
"memang kapan kamu tidak merepotkan saya, dari awal bertemu kamu sudah membuat masalah untuk saya"batin izam,
"sebentar lagi waktu nya sarapan kamu mau makan disini atau di ruang makan"tawar izam saat ia sudah selesai dengan pekerjaannya
"aku masih bisa jalan kok bang"ucap adiba lalu berniat ingin pergi ke dapur, namun rasa sakit di Kepala nya kembali menyerang nya, izam pun terpaksa memijat kepala adiba
*
*
*
"bang izam kemana bu?"tanya nisa saat tak melihat abang kesayangannya itu
"masih di kamar, katanya mau ngobatin luka luka adiba"ucap Ibu Rania, mereka pun makan dalam diam
" oh ya bu nanti aku izin keluar ya"ucap alzena saat mereka sudah selesai makan
"emang mau kemana al?"tanya ibu Rania, karna tak biasa alzena keluar terkecuali dengan izam atau pun nisa
"al pengen jalan jalan aja bu" jawab alzena
"kamu sudah bilang sama izam? takutnya nanti dia malah cariin kamu"ucap Ibu Rania, karna ibