
Sesampainya di kantor, wajah Alex terlihat sangat marah.
"Selamat pagi, Pak!" sapa Maya.
"Kamu ikut ke ruangan ku," seru Alex.
"Baik, Pak."
Maya tersenyum berseri-seri, dia berpikir kalau Alex akan melakukan hal yang manis-manis untuknya.
Di dalam ruangan Alex, Maya langsung menghampiri Alex dan memeluk Alex dari belakang.
"Ada apa Kak, pagi-pagi ngajak aku ke ruangan mu? Kakak rindu ya sama aku," seru Maya dengan senyumannya.
Alex melepaskan pelukan Maya dan membalikan tubuhnya lalu menatap tajam ke arah Maya.
"Kamu dapat foto Stevi dari mana?" tanya Alex menahan amarah.
"Foto yang mana?"
"Foto Stevi yang tidur bersama pria di sebuah hotel."
"Memangnya kenapa?" tanya Maya gugup.
"Itu bukan foto Stevi, iya kan?"
Maya terkejut dengan ucapan Alex. "Dia tahu dari mana kalau itu bukan foto Stevi?" batin Maya.
"Jawab Maya, itu foto Stevi bukan?" bentak Alex.
Maya mulai gugup, tapi bukan Maya kalau dia tidak bisa membalikan fakta.
"Aku juga gak tahu Kak, aku dapat foto itu dari teman aku mungkin saja teman aku itu salah lihat tapi wajahnya memang mirip sekali dengan Stevi," seru Maya dengan raut wajah yang dibuat pura-pura polos.
Alex kembali mengusap wajahnya kasar. "Keluar kamu dari ruangan aku, dan cancel semua jadwal aku hari ini karena aku sedang tidak mood," seru Alex dingin.
"Kak, Kakak marah sama aku?" seru Maya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Alex semakin bingung, dia paling lemah kalau melihat Maya menangis. Alex pun akhirnya memeluk Maya dan mengusap kepala Maya dengan penuh kasih sayang.
"Tidak, aku tidak marah sama kamu tapi aku tadi merasa kesal saja kenapa teman kamu mengirimkan foto itu padahal itu bukan Stevi," seru Alex.
"Kakak tahu dari mana kalau itu bukan Stevi?" tanya Maya.
__ADS_1
Alex seketika bungkam, bayangan tadi malam kembali melintas di otak Alex. Maya melepaskan pelukannya dan menatap bingung ke arah Alex.
"Kenapa diam? Kakak tahu dari mana kalau itu bukan Stevi?"
"Ah, aku hanya mengira-ngira saja. Ya sudah, aku mau menyelesaikan pekerjaan aku dulu nanti kalau ada orang bernama Niko datang, suruh dia langsung masuk saja."
Maya menganggukkan kepalanya, Maya merasa kalau sikap Alex hari ini sangat berbeda tapi Stevi tidak tahu apa yang membuat sikap Alex beda.
Maya pun keluar dari ruangan Alex, sedangkan Alex mendudukkan tubuhnya di kursi kebesarannya. Alex memejamkan matanya dan lagi-lagi teringat kejadian tadi malam.
Wajah Stevi yang memohon dan sangat menyedihkan terngiang-ngiang di benak Alex.
"Sial, kenapa aku melakukan semua itu? padahal selama ini aku sudah sangat jahat kepada Stevi, yang dikatakan Mama dan Papa benar Stevi memang wanita baik-baik," gumam Alex.
Sementara itu di sebuah apartemen, Niko sudah bersiap-siap akan pergi ke kantor Alex.
"Kamu mau ke mana?" tanya Thomas.
"Kak Alex menyuruhku untuk datang ke kantornya," sahut Niko.
"Hah, untuk apa?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Oh iya, apa kamu jadi mau pulang ke rumah kamu?" tanya Niko.
"Ya sudah, good luck semoga semuanya bisa memaafkanmu. Kalau begitu, aku pergi dulu soalnya aku sudah telat," seru Niko.
Niko pun segera pergi meninggalkan Thomas, Thomas menatap layar ponselnya dan di sana ada foto dirinya dan juga Stevi yang dijadikan wallpaper.
