
Tubuh Alex bergetar hebat, dia menangis sejadi-jadinya dan dia juga tidak peduli disebut pria cengeng karena memang saat ini hatinya benar-benar hancur berkeping-keping.
"Alex, kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Mama Linda lembut.
Alex menatap wajah mamanya. "Alex jahat Ma, Alex sudah membunuh calon anak Alex," seru Alex dengan deraian air matanya.
"Itu bukan salahmu Nak, tapi wanita itu yang sudah nekad ingin membunuh Stevi," sahut Mama Linda.
Alex baru teringat akan Maya, dia pun langsung berdiri dengan wajah yang memerah.
"Ma, tolong Mama jaga Stevi dan temani Mami Nia, Alex mau pergi dulu."
"Kamu mau ke mana?"
"Alex akan membuat perhitungan kepada wanita gila itu."
"Jangan macam-macam Lex, Mama tidak mau kamu sampai kena masalah lagi gara-gara wanita itu."
"Tenang saja, Alex tidak akan kenapa-napa."
Alex menghampiri Thomas yang sedang sedih juga. "Aku pinjam mobil kamu," seru Alex.
Thomas dengan lemas memberikan kunci mobilnya, saat ini Thomas sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi bahkan untuk sekedar mengangkat tangan pun rasanya sangat lemas.
Dengan emosi yang memuncak, Alex segera menuju kantor polisi. Dia ingin membuat perhitungan kepada Maya, dia tidak peduli itu di kantor polisi yang jelas Alex ingin Maya merasakan apa yang saat ini dia rasakan.
Alex melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dan tidak membutuhkan waktu lama Alex pun sampai di kantor polisi.
"Pak, saya mau menemui wanita yang tadi siang sudah menabrak istri saya," seru Alex.
"Baik, silakan Bapak ikut saya."
Alex mengikutinya dari belakang, terlihat Maya sudah berada di dalam sel sendirian tapi ada yang aneh dengannya dan itu membuat Alex mengerutkan keningnya.
"Wanita itu dari tadi menangis dan tertawa secara bersamaan, kadang-kadang juga berteriak dan melukai dirinya sendiri, sepertinya wanita itu ada gangguan mental dan rencananya sore ini kami akan memeriksakan kejiwaan wanita itu dan kalau wanita itu terbukti mengalami gangguan jiwa, kami tidak bisa menahannya dan mungkin kami akan bawa dia ke rumah sakit jiwa," jelas polisi itu.
__ADS_1
Alex tersentak dengan penjelasan polisi, dia pun perlahan menghampiri Maya yang sedang duduk di sudut ruangan dengan memeluk kedua lututnya.
"Kalian jahat, aku ingin seperti Stevi yang disukai banyak orang!" teriak Maya.
"Maya."
Maya menoleh dan menghampiri Alex. "Kak Alex, kenapa aku di sini bukannya besok kita akan menikah?" seru Maya dengan senyumannya.
Alex langsung mencekik Maya dari balik jeruji besi membuat polisi menahan Alex dan berusaha melepaskannya.
"Dasar pembunuh, kamu sudah membunuh calon anakku jadi sampai kapanpun aku tidak Sudi menikahimu!" bentak Alex.
"Sabar Pak, jangan seperti ini."
Kedua polisi itu berusaha melepaskan Alex, hingga beberapa saat kemudian Alex pun bisa melepaskan cekikannya. Maya kembali duduk di sudut ruangan dengan mengacak-ngacak rambutnya sendiri.
"Aku bukan pembunuh, aku bukan pembunuh."
Maya menangis tapi sesaat kemudian Maya tertawa sembari membenturkan kepalanya sendiri ke dinding.
"Pak Andi, tolong amankan wanita itu."
Alex akhirnya memilih untuk pergi dari sana, dia kembali melajukan mobilnya menuju rumahnya karena dia ingin mengganti bajunya yang sudah penuh dengan darah itu.
Sesampainya di rumah, Alex segera menuju kamar dan masuk ke dalam kamar mandi. Alex mengguyur tubuhnya dengan air shower, air matanya kembali menetes, tubuhnya bergetar hebat ingat akan ucapan dokter tadi.
Alex memukul-mukul dadanya sendiri. "Astaga, kenapa rasanya sakit sekali," batin Alex.
Alex dengan cepat menyelesaikan mandinya, dia ingin cepat-cepat ke rumah sakit kembali menemani Stevi. Dia tidak memperdulikan perutnya yang belum terisi semenjak tadi pagi, yang jelas dia ingin berada di samping Stevi.
Sementara itu di rumah sakit, operasinya berjalan dengan sangat lancar dan saat ini Stevi dipindahkan ke ruangan rawat inap dalam kondisi yang belum sadarkan diri.
"Ya Allah, bangun Nak. Mami tidak sanggup kalau kamu seperti ini, baru saja satu Minggu yang lalu Papi kamu meninggalkan kita dan sekarang Mami tidak mau kehilangan kamu karena kalau sampai itu terjadi, Mami bisa gila," seru Mami Nia dengan menggenggam tangan Stevi.
Linda mengusap punggung Nia. "Kamu yang sabar Nia, aku yakin Stevi adalah anak yang kuat dan dia akan kembali sehat seperti sedia kala," seru Mama Linda.
__ADS_1
"Iya Mbak."
"Nia, ngomong-ngomong kenapa kamu menyembunyikan mengenai kehamilan Stevi? padahal itu kan cucu aku juga," seru Mama Linda.
"Maafkan aku Mbak, tapi Stevi yang memintanya," sahut Mami Nia.
Bobby dan Thomas hanya bisa terdiam terutama Thomas, dia tidak bisa membayangkan bagaimana kalau Stevi sadar dan tahu janinnya sudah tidak ada pasti Stevi akan sangat sedih.
Beberapa saat kemudian, Alex pun sampai di rumah sakit. "Bagaimana keadaan Stevi, Mi?" tanya Alex.
"Belum sadar."
"Lebih baik sekarang kalian makan dulu, Stevi biar Alex yang jaga," seru Alex.
"Tidak, Mami tidak lapar Nak. Mami akan terus menjaga Stevi di sini, Mami tidak mau meninggalkan Stevi," sahut Mami Nia.
Linda menarik tangan Alex untuk keluar dari ruangan rawat Stevi dan duduk di kursi yang ada di luar.
"Alex, jawab yang jujur. Bukannya kamu dan Stevi belum saling mencintai? tapi kenapa Stevi bisa hamil anak kamu?" tanya Mama Linda.
Alex menundukkan kepalanya, lalu dia menceritakan semuanya kepada mamanya itu.
"Astagfirullah Alex, kamu benar-benar sudah membuat Stevi sedih. Pantas saja Stevi melarang maminya untuk memberitahukan mengenai kehamilannya. Astaga, pasti sakit sekali menjadi Stevi," seru Mama Linda.
"Maafkan Alex, Ma. Alex memang sudah sangat berdosa kepada Stevi karena selama ini Alex sudah bersikap kejam kepadanya," seru Alex dengan masih menundukkan kepalanya.
"Mama yakin, setelah Stevi sadar nanti dia tidak akan mungkin bisa memaafkan kamu."
"Alex tahu Ma, tapi Alex akan terus meminta maaf kepada Stevi walaupun dia menyuruh Alex untuk mati, Alex akan lakukan itu asalkan Stevi mau memaafkan Alex," seru Alex dengan deraian air matanya.
Linda merasa sangat kasihan kepada putra sulungnya itu, Linda akui kalau Alex memang sudah keterlaluan kepada Stevi tapi ia juga tidak tega melihat Alex sedih sampai menangis seperti itu.
Selama ini Linda tidak pernah melihat Alex menangis, tapi kali ini Linda benar-benar terenyuh oleh Alex. Linda memeluk putra sulungnya itu dan ikut meneteskan air matanya juga.
"Mama tahu bagaimana perasaan kamu saat ini, mudah-mudahan nanti Stevi mau memaafkan kamu," seru Mama Linda.
__ADS_1
"Hati Alex sakit Ma, sakit banget karena bagaimana pun Alex ikut tanggung jawab atas kematian calon anak Alex," seru Alex dengan deraian air matanya.
Linda semakin mengeratkan pelukannya, Linda merasa sangat kasihan kepada Alex sungguh saat ini Alex sudah sangat teramat menyesal.