
Satu bulan kemudian....
Waktu berjalan dengan sangat cepat, semenjak kejadian di rumah sakit Alex hanya bisa melihat Stevi dari balik pintu saja karena kalau masuk, ditakutkan Stevi kembali histeris.
Stevi sudah pulang ke rumah, sifat Stevi sudah mulai berubah. Dia menjadi pendiam dan mengurung diri di kamarnya, bahkan perusahaan pun diurus oleh Maminya untuk sementara.
Kejadian kecelakaan yang menimpa Stevi menjadi berita yang viral, bahkan semua orang sudah tahu akan kelakuan Alex yang selingkuh dengan sekretarisnya dan berpengaruh kepada perusahaannya.
Stevi berdiri di depan jendela kamarnya, raut wajahnya sangat dingin tanpa ekspresi sama sekali.
"Kak Alex, Thomas, dan Maya, kalian harus menerima pembalasanku. Kalian tidak pantas hidup bahagia di atas penderitaanku, lihat saja apa yang akan aku lakukan untuk kalian," batin Stevi dengan mengepalkan kedua tangannya.
Sementara itu di perusahaan Alex, semua karyawan selalu saja bergunjing mengenai Alex dan Maya tapi Alex tidak pernah memperdulikannya.
Sedangkan Maya, saat ini berada di rumah sakit jiwa karena dokter sudah menyatakan kalau Maya memang mengalami gangguan jiwa. Maya suka berteriak-teriak dan menangis sembari menyebut nama Stevi.
***
Keesokan harinya...
Stevi menuruni anak tangga dengan penampilan yang sudah rapi.
"Sayang, apa kamu sudah siap masuk kantor lagi?" tanya Mami Nia.
"Iya Mi, perusahaan itu sudah menjadi tanggung jawab Stevi dan peninggalan Papi jadi Stevi tidak boleh bermalas-malasan," sahut Stevi dingin.
"Apa kamu baik-baik saja, sayang?"
"Stevi baik-baik saja Mi, Mami jangan khawatir."
Nia menatap putrinya itu dengan penuh selidik, saat ini Stevi memang sangat berubah tidak sehangat dulu dan Nia juga terlihat khawatir dengan keadaan putrinya itu.
"Stevi berangkat dulu, Mi."
"Iya sayang, kamu hati-hati."
Stevi mulai melajukan mobilnya menuju kantornya tapi sebelum ke kantor, dia sudah janjian dengan pengacara yang mengurus soal perceraiannya.
Tidak membutuhkan waktu lama, Stevi pun sampai di kantor pengacaranya.
"Selamat pagi, Pak Rahmat!" sapa Stevi.
"Selamat pagi, Nona. Silakan duduk."
"Bagaimana Pak, apa semuanya sudah selesai?" tanya Stevi.
"Semuanya sudah beres Nona, karena Nona dan Pak Alex tidak pernah datang ke persidangan jadi proses perceraian kalian berjalan dengan sangat cepat dan saat ini Nona dan Pak Alex sudah resmi bercerai," seru Pak Rahmat.
"Bagus, tolong Bapak kirimkan juga surat cerai itu kepada dia biar dia segera menikahi wanita gila itu," seru Stevi.
"Baik, Nona."
"Terima kasih Pak, kalau begitu saya pamit."
__ADS_1
"Sama-sama, Nona."
Stevi pun pergi dan kembali melajukan mobilnya menuju kantornya, sesampainya di kantor semua karyawan Stevi menatap Stevi dengan tatapan iba.
Sungguh mereka sangat marah kepada Alex karena menyia-nyiakan bosnya yang cantik demi wanita yang tidak ada apa-apanya.
"Tolong panggilkan Pak Wisnu ke ruangan saya," seru Stevi kepada salah satu karyawan.
"Baik, Bu."
Wisnu adalah orang kepercayaan papinya Stevi. Stevi masuk ke dalam ruangannya dan duduk di kursi kebesarannya sembari menunggu Wisnu.
Tok...tok..tok..
"Masuk!"
"Pagi Bu, apa Ibu memanggil saya?"
"Iya Pak Wisnu, silakan duduk."
"Terima kasih."
"Bagaimana, apa Pak Wisnu sudah mengerjakan apa yang aku suruh?" tanya Stevi.
"Sudah Bu, dan semuanya berjalan dengan lancar. Semua pemegang saham di perusahaan Pak Alex sudah saya tarik semuanya untuk mengundurkan diri dan membatalkan kerjasama dengan perusahaan mereka dan sebentar lagi saya jamin, perusahaan mereka akan bangkrut dalam sekejap," sahut Pak Wisnu.
"Bagus, itu yang aku inginkan kalau begitu Pak Wisnu boleh kembali bekerja."
"Baik Bu, saya pamit."
"Sebentar lagi kalian akan menjadi gembel, dan nikmatilah keterpurukan kalian," gumam Stevi.
Di ruangan Alex...
"Kak, bagaimana ini? omset kita sebulan terakhir ini anjlok," seru Thomas.
"Aku juga bingung, ini efek dari kasus kemarin," sahut Alex sembari memijat keningnya yang sudah terasa berdenyut.
Tok..tok..tok..
"Masuk!"
"Maaf mengganggu sebentar Pak Alex dan Pak Thomas," seru Haris.
"Ada apa, Pak Haris?" tanya Thomas.
"Pemegang saham di perusahaan kita semuanya membatalkan kerjasamanya dan sekarang mereka juga meminta ganti rugi atas proyek di Bali karena mereka tidak akan melanjutkannya," seru Haris dengan wajah yang pucat.
"Apa?"
Alex dan Thomas sangat terkejut. "Adakan rapat dadakan sekarang juga," seru Alex.
"Baik, Pak."
__ADS_1
Tidak membutuhkan waktu lama, Alex dan Thomas melangsungkan rapat dadakan untuk meminta pengertian dari pemegang saham namun ternyata mereka tetap pada pendirian mereka apalagi nama Alex sudah sangat tercoreng membuat para pemegang saham tidak percaya lagi akan kinerja Alex.
Alex dan Thomas pasrah, bahkan mereka harus menjual semua aset untuk menggaji karyawan. Apalagi Alex semakin terpuruk saat mendapat surat cerai, Alex dan Stevi sudah resmi bercerai.
Bobby yang mendengar berita itu langsung jatuh sakit dan dinyatakan mengalami stroke.
"Ya Allah, mungkin ini karma yang aku dapatkan karena sudah memperlakukan wanita baik hati dengan kejam bahkan aku juga sudah membunuh anakku sendiri," batin Alex.
Saat ini Alex, Thomas, dan Linda sedang berada di rumah sakit menjaga Bobby, perusahaan mereka dinyatakan bangkrut dan mereka sudah pasrah dengan semua ini.
"Maafkan Alex, Ma, Pa, karena akibat kelakuan Alex, kalian juga harus ikut menanggung akibatnya," seru Alex.
Linda mengusap pundak Alex dengan lembut. "Tidak apa-apa Nak, ini merupakan suatu pembelajaran bagi kita semua," seru Mama Linda.
"Sepertinya kita harus cari rumah yang lebih kecil lagi deh, rumah itu terlalu besar dan kita tidak akan kuat membayar semuanya. Mulai dari listri, air, dan lain-lain," seru Thomas.
"Iya Nak, kalian urus saja mama dan papa sudah ikhlas, iya kan Pa?" seru Mama Linda.
Bobby menganggukkan kepalanya, saat ini Bobby dinyatakan mengalami kelumpuhan dari perut ke bawah.
"Rumah Alex juga akan Alex jual untuk modal usaha ke depannya, kita buka usaha kecil-kecilan yang penting bisa menghidupi keluarga kita," seru Alex.
Linda memeluk kedua putranya itu dengan deraian air matanya.
***
Malam pun tiba...
Stevi menghampiri maminya yang sedang duduk termenung di depan jendela kamarnya.
"Mi, apa Stevi boleh masuk?"
"Masuk saja, sayang."
Stevi duduk di samping maminya itu dan menggenggam tangan maminya.
"Mi, Stevi mau bicara penting sama mami."
"Kamu mau bicara apa, sayang?"
"Mi, Stevi ingin pindah dari sini."
"Apa? pindah? pindah ke mana?" tanya Mami Nia.
"Stevi sudah memikirkannya dengan sangat matang, dan Stevi ingin pindah ke Perancis untuk beberapa tahun ke depan kita menetap di sana. Stevi hanya ingin menenangkan diri dulu, kalau Stevi masih di sini, Stevi akan teringat terus akan kejadian-kejadian sebelumnya karena pasti Stevi akan tetap bertemu dengan Kak Alex dan Thomas. Stevi ingin melupakan semuanya, Mi."
"Tapi bagaimana dengan perusahaan kita?" tanya Mami Nia.
"Ada Pak Rahmat yang akan memegang perusahaan untuk sementara waktu, lagipula Stevi juga akan terus memantau perusahaan dari sana."
Nia mengusap wajah Stevi dengan senyumannya. "Baiklah, mami ikut saja sama kamu."
"Terima kasih ya, Mi."
__ADS_1
Stevi pun memeluk maminya, tidak bisa dipungkiri kalau Stevi memang merasa sangat sakit dengan perlakuan Alex tapi di dalam hatinya yang paling dalam, rasa cinta untuk Alex itu masih tersisa namun untuk sekarang rasa benci Stevi jauh lebih besar dibandingkan dengan rasa cintanya.