
" enak banget ya peluk-pelukan di depan rumah orang" Sindir nisa
izam dan juga Alzena terkejut mendengar suara Nisa, terpaksa izam pun melepaskan pelukan mereka
" enak aja kalau ngomong, ini udah bukan rumah Pak Joko ini rumah kakak kamu" ucap izam,
hal itu tentu membuat Nisa dan juga Ibu Rania terkejut, karena sebelumnya Alzena bercerita bahwa dia sudah tidak memiliki apapun namun mengapa bisa membeli rumah di samping rumahnya batin Ibu Rania
" ini izam yang beli Bu, kemarin izam kan sudah izin sama ibu buat cari rumah atau apartemen, tapi karena Izam baru ingat Pak Joko lagi menjual rumahnya jadi Izam membeli untuk Alzena, meskipun nanti pas tes DNA Alzena bukan anak ibu Izam akan tetap memberi kan untuk alzena, maaf kalau Izam tidak diskusi dulu dengan Ibu" ucap Izam yang seolah tau dengan apa yang di fikiran oleh ibu rania
" tidak apa zam, Itu hak kamu ingin membelikan untuk siapa, Ibu tidak melarang, tapi Bolehkah ibu bertanya zam?" ucap Ibu Rania lembut,
" pas masih SMA Izam dan juga teman-teman Izam, membuka bisnis baru, dan sekarang usaha itu sudah berdiri dari izam kelas 11 hingga sekarang, jadi Izam punya uang yang cukup untuk membeli rumah ini, dan itu Mengapa izam tidak menerima uang dari bunda" ucap izam mengagetkan Ibu Rania dan juga Nisa, karena Alzena tidak tahu menahu soal permasalahannya dia pun menjadi bingung, dan memilih untuk diam
"gimana al, lo suka? atau mau ada yang di renov lagi? "tanya izam mengalihkan pembicaraan
"udah zam, menurut gue ini berlebihan, ga seharusnya lo beliin gue rumah sebagus ini, zam"ucap alzena tidak enak hati
"kaya sama siapa aja lo, ini belum ada apa apa nya sama pengorbanan lo buat gue dulu al" ucap izam mengejutkan ibu rania dan juga nisa, pasal nya mereka berdua tidak tahu menahu soal kehidupan izam, mungkin masih banyak rahasia yang di sembunyikan oleh izam"batin ibu rania
Flashback
di umur 8 tahun, Ayah Izam meninggal karena komplikasi, dua tahun kemudian Bunda shanum, menemukan cintanya kembali, dan pria tersebut mempersunting shanum untuk menjadi istrinya, namun izam tidak terima, atau tidak setuju dengan keputusan sang Bunda untuk menikah lagi, meski calon suaminya sudah mendekati Izam dengan berbagai cara, dia tidak berhasil membujuk Izam untuk mengizinkannya menjadi ayah sambungnya. karena sang Bunda sudah benar-benar mencintai calon suaminya dia pun tak peduli dengan penolakan Izam dia tetap menikah dengan laki laki yang dia cintai, Izam marah, dan kecewa kepada sang Bunda, padahal dirinya tidak ingin sosok sang ayah diganti oleh siapapun, dan saat sudah menikah Izam tidak pernah mau lagi tinggal bersama sang Bunda, karena sang suami asli orang Turki, dan pekerjaannya juga di sana, alhasil Bunda shanum pun mengikut Kemanapun sang Suami pergi, dan di saat dia mengajak Izam untuk ikut dengan nya, Izam tolak mentah-mentah dan dia marah, ini yang dia takutkan dia takut terpisah dengan sang Bunda, karena menikah lagi, karna kerjaan di sana benar-benar membutuhkan suami Bunda shanum, tega tidak tega Bunda shanum pun meninggalkan Izam di Indonesia bersama Ibu Rania sang adik ipar, kebetulan pada saat itu Fauzan sudah meninggal lebih dulu, saat Izam berumur 6 tahun dan Annisa Azzahra berumur 1 tahun,
