
Alex sudah selesai mandi dan berganti baju, baru saja Alex menuruni anak tangga tiba-tiba ponselnya bergetar dan melihat sebuah pesan dari Mamanya.
"Hah, Stevi ada di rumah? Ngapain dia ke rumah?" gumam Alex.
Alex dengan cepat berlari masuk ke dalam mobilnya dan segera melajukan mobilnya menuju rumahnya.
Sementara itu, Stevi dan Linda menyiapkan hasil masakannya di atas meja makan.
"Wah, makanannya harum sekali," seru Papa Bobby.
"Pa, ternyata Stevi membohongi kita semua," seru Mama Linda.
"Bohong apa?"
"Katanya dia gak bisa masak, tapi nyatanya Stevi pinter sekali masak malah Mama yang balik diajari sama Stevi," sahut Mama Linda dengan senyumannya.
"Stevi memang wanita sempurna, Thomas menyesal dulu meninggalkan Stevi," seru Thomas dengan menoleh ke arah Stevi.
Stevi tidak menanggapi ucapan Thomas, bahkan Bobby dan Linda pun hanya diam mereka tidak mau sampai salah bicara.
"Makanya kalau sampai Kakakmu melakukan hal bodoh dengan menyakiti Stevi, Papa yakin Kakakmu akan menyesal seumur hidupnya karena jarang sekali kalian bisa menemukan ada wanita cantik, pinter dalam segala hal seperti Stevi," seru Papa Bobby.
Tidak lama kemudian, Alex pun datang dan langsung duduk di samping Stevi.
"Kok kamu gak bilang kalau kamu mau ke sini?" tanya Alex.
Stevi mengambilkan nasi dan lauk pauknya untuk Alex, lalu memberikannya kepada Alex tanpa mau menjawab pertanyaan dari Alex. Thomas merasa sangat cemburu, seandainya dulu dia tidak kabur mungkin yang akan dilayani oleh Stevi itu adalah dirinya bukan Kakaknya.
Sedangkan Alex tampak bahagia, walaupun Alex tahu Stevi melakukannya karena di depan orang tuanya tapi Alex merasa sangat bahagia.
"Oh iya, kalian semenjak menikah belum melakukan bulan madu, apa perlu Mama dan Papa yang pesankan tiket untuk kalian," goda Mama Linda.
"Tidak usah Ma, Stevi tidak butuh bulan madu lagipula akhir-akhir ini Stevi sedang banyak pekerjaan jadi Stevi tidak bisa pergi ke mana-mana dulu," sahut Stevi dingin.
"Bulan depan kita ada perjalanan bisnis ke Singapura jadi sekalian bulan madu saja," seru Alex dengan senyumannya.
"Woi, itu urusan bisnis bukan buat mesra-mesraan jadi lebih baik fokus saja kerja jangan melakukan hal yang lain-lain," ketus Thomas.
__ADS_1
"Apaan sih nyambung aja, kenapa? kamu cemburu?" kesal Alex.
"Iya, aku cemburu. Terus kamu mau apa?" tantang Thomas.
"Astaga, kalian itu kenapa sih? dasar tidak punya sopan santun, di depan makanan masih saja bertengkar!" sentak Papa Bobby.
Thomas dan Alex seketika diam, sedangkan Stevi sibuk dengan makanannya dia tidak memperdulikan pertengkaran itu.
"Ma, Pa, Stevi ke kamar dulu mau mandi sudah gerah," seru Stevi.
"Iya, sayang."
Stevi langsung menuju kamar Alex, beruntung Stevi tidak membawa semua baju-bajunya dulu. Beberapa saat kemudian, Stevi sudah selesai mandi dan berganti baju tiba-tiba pintu kamar itu terbuka, terlihat Alex masuk ke dalam kamarnya.
"Kamu mau menginap di sini?" tanya Alex.
"Iya, Mama menyuruhku untuk menginap. Kakak kalau mau pulang, pulang saja," seru Stevi dingin.
"Kalau kamu menginap, aku juga ikut menginap di sini," sahut Alex.
Alex merebahkan tubuhnya di atas kasur, Stevi mengambil selimut dari dalam lemari lalu dia tidur di atas sofa.
Lagi-lagi Stevi tidak menggubris ucapan Alex, dia mulai merebahkan tubuhnya di atas sofa itu dan memejamkan mata. Alex hanya bisa menghembuskan napasnya dengan kasar, sungguh Stevi saat ini sudah sangat berubah.
Alex memperhatikan Stevi, napasnya sudah teratur pertanda kalau Stevi sudah terlelap. Perlahan Alex menghampiri Stevi dan berjongkok di hadapan Stevi, diperhatikannya wajah cantik Stevi.
"Aku sadar, kesalahanku kepadamu sudah sangat besar dan kamu tidak akan pernah memaafkanku," batin Alex.
Alex menyingkirkan anak rambut Stevi yang menghalangi wajah cantik Stevi.
"Kasihan sekali kamu, padahal kamu tidak salah apa-apa tapi aku dengan kejamnya selalu memperlakukan kamu dengan sangat kasar. Aku baru tahu kalau kamu pintar masak, padahal dulu aku mengira kalau kamu hanya anak manja yang tidak bisa apa-apa tapi ternyata aku salah dan aku sangat kagum akan kelebihan mu," batin Alex.
"Jangan lakukan itu Kak, aku mohon. Lepaskan aku Kak."
Alex membelalakkan matanya, Stevi mengigau pasti saat ini Stevi sedang bermimpi mengenai kejadian waktu itu. Air mata Stevi mengalir membuat Alex merasakan sakit yang teramat luar biasa.
Alex menghapus air mata Stevi dengan sangat hati-hati karena takut Stevi bangun.
__ADS_1
"Maafkan aku Stev, maaf. Aku sudah menyakiti kamu terlalu dalam, aku janji akan memperlakukan kamu jauh lebih baik lagi dan aku juga akan mempertanggung jawabkan semuanya," batin Alex.
Alex mengangkat tubuh Stevi dan memindahkan Stevi ke atas tempat tidurnya, setelah itu Alex merebahkan tubuhnya di atas sofa.
***
Keesokan harinya...
Stevi mulai menggerakkan tubuhnya, Stevi kaget saat tahu kalau dirinya tidur di atas tempat tidur sedangkan Alex tidur di atas sofa.
"Lho, kok aku jadi tidur di sini? apa Kak Alex yang memindahkan ku?" batin Stevi.
Stevi langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, tidak lupa dia membawa baju ganti ke dalam kamar mandi. Setelah selesai mandi dan mengganti baju, Stevi pun merias wajahnya di depan cermin.
Alex terbangun karena mencium parfum Stevi yang sangat menyegarkan itu. Alex mulai membuka matanya, dilihatnya Stevi sedang dandan. Alex menyunggingkan senyumannya, entah kenapa jantung berdebar.
"Cantik banget," batin Alex.
Stevi membuka handuk yang menempel di kepalanya, lalu mulai mengeringkan rambutnya. Stevi tidak tahu kalau Alex sudah bangun dan sedang memperhatikannya.
Melihat rambut Stevi basah membuat adik Alex tiba-tiba bangun, Stevi terlihat **** dengan rambut basahnya dan seketika Alex ingat akan kejadian waktu itu dan mengusap adiknya.
"Astaga, kenapa kamu bangun sih?" batin Alex.
Alex terus saja memperhatikan Stevi, Alex merasa bahagia dan tidak mau melepaskan pandangannya.
"Gila, selama ini mata aku kenapa? wanita secantik dan seanggun ini selalu aku kasarin," batin Alex.
Alex memang sudah dibutakan oleh cintanya kepada Maya, sehingga Alex tidak sadar kalau selama ini ada bidadari yang selalu dia perlakukan dengan kejam.
"Kamu memang bodoh, Alex."
Alex terus saja merutuki kebodohannya, dia benar-benar sangat menyesal sudah bersikap kasar dan kejam kepada Stevi. Sekarang Alex justru tidak rela Stevi membencinya apalagi sampai meninggalkannya.
Stevi sudah selesai merias dirinya, Stevi menoleh ke arah Alex dan Alex dengan cepat menutup matanya karena Alex tidak mau sampai Stevi mengetahui kalau dari tadi dirinya memperhatikan Stevi.
Stevi pun segera keluar dari kamar Alex, Alex dengan cepat bangun dan melihat ke arah adiknya.
__ADS_1
"Astaga, sepertinya aku harus berendam dengan air dingin ini," gumam Alex dengan mengacak-ngacak rambutnya.