik mengunyah makanannya langsung terhenti dan menatap Jhon dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Tidak, sepertinya aku tidak ikut soalnya di sini aku banyak pekerjaan."
"Memangnya kamu tidak rindu Indonesia?" tanya Jhon.
"Rindu, tapi untuk saat ini belum saatnya aku kembali mungkin aku akan ke sana di saat proyek kita sudah selesai," sahut Stevi.
"Oke, kalau begitu aku pergi sendiri saja. Jaga diri kamu baik-baik di sini dan jangan macam-macam selama aku tidak ada," seru Jhon dengan senyumannya.
"Jangan macam-macam, maksudnya apa?" tanya Stevi bingung.
"Maksudnya kalau ada pria yang dekati kamu jangan diladeni karena aku tidak rela kalau sampai kamu dekat dengan pria selain aku," sahut Jhon.
"Apaan sih Jhon, kita tidak punya hubungan apa-apa jadi aku bebas mau dekat dengan siapa juga."
"Untuk sekarang memang kita tidak punya hubungan apa-apa, tapi siapa tahu ke depannya kita bisa menjalin hubungan yang lebih dari sebatas rekan bisnis," sahut Jhon.
Stevi terdiam, dia pun segera melanjutkan makannya. Untuk saat ini Stevi sama sekali tidak ada niat untuk menjalin hubungan dengan siapa pun dan sepertinya hati Stevi juga sudah tertutup dan membeku untuk menerima seorang pria.
"Lihat saja Stevi, aku pasti bisa meluluhkan hati kamu," batin Jhon dengan senyumannya.
Disakiti oleh dua pria membuat Stevi merasa tidak percaya lagi akan namanya cinta, bahkan Stevi tidak ada niatan untuk mencari pengganti Alex dia hanya ingin fokus kepada bisnisnya dan membahagiakan Maminya.
***
Satu tahun kemudian...
Perusahaan milik Stevi dan Jhon sudah mulai berdiri di Indonesia, dan sekarang sedang membuka lowongan pekerjaan untuk semua orang.
Pagi ini Stevi dan Jhon baru saja tiba di Indonesia, mereka langsung menuju perusahaan mereka untuk meresmikan pembukaan perusahaan baru itu.
"Stevi, kamu rencananya mau berapa lama di sini?" tanya Jhon disela-sela perjalanannya.
"Tidak akan lama, nanti malam juga aku langsung kembali ke Perancis soalnya aku meninggalkan Mami sendirian di sana, saat ini Mami sedang sakit," sahut Stevi dengan tatapan menerawang keluar jendela.
Jhon merasa kalau Stevi mempunyai kenangan buruk di sini tapi Jhon tidak berani untuk menanyakannya, makanya Stevi tidak mau lama-lama tinggal di Indonesia.
__ADS_1
"Aku belum siap kembali ke sini, dan aku juga belum siap bertemu dengannya," batin Stevi.
Stevi melewati lapak tempat Alex dan Thomas jualan, tapi Stevi tidak melihatnya karena saat ini Stevi sedang melamun dan pikirannya entah ke mana.
Berbeda dengan Alex yang tiba-tiba merasa jantungnya berdebar-debar.
"Ya Allah, jantungku kenapa kok tiba-tiba berdebar tidak karuan seperti ini," batin Alex.
Lana yang melihat Alex melamun, langsung menghampiri Alex.
"Kak Alex kenapa?" tanya Lana.
"Ah, tidak apa-apa," sahut Alex.
"Kakak sepertinya kurang enak badan, lebih baik kakak pulang saja biar aku yang jaga lapak ini," seru Thomas.
"Tidak, nanti kamu kewalahan kalau jualan sendiri," sahut Alex.
"Kan, ada si anak curut yang bantuin aku," seru Thomas.
"Enak saja anak curut, aku anak manusia," kesal Lana.
"Tenang saja, aku tidak apa-apa kok," sahut Alex.
