
Alex sampai di rumahnya menjelang malam, dia langsung mandi dan makan malam bersama Thomas beserta kedua orang tuanya.
"Alhamdulillah jualan pertama kalian lancar, semoga seterusnya kalian diberikan kelancaran," seru Mama Linda.
"Amin, Mama do'akan saja," sahut Alex.
"Tadi kamu ke mana dulu, Kak?" tanya Thomas.
"Ke rumah Stevi."
"Ngapain?"
"Memastikan saja kalau Stevi memang sudah pergi."
"Astaga, sampai segitunya Kak Alex. Ternyata Kak Alex memang benar-benar mencintai Stevi," batin Thomas.
***
Keesokan harinya...
Subuh sekali Alex dan Thomas sudah bangun, mereka menyiapkan bahan-bahan untuk jualan kembali.
"Thom, kita ke pasar dulu mumpung masih ada waktu," seru Alex.
"Oke, siap."
Alex dan Thomas pun pergi ke pasar ditemani mama mereka karena Alex dan Thomas belum tahu bahan yang bagus seperti apa. Alex membonceng mamanya sedangkan Thomas membawa motor sendirian.
Tidak membutuhkan waktu lama, mereka pun sampai di pasar. Walaupun Alex dan Thomas sudah memakai baju santai, tapi tetap saja mereka jadi pusat perhatian.
"Ya ampun bau banget," batin Alex dengan menutup hidungnya sendiri.
Alex dan Thomas mengikuti langkah Linda dari belakang, ibu-ibu di pasar sangatlah bar-bar ada yang nyubit bahkan sampai memeluk Alex dan Thomas membuat kedua pria tampan itu merasa sangat risih.
"Ma, Alex gak mau ikut lagi ke pasar," keluh Alex.
"Thomas juga."
"Lah, kalau kalian gak mau ke pasar terus mama mau bawa semua barang-barang ini bagaimana?" seru Mama Linda.
"Lebih baik kita nyuruh orang saja," sahut Alex.
Bruukkk...
Alex tidak sengaja menabrak seorang wanita, wanita itu hendak terjatuh tapi dengan sigap Alex menahan tubuh wanita itu sehingga tidak jadi terjatuh.
Sesaat, Alex dan wanita itu saling tatap satu sama lain.
"Maaf, aku tidak sengaja," seru Alex.
__ADS_1
"Ah, tidak apa-apa, Mas."
Alex membantu mengambil barang-barang wanita itu yang terjatuh sedangkan Thomas dan mamanya sudah berjalan jauh di depan.
"Ini barang belanjaan kamu."
"Terima kasih, Mas."
"Kalau begitu aku duluan."
Alex pun segera menyusul Thomas dan mamanya, sedangkan wanita yang tidak lain dan tidak bukan merupakan Lana tampak senyum-senyum sendiri, dia memegang dadanya yang saat ini terasa berdegup sangat kencang.
"Ya Allah, tampan sekali. Bertahun-tahun belanja ke pasar, baru kali ini bertemu dengan pria setampan itu. Mana jantung aku berdegup tak karuan lagi, mudah-mudahan saja aku bisa bertemu lagi dengan pria itu dan kalau aku sampai bertemu kembali, aku yakin kita berjodoh," batin Lana dengan senyumannya.
Lana dengan hati yang berbunga-bunga segera pulang ke rumah panti. Seperti biasa, Lana naik angkot dan selama dalam perjalanan Lana tidak henti-hentinya menyunggingkan senyumannya seperti orang gila.
"Ah, sepertinya aku jatuh cinta pada pandangan pertama," batin Lana.
***
Alex dan Thomas berjualan pagi sampai sore jika hari Sabtu dan Minggu, tapi jika hari Senin sampai Jum'at mereka akan berjualan di sore hari saja.
Seperti biasa, Niko akan membantu Alex dan Thomas membawakan barang-barang mereka ke lokasi bahkan membantu berjualan lagi seperti hari sebelumnya.
Sementara itu, di rumah panti...
Lana akan dibantu oleh anak-anak yang lain membawakan berbagai macam kue basah buatan dirinya dan juga Bunda Fatma.
"Iya bunda, Lana sudah sehat kok jadi bunda jangan khawatir," sahut Lana.
"Adik-adik ayo kita berangkat!" teriak Lana.
"Ayo, Kak."
"Lana dan adik-adik pergi dulu ya, Bunda. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Kalian hati-hati."
"Siap, bunda."
Mereka mengendarai sepeda karena jarak tempat jualan Lana dari panti tidak terlalu jauh. Hingga beberapa menit kemudian mereka pun sampai di tempat biasa mereka jualan, tapi Lana merasa terkejut saat ada sebuah kedai yang sudah berdiri di sana.
"Lho Kak, kok ada yang jualan di sini? ini kan, tempat jualan kita," seru Mahdi.
"Iya, siapa yang mendirikan tenda di sini?" kesal Lana.
Hingga tidak lama kemudian mobil Niko sampai di lokasi, sedangkan Alex belum sampai karena dia mengisi bahan bakar motornya terlebih dahulu.
"Hai, ngapain kalian ada di stand jualan kita!" teriak Thomas.
__ADS_1
Lana membalikan tubuhnya, dia merasa sangat kesal karena itu adalah tempat dia berjualan. Lana segera menghampiri Thomas dan berkacak pinggang di hadapan Thomas.
"Hai, itu adalah tempat jualan aku jadi ngapain kamu jualan di sana? bongkar gak, tendanya!" teriak Lana.
"Idih, sejak kapan itu tempat jualan kamu? lagipula waktu kita ke sini, kita gak lihat kamu jualan di sana," ketus Thomas.
"Aku lagi sakit, makanya aku gak jualan. Tapi sekarang aku sudah sehat dan mau jualan lagi di sana, pokoknya aku gak mau tahu kalian harus bongkar tenda itu!" teriak Lana.
"Dasar bocah gila. Nik, ayo kita bereskan barang-barang kita," seru Thomas.
Thomas dan Niko tidak memperdulikan Lana, mereka mengangkat barang-barang jualannya dan membereskannya.
"Ih, menyebalkan sekali. Kalian tidak dengar ya, kalau ini tempat jualan aku!" teriak Lana.
"Astaga, tenggorokan kamu gak sakit apa, pagi-pagi sudah teriak-teriak," seru Niko.
"Kita sudah bayar sewa tempat ini jadi kamu tidak berhak mengusir kita, lebih baik sekarang kamu cari tempat lain saja," ketus Thomas.
"Gak mau, semua pelanggan ku sudah tahu kalau aku jualan di sini jadi kalau aku pindah, mereka akan mencari aku," seru Lana dengan kesalnya.
"Sudahlah Nik, abaikan saja bocah tengil itu," seru Thomas.
"Apa? bocah tengil? sembarang sekali kamu menyebutku bocah tengil," kesal Lana.
Thomas dan Niko tidak menghiraukan Lana, mereka hanya sibuk saja menyiapkan barang-barang dan bahan-bahan yang akan mereka jual membuat Lana kesal.
Tiba-tiba Lana duduk di tanah sembari pura-pura menangis kejer berharap Thomas dan Niko kasihan dan pindah dari sana tapi lagi-lagi kedua pria tampan itu sibuk dengan pekerjaan mereka sepertinya Thomas dan Niko tahu kalau Lana hanya pura-pura saja.
Hingga Alex pun sampai dan mengerutkan keningnya saat melihat wanita yang sedang menangis itu.
"Ada apa ini?" tanya Alex.
Lana menoleh dan terkejut, lalu Lana berdiri dan membersihkan celananya yang kotor.
"Mas tampan," seru Lana dengan senyumannya.
"Ada apa?" tanya Alex dingin.
"Entahlah Kak, bocah tengil itu mengaku kalau ini tempat jualan dia padahal jelas-jelas kita sudah sewa tempat ini," sahut Thomas.
"Lah, tapi kemarin penanggung jawab tempat ini tidak memberitahukan kami kalau tempat ini sudah ada yang menempati, apa kamu sudah membayar uang sewanya? kalau sudah bayar, nanti biar aku lapor lagi ke dia," seru Alex.
"Ah, jangan Mas. Oke, biar aku jualan di sana saja," sahut Lana dengan menunjuk tempat kosong di seberang stand Alex.
"Nah kan ketahuan, kamu bukan penjual resmi di sini. Kamu penjual ilegal yang memanfaatkan tempat kosong," ledek Thomas.
"Apaan sih? penjual ilegal apaan? Di, ayo kita pindah ke sana saja," seru Lana.
"Oke, Kak."
__ADS_1
Akhirnya Lana pun mengalah, dia dan adik pantinya itu berjualan di seberang stand Alex.
"Ya Allah, gak nyangka aku bisa bertemu lagi dengan Mas tampan itu. Aku senang banget, jangan-jangan dia jodoh aku lagi," batin Lana dengan senyumannya.