"Maafkan aku Stevi, aku akan melakukan apa pun supaya kamu mau memaafkanku," gumam Thomas.
Thomas masuk ke dalam kamarnya lalu dengan cepat membersihkan tubuhnya, hari ini dia akan pulang dan dia juga sudah menyiapkan mental untuk menghadapi kemarahan keluarganya dan keluarga Stevi.
Tidak membutuhkan waktu lama, Niko sampai di kantor Alex. Setelah menanyakan di mana ruangan Alex, Niko pun segera menuju ruangan Alex.
"Maaf, apa Kak Alex ada di dalam?" tanya Niko.
"Maaf, dengan siapa ya?"
"Aku Niko, aku sudah janjian sama Kak Alex."
"Ah iya, silakan masuk Pak Alex sudah menunggu kedatangan anda," seru Maya.
"Terima kasih."
__ADS_1
"Sama-sama."
Niko pun masuk ke ruangan Alex. "Siapa pria itu, ya ampun dia tampan juga," batin Maya.
"Hai Kak, apakabar?" sapa Niko.
Mata Alex yang terpejam langsung terbuka. "Niko, ternyata kamu sudah datang."
Alex bangkit dari duduknya dan mengajak Niko untuk duduk di sofa.
"Kak Alex kenapa? wajah Kak Alex tampak kusut sekali?" tanya Niko.
"Aku sedang pusing Nik, oh iya aku menyuruh kamu datang ke sini untuk melihat foto ini, apa ini asli atau palsu?" seru Alex dengan menyerahkan ponselnya kepada Niko.
Niko memperhatikan foto itu dan tampak mengerutkan keningnya. "Ini sama dengan foto yang diperlihatkan oleh Thomas, dan aku sudah periksa ternyata itu foto editan bukan foto Stevi," sahut Niko.
"Thomas, apa Thomas kabur di hari pernikahannya karena gara-gara foto itu?" tanya Alex.
"Iya, dia bodoh tidak menanyakan terlebih dahulu kepada Stevi dan memilih kabur. Entah apa yang saat ini dirasakan oleh Stevi, pasti dia hancur banget ditinggalkan di hari pernikahannya. Tapi, bukanya Kak Alex yang menggantikan Thomas untuk menikah dengan Stevi? aku harap Kak Alex mencintai Stevi dan memperlakukannya dengan baik, karena kalau Kak Alex tidak mau, Stevi biar untukku saja dan aku jamin akan membuat Stevi bahagia dunia akhirat," seru Niko dengan senyumannya.
"Sembarangan kalau ngomong, awas saja kalau kamu berani menikung Kakakmu ini," kesal Alex.
Tanpa sadar Alex merasa sangat kesal mendengar pria lain yang ingin merebut Stevi darinya, apa mungkin Alex mulai menyukai Stevi.
"Tapi bagaimana kalau Thomas kembali dan ingin merebut Stevi darimu? dia kan meninggalkan Stevi hanya salah paham saja dan mereka saling mencintai," goda Niko.
"Jangan mimpi, dia sudah meninggalkan Stevi jadi tidak mungkin aku memberikan kembali Stevi kepadanya," ketus Alex.
"Bagaimana kalau Stevi sendiri yang ingin kembali kepada Thomas?"
Seketika Alex bungkam, kali ini dia tidak bisa menjawab apa-apa lagi karena kalau Stevi yang memintanya, Alex tidak bisa berkata-kata soalnya memang selama ini Alex sudah bersikap kasar dan kejam kepada Stevi.
"Memangnya kamu tahu keberadaan Thomas?" tanya Alex mengalihkan pembicaraan.
"Memangnya si Thomas bisa pergi ke mana selain pergi ke tempatku," sahut Niko.
"Apa dia ada rencana untuk pulang?" tanya Alex.
"Hari ini rencananya dia akan pulang dan meminta maaf kepada semuanya, khususnya kepada Stevi," sahut Niko.
"Apa?"
Alex tampak mengepalkan tangannya, entah kenapa Alex merasa tidak suka Thomas kembali dan Alex juga tidak rela kalau Stevi sampai kembali bersama Thomas.
__ADS_1