
Hari ini adalah hari Sabtu, dan itu artinya kerja pun libur. Stevi baru saja menggerakkan tubuhnya, dia melihat jam dan sudah menunjukan pukul 09.00 pagi.
"Astaga ternyata sudah siang," gumam Stevi.
Stevi mulai bangun, dia pun segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah selesai, Stevi mengganti bajunya dengan baju santai celana jeans pendek dan kaos oblong biasa.
"Nona, hari ini Nona mau sarapan apa?" tanya Bi Wati.
"Tidak Bi, aku mau keluar saja sambil jalan-jalan," sahut Stevi.
Stevi mengambil tas dan juga kunci mobilnya, dia ingin keliling kota karena tidak bisa dipungkiri kalau Stevi juga merindukan kota kelahirannya itu.
Sedangkan Alex, Thomas, dan Niko, saat ini sudah berada di lapak jualan. Di hari Sabtu dan Minggu, Alex beserta Niko akan ikut membantu jualan karena mereka libur kerja.
"Kak, kata mama, Stevi sudah kembali ya?" tanya Thomas.
"Iya, ternyata perusahaan tempat aku bekerja milik dia juga," sahut Alex.
"Serius, Kak? terus, bagaimana Stevi sekarang?" tanya Thomas.
"Pasti semakin cantik dan dewasa," sambung Niko.
"Iya, Stevi makin cantik bahkan aku sampai tidak bisa tidur karena terus saja membayangkan wajah Stevi," sahut Alex dengan senyumannya.
Lana menopang dagunya mendengarkan pembicaraan ketiga pria tampan itu, bahkan Lana sampai tidak berkedip kala melihat Alex tersenyum karena selama tiga tahun ini, Lana jarang sekali melihat Alex tersenyum.
"Berarti wanita itu benar-benar cantik ya, kalian saja sampai bilang cantik terus," seru Lana.
Niko mengusap wajah Lana. "Stevi itu wanita sempurna, coba saja kalau nanti kamu lihat dia jangankan kamu, wanita-wanita lain diluar sana akan merasa insecure kalau berhadapan dengannya. Sudah cantik, pinter, pebisnis hebat pula, pria mana yang tidak menginginkan Stevi, hanya Kak Alex saja yang bego sudah menyia-nyiakan Stevi," cerocos Niko.
Thomas menyikut Niko, Thomas tahu kalau saat ini Kakaknya sedang menatap ke arah Niko.
"Apaan sih?" kesal Niko.
"Lihat wajah Kak Alex, bego," bisik Thomas.
__ADS_1
Niko menelan salivanya dan berusaha tersenyum. "Maaf kak, barusan aku keceplosan," seru Niko dengan cengirannya.
"Aku tahu, aku sudah bersalah tapi untuk kali ini aku tidak akan menyerah dan aku akan meluluhkan hati Stevi lagi," seru Alex.
Niko langsung menghampiri Alex dan merangkul pundak Alex. "Bagus Kak, kita pasti akan mendukung kakak dan satu lagi, jika kakak butuh bantuan jangan sungkan-sungkan, aku dan Thomas pasti akan siap membantu, iya kan, Thom?"
"Iya dong."
Tidak lama setelah itu, pembeli mulai berdatangan.
"Enaknya makan apa, ya?" gumam Stevi sembari celingukan mencari penjual makanan.
Stevi melihat di depan sana ada salah satu penjual yang pembelinya sampai antri panjang.
"Wih, kayanya itu makanan enak soalnya pembelinya pun sampai antri kaya gitu," gumam Stevi.
Stevi tersenyum dan menepikan mobilnya di depan stand milik Alex dan Thomas. Stevi membuka kaca mobilnya dan terlihat antri sekali bahkan penjualnya pun tidak terlihat.
"Ya ampun antri banget, bisa-bisa dapat makanannya lama mana tempat duduknya pun penuh lagi," gumam Stevi.
Stevi malas menunggu tapi dia juga penasaran dengan rasa makanan itu, hingga akhirnya Stevi pun keluar dari dalam mobilnya dan berdiri di samping mobilnya itu.
"Guys, kalian merasa ada yang aneh tidak?" seru Lana.
"Yang aneh apa?" tanya Thomas.
"Kok semua orang menoleh ke arah sana? mereka lihat apa?" seru Lana bingung.
Alex, Thomas, dan Niko serempak menoleh dan betapa terkejutnya mereka saat melihat wanita cantik yang baru saja mereka bicarakan sedang berdiri di samping mobilnya sembari mengotak-ngatik ponselnya.
"Stevi," seru ketiganya bersamaan.
"Hah, jadi dia yang namanya Kak Stevi," seru Lana.
Ketiga pria tampan itu menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Kak Stevi!" teriak Lana dengan melambaikan tangannya.
Stevi yang sedang mengotak-ngatik ponselnya langsung menoleh, dan betapa terkejutnya Stevi saat melihat siapa pria-pria yang ada di sana.
"Kak Alex, Thomas," batin Stevi.
Niko menutup mulut Lana. "Apaan sih pakai panggil-panggil segala, memangnya kamu kenal sama dia?" kesal Niko.
Stevi membalikan tubuhnya hendak masuk ke dalam mobilnya tapi Alex segera berlari dan menahan Stevi.
"Kamu mau ke mana?" tanya Alex.
"Lepaskan aku!" seru Stevi tanpa melihat wajah Alex.
"Tatap aku Stevi. Sebenci itukah kamu sama aku, sampai-sampai kamu tidak mau melihat wajahku?" seru Alex.
"Itu kamu tahu, jadi sekarang lepaskan aku," sahut Stevi.
Alex kesal, dia membalikan tubuh Stevi sehingga Stevi langsung menatap Alex.
"Aku harus bagaimana supaya kamu mau memaafkanku? tiga tahun berlalu, tidakkah ada sedikit saja hati kamu terbuka untuk memaafkanku," seru Alex.
Stevi terdiam, dia tidak tahu harus menjawab apa hingga tidak lama kemudian terdengar suara perut Stevi yang kelaparan. Stevi melepaskan tangan Alex dan memegang perutnya membuat Alex mengulum senyumnya.
"Kamu lapar?" tanya Alex dengan senyumannya.
"Tidak," sahut Stevi gugup dengan wajah yang memerah.
Alex memperhatikan kursi yang ada di sana ternyata sudah penuh, lalu Alex mengangkat tubuh Stevi membuat Stevi kaget. Alex mendudukkan Stevi di kap mobil Stevi.
"Tunggu di sini, aku buatkan makanan untukmu. Kamu belum tahu kan rasa ayam geprek yang saat ini sedang viral," seru Alex dengan senyumannya.
Stevi terdiam dan menatap Alex dengan mengerutkan keningnya.
"Hanya sepuluh menit saja," seru Alex dengan mengedipkan matanya.
__ADS_1
Stevi sampai terkejut melihat sikap Alex yang seperti itu, bagaimana bisa pria yang dulu sangat dingin dan kejam berubah menjadi konyol seperti itu.
Alex segera berlari dan membuatkan ayam geprek untuk Stevi, sungguh diluar nalar. Ternyata waktu 3 tahun sudah merubah kehidupan Alex, bahkan Stevi bisa lihat Alex begitu telaten memasak.