"Kakak berkeringat," seru Lana.
"Aku tidak apa-apa jadi kamu tidak usah melakukan ini," seru Alex dengan mengambil tisu dari tangan Lana.
Thomas menjewer telinga Lana membuat Lana berteriak kesakitan.
"Astaga, lepaskan sakit tahu!" teriak Lana.
"Makanya jangan kecentilan, kamu selalu saja cari kesempatan dalam kesempitan," kesal Thomas.
"Yaelah, aku hanya berbaik hati membantu Kak Alex," sahut Lana.
"Aku tidak butuh bantuan kamu Lana, aku bisa melakukannya sendiri jadi kamu tidak usah repot-repot perhatian kepadaku," sahut Alex dingin.
"Dengerin tuh," sambung Thomas.
"Memangnya kenapa kalau aku perhatian sama Kak Alex? dari dulu aku selalu menunjukan rasa cinta aku kepada kakak tapi kakak tidak pernah memperdulikanku," seru Lana dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
Alex menghembuskan napasnya kasar. "Jangan suka sama aku karena aku tidak akan bisa membalas perasaanmu," seru Alex.
"Kenapa, Kak?"
"Ada satu wanita yang menempati hati Kak Alex, jadi jangan pernah kamu tanya lagi," seru Thomas dengan kesalnya.
Lana terdiam, selama satu tahun ini mereka memang dekat jadi Lana semakin jatuh cinta kepada Alex walaupun Alex selalu bersikap dingin tapi Lana tetap menyukai Alex.
Lana berlari dan pergi dari sana, air matanya mulai menetes ternyata sakit sekali rasanya jika cinta kita tidak dibalas.
"Astaga."
"Sudah Kak, biarkan saja," sahut Thomas.
Sementara itu, Stevi dan Jhon sudah sampai di perusahaan baru mereka. Mereka disambut dengan baik oleh karyawan, Stevi dan Jhon memulai dengan gunting pita sebagai peresmian kalau mulai sekarang perusahaan itu resmi beroperasi.
"Sekarang kalian pasang banner untuk pencarian karyawan baru, untuk semua orang yang melamar ke sini kalian terima saja yang penting mereka punya pengalaman kerja sebelumnya di tempat lain," seru Stevi.
"Baik, Bu."
Stevi dan Jhon masuk ke dalam ruangan yang nantinya akan menjadi ruangan Stevi.
"Bagaimana untuk design ruangannya, apa kamu suka?" tanya Jhon.
"Lumayan."
Stevi berdiri di depan jendela ruangannya dan menatap kota Jakarta dari sana.
"Sudah satu tahun, tapi kenapa hati aku masih berada di sini," batin Stevi.
Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, seperti biasa Alex pulang dengan mengendarai motornya sedangkan Thomas menggunakan mobil yang baru saja dibeli satu bulan yang lalu.
Alex dan Thomas sudah bisa membeli mobil walaupun mobil bekas tapi setidaknya usaha mereka berjalan dengan lancar.
Alex melewati perusahaan baru itu. "Wah, perusahaan ini sedang membuka lowongan pekerjaan besar-besaran, sepertinya besok aku harus melamar pekerjaan ke sini mudah-mudahan saja aku bisa diterima," batin Alex dengan senyumannya.
Alex memperhatikan perusahaan itu, seperti ada daya tarik tersendiri bagi Alex. Setelah cukup lama terdiam, Alex pun memutuskan untuk pulang ke rumahnya.
Tidak membutuhkan waktu lama, Alex sampai di rumah dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Alex mengambil keperluan untuk melamar pekerjaan dari dalam lemarinya.
"Mudah-mudahan saja besok aku diterima bekerja di sana," batin Alex.
__ADS_1
Alex tidak tahu kalau perusahaan itu milik Stevi, entah bagaimana jadinya jika Alex tahu siapa pemilik perusahaan asing itu dan apakah Alex akan bertemu dengan Stevi kembali?