
Setelah menarik napas dalam-dalam, Stevi pun dengan mantap melangkahkan kakinya menghampiri Alex dan Maya yang sedang bermesraan itu.
"Maaf, aku terlambat," seru Stevi.
"Iyalah terlambat karena sekarang tidak ada sopir dan orang yang mengingatkan jadi kamu telat, makanya jadi wanita itu jangan manja sekarang baru kerasa kan bagaimana rasanya gak ada aku? pasti kamu kewalahan," ledek Maya dengan masih bergelayut manja di lengan kekar Alex.
"Maaf, dari dulu kedua orang tuaku tidak pernah mengajarkanku menjadi anak yang manja jadi ucapanmu itu salah besar. Ada kamu ataupun tidak, itu sama sekali tidak mempengaruhiku," sahut Stevi dengan santainya.
Maya mengepalkan tangannya, dia merasa kesal dengan jawaban Stevi. Stevi mengeluarkan map dari dalam tasnya dan menyerahkannya kepada Alex.
"Ini surat kontrak kerja sama antara perusahaanku dan perusahaan anda, silakan baca dengan seksama jangan sampai ada yang terlewatkan," seru Stevi.
Alex segera mengambil map itu dan membacanya, Stevi sebenarnya merasa sangat emosi melihat kelakuan Maya yang menempel kepada suaminya itu.
Stevi sadar, kalau di sini dia lah yang menjadi orang ketiga tapi Stevi bukan pelakor, dia menikah dengan Alex atas permintaan orang tua Alex. Dan sekarang, mau tidak mau Alex dan Maya harus menjaga jarak dan tahu batasan.
Setelah selesai dibaca, Alex dengan cepat menandatangani berkas kerja sama itu.
"Semoga perusahaan kita semakin maju, kalau begitu aku pamit pergi," seru Stevi dengan bangkit dari duduknya.
Baru dua langkah, Stevi menghentikan langkahnya karena dia mengingat sesuatu.
"Kak Alex harus ingat, sekarang kamu sudah menjadi suamiku dan semua orang tahu itu. Jadi, aku harap Kak Alex berhati-hati dalam berprilaku takutnya ada yang lihat dan jadi berita di mana-mana. Kalian tidak mau kan, diberitakan selingkuh? jadi, jangan terlalu mengumbar kemesraan di depan umum," seru Stevi.
Setelah berbicara seperti itu, Stevi pun langsung pergi dengan mencoba berusaha menahan air matanya.
Lagi-lagi Maya mengepalkan tangannya. "Stevi memang menyebalkan, berani sekali dia bilang kita selingkuh. Bukanya dia yang sudah merebut Kakak dari aku," rengek Maya.
"Sudahlah, perkataan wanita itu ada benarnya. Sekarang status aku adalah suami dia jadi kalau ada yang lihat aku bersama kamu pasti mereka akan mengira kalau kita selingkuh," seru Alex.
"Kok Kakak malah membela Stevi sih? apa jangan-jangan Kakak sudah mulai suka lagi sama Stevi?" bentak Maya.
"Astaga sayang, kamu tenang dulu dong. Sampai kapan pun cinta aku hanya untukmu, jadi aku tidak mungkin mencintai wanita murahan itu. Maksud aku, kalau nanti ada berita mengenai kedekatan kita berdua takutnya kamu akan dibully oleh semua orang dan aku tidak mau kalau itu sampai terjadi," seru Alex menenangkan Maya.
"Kenapa nasibku begitu menyedihkan? Kakak itu pacar aku, tapi sekarang aku tidak bisa bebas dekat dengan Kakak seolah-olah aku adalah pelakor padahal kenyataannya Stevi yang sudah merebut Kakak dari aku."
Alex berusaha menenangkan Maya dan memeluk Maya. "Iya, maafkan aku. Tolong beri aku waktu untuk memikirkan semuanya, aku janji suatu saat nanti aku akan menceraikan Stevi dan menikahi kamu tapi tidak untuk saat ini. Jadi aku mohon, bersabarlah," seru Alex.
Stevi mengendarai mobilnya dengan deraian air mata, sungguh hatinya sangat sakit melihat suaminya bermesraan dengan Maya.
__ADS_1
"Ya Allah, kenapa rasanya sesakit ini?" gumam Stevi.
Tidak bisa dipungkiri kalau rasa cinta Stevi terhadap Alex sangatlah besar, dulu bertahun-tahun Stevi masih bisa menahannya tapi sekarang entah kenapa Stevi merasa tidak rela melihat Alex bermesraan dengan Maya mungkin karena sekarang status Stevi sudah menjadi istri Alex jadi Stevi tidak rela melihat suaminya seperti itu.
"Ya Allah, kuatkanlah hamba dalam menjalani ini semua," batin Stevi.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Stevi sampai di kantornya. Stevi menyuruh OB untuk membelikan makan siang karena perutnya terasa sangat lapar.
Stevi memejamkan matanya sembari memijat keningnya yang terasa berdenyut itu.
Tok..tok..tok..
"Masuk!"
"Maaf Bu, ini makan siang pesanan Ibu," seru OB.
"Oh iya, simpan saja dulu di meja."
OB itu menyimpan pesanan Stevi di meja, lalu menghampiri Stevi dengan memberikan uang kembalian dari sebuah restoran.
"Bu, ini uang kembaliannya."
"Terima kasih, Bu."
Stevi masih memijit keningnya membuat Lina yang merupakan OB itu merasa kasihan kepada Stevi.
"Maaf Bu, apa kepala Ibu terasa pusing?" tanya Lina.
"Iya, tiba-tiba saja kepalaku berdenyut," sahut Stevi.
"Apa mau saya pijit Bu? kebetulan saya bisa memijit, kali saja saya bisa mengurangi rasa sakit kepala Ibu," seru Lina ragu-ragu.
"Ah, boleh."
Lina pun menghampiri Stevi dan mulai memijat kepala Stevi dengan lembut, Stevi terlihat sangat menikmati pijatan Lina.
"Pijatan kamu enak sekali."
"Terima kasih, Bu."
__ADS_1
Cukup lama Lina memijat kepala Stevi, hingga Stevi pun menyuruh Lina untuk berhenti.
"Terima kasih Lina, sekarang kepalaku sedikit plong tidak berat lagi. Jadi sekarang kamu boleh kembali bekerja," seru Stevi.
"Baik Bu, kalau begitu saya permisi dulu."
Lina pun keluar dari ruangan Stevi, Stevi bangkit dari duduknya dan membuka makanan yang sudah dia pesan tadi. Stevi mulai melahap makanan itu, lagi-lagi air matanya menetes.
Stevi makan sembari menangis, sungguh makan sembari menangis itu rasanya sangat tidak enak tapi Stevi memaksakan untuk makan karena dia tidak boleh sakit. Kalau dia sakit, siapa yang akan mengurus perusahaan sedangkan Papinya sudah tidak kuat bekerja.
***
Malam pun tiba...
Jam sudah menunjukkan pukul 21.00 malam, dan Stevi baru menyelesaikan pekerjaannya. Stevi segera membereskan meja kerjanya dan dia langsung pulang ke rumah Alex.
Karena sudah malam, jalanan terlihat tidak begitu ramai jadi Stevi tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di rumah Alex. Stevi melangkahkan kakinya dengan gontai, sungguh hari ini sangat melelahkan dan Stevi ingin cepat-cepat merebahkan tubuhnya.
Baru saja Stevi membuka pintu, sebuah tangan menariknya.
"Kak Alex, ada apa?" tanya Stevi bingung.
"Kenapa kamu selalu membuat aku emosi? kamu tahu kan, kalau Maya itu wanita yang sangat aku cintai? dan aku tidak akan membiarkan satu orang pun menyakiti Maya termasuk kamu!" bentak Alex.
"Maksud Kakak apa?"
"Maya sudah menceritakan semuanya, tadi di saat dia memberikan surat pengunduran diri, dia bilang kamu menamparnya karena kamu tidak terima dengan pengunduran diri Maya dan kamu juga tidak suka kalau Maya sekarang menjadi sekretaris aku. Berani sekali kamu menampar Maya!" bentak Alex dengan menghempaskan tubuh Stevi.
Stevi tersungkur ke lantai, Stevi tidak menyangka kalau Maya akan memutar balikan fakta.
"Aku tidak menampar Maya, justru dia yang tiba-tiba menampar aku," seru Stevi dengan deraian air matanya.
"Kamu jangan menyalahkan Maya, Maya tidak mungkin sekasar itu kecuali kalau kamu yang memulainya!"
Stevi diam, dia tidak mau menjawab ucapan Alex karena di mata Alex apapun yang Stevi ucapkan dan lakukan akan terlihat salah.
"Sekali lagi kamu bersikap kasar kepada Maya, aku akan membalasnya sepuluh kali lipat jadi kamu jangan macam-macam!" bentak Alex.
Alex pun segera pergi menuju kamarnya meninggalkan Stevi, sedangkan Stevi hanya bisa menangis. Stevi tidak menyangka kalau Maya sejahat itu kepada dirinya, sekarang Stevi tahu siapa Maya sebenarnya.
__ADS_1