sebenarnya Bunda shanum tidak tega meninggalkan Izam di Indonesia, Namun karena dia sudah menjadi seorang istri dan Izam tidak mau ikut dengannya terpaksa dia pun meninggalkan Izam, Dan mulai saat itu hidup izam dibebankan oleh ibu Rania, meskipun setiap bulan dia mendapatkan transferan dari Bundanya Izam untuk kehidupan Izam, pada saat itu perusahaan tidak ada yang bisa meneruskan dan terpaksa perusahaan ditutup, dan ibu Rania mulai usaha dengan cara berjualan kue, saat masuk SMP Izam tidak tega Jika dia harus menjadi beban untuk ibu Rania, Izam pun terpaksa membohongi Ibu Rania saat dirinya ingin di berikan uang jajan oleh ibu rania, Izam mengatakan bahwa dia masih mempunyai uang untuk beli jajan
mungkin hanya seminggu sekali Izam menerima uang saku dari ibu Rania karena dia sadar diri bahwa dia bukanlah anak kandung Ibu Rania karena itu dia tidak ingin membebaninya, sudah cukup ibu rania memberikan dirinya makan dan tempat tinggal, sedangkan Bunda shanum Dia hanya bisa pulang 2 tahun sekali karena sang suami terus-terusan disibukkan dengan pekerjaan nya, dan saat di sekolah Izam melihat Alzena sedang di palak oleh kakak kelasnya untuk dimintai uang jajan milik Alzena, karena dia tidak tega dia pun membantu Alzena, Dan mulai saat itu mereka berteman dan setiap Alzena memiliki uang jajan yang lebih dia selalu mentraktir Izam,
hingga lulus SMP, saat masuk sekolah SMA kebetulan mereka satu sekolah lagi, dan Kebetulan juga mereka satu kelas, Izam yang sudah belajar merentas, pun memiliki ide untuk membuka bengkel bersama teman smp-nya karena mereka tidak ada yang sanggup untuk melanjutkan SMA, izam pun memberitahukan tentang niatnya kepada Agus, Rian, dan juga Zidane, mereka setuju dengan niat Izam, satu tahun mereka bertiga bekerja di sebuah bengkel untuk mencari pengalaman lebih dulu, karena Izam memiliki keahlian merentas, dia pun merantas para koruptor untuk modal usahanya, Izam tahu bahwa ini tidaklah benar, namun dia tidak ada pilihan lain, dia tak ingin meminta modal kepada Ibu Rania pun tidak tega, sedangkan Bundanya sendiri Izam Sudah jarang berkomunikasi karena isa masih marah dengan sang Bunda,
saat Izam kelas 11 SMA dia dan teman-temannya pun berhasil mendirikan satu bengkel, meski awalnya hanya Beberapa pelanggan, dengan kesabaran dan keikhtiaran mereka berempat akhirnya mereka sampai di tahap sekarang, dan izam serahkan segala urusan bengkel kepada mereka bertiga, di saat pemasuk kan bengkel sudah mulai stabil, Izam pun perlahan membuat perusahaan tanpa sepengetahuan siapapun, dengan model yang ada Izam membuka perusahaan properti, Izam memberi nama perusahaan tersebut
*FTP (FAUZI PRATAMA PERSADA) Fauzi dia ambil dari nama belakang sang ayah dan dirinya, Pratama, adalah nama belakang sang Bunda, nama sang ayah adalah Albi gafarudin Al Fauzi, sedangkan sang Bunda bernama shanum baristia Pratama, dan sedangkan nama asli Izam adalah, Al Izam Putra al fauzi pratama,
__ADS_1
flashback off
...****************...
" pengorbanan apa yang kamu maksud Zam?" tanya ibu Rania
" nggak ada Bu itu. izam cuma bercanda ya kan al" ucap izam mencari dukungan dari Alzena, dan Alzena pun mengangguk setuju
mereka berempat pun lanjut melihat-lihat rumah tersebut hingga tak terasa azan magrib pun berkumandang dan mereka bertiga pun langsung siap-siap berjamaah, sedangkan Alzena sudah kembali ke kamarnya yang di rumah Ibu Rania karena rumah tersebut belum selesai 100%
tok
tok
tok
"kak, nisa masuk ya" ucap nisa
"masuk aja nis" ucap alzena dari dalam, nisa pun perlahan masuk ke dalam kamar alzena
"nis, kaka mau ngomong sama kamu boleh?" tanya alzena ragu ragu
"boleh dong kak, kaka mau tanya apa?" jawab nisa tanpa ragu
"kalo kaka beneran kaka kandung kamu, apa kamu bahagia? "tanya alzena lagi, nisa terdiam sebentar, lalu menunjukkan senyuman di bibirnya
"aku malah seneng banget, akhirnya aku bisa ketemu sama kaka, meskipun nanti kaka bukan, kaka kandung nisa, nisa udah anggep kaka, sebagai kaka kandung nisa sendiri kak"ucap nisa sambil meneteskan air mata nya, entah itu air mata bahagia atau air mata kesedihan alzena tidak tau
"kok kamu nangis nis?"tanya alzena lembut
"nisa cuma kangen sama kaka nisa kak, ibu selalu sedih jika ingat dengan anak nya yang udah puluhan tahun hilang, dan ibu juga sedih, jika melihat bang izam, karna umur mereka tidak beda jauh" ucap nisa jujur namun sambil menunduk
"kalo di pikir pikir, umur aku dan izam juga ga beda jauh, apa mungkin?"batin alzena
__ADS_1
"aku juga sering lihat ibu diam diam nangis sendirian di kamar" ucap nisa lagi
"misalnya kaka memang kaka kandung kamu, apa kamu mau menerima kaka?" tanya alzena
"kalau pun kaka bukan kaka kandung nisa, kaka kan bisa jadi kaka ipar nisa"ucap nisa sambil tersenyum
"tapi kalo untuk jadi kaka ipar kamu kayak nya ga mungkin deh nis" ucap alzena
"loh kenapa kak?" tanya nisa heran, pasalnya beberapa hari ini mereka terlihat seperti pasangan kekasih
"kaka belum siap, jika harus pindah agama, dan kaka juga ga mau ngerebut izam dari Tuhan nya" ucap alzena
nisa malah tersenyum mendengar ucapan alzena, "jika kak alzena ga mau rebut bang izam dari Tuhan nya, apakah mungkin kak alzena memiliki prasaan buat bang izam, kalo dari bang izam nya si aku yakin bahwa bang izam sudah mencintai kamu kak" batin nisa
"cie cie berarti udah suka nih, sama bang izam, mesti buru buru kasih tau ibu nih, biar kalian di pisah kan buat sementara, takut ada setan"goda nisa
"apa mungkin aku suka sama izam, iya aku tau izam sering banget minta aku buat jadi istrinya, tapi kan agama kita beda, lagian aku juga belum resmi cerai dengan mas farhan, "batin alzena
"mikirin bang izam ya kak?"goda nisa lagi, godaan tersebut tepat terkena sasaran, pipi alzena berubah seperti kepiting rebus, dan itu tak lepas dari pandangan nisa, nisa tertawa terbahak bahak melihat pipi alzena yang berubah menjadi kepiting rebus, karna ketahuan memikirkan izam
mendengar ketawa nisa, izam pun langsung menyusul sang adik ke kamar alzena takut nya nisa kesurupan makanya ketawa tawa sendiri, tanpa permisi izam langsung membuka pintu kamar alzena, karna panik, soalnya nisa pernah sekali kesurupan
"dek kamu kenapa dek" ucap izam panik, bukan nya menjawab pertanyaan izam, nisa malah semakin tertawa, karna udah geram dengan nisa yang tak menghiraukan diri nya, izam pun berkata..
"NISA! KAMU DENGER OMONGAN ABANG GA!" ucap izam tegas, dan dingin hal itu langsung memberhentikan tawa nisa,
"apa sih bang, nisa dengar kok, nisa cuma ketawa liat pipi kak alzena tuh merah kaya kepiting rebus" ucap nisa agak ketus, karna di tau, izam pasti
berfikir bahwa dirinya kesurupan lagi, mendengar ucapan nisa izam pun menoleh ke arah alzena dan ternyata benar, pipi alzena sudah berubah menjadi kepiting rebus
"kamu kenapa al?" tanya izam lembut, takut nya alzena terkena alergi atau apa, belum sempat alzena menjawab ibu rania pun menghampiri kamar alzena
"kalian pada mau makan atau tidak" ucap Ibu rania
__ADS_1
"maaf bu ini kita mau ke meja makan" ucap izam
tanpa menunggu lama lagi, ibu rania pun meninggalkan mereka bertiga dan kembali ke meja makan, izam yang melihat kepergian sang ibu pun mengikuti dari belakang dan tentu saja di ikuti oleh nisa dan juga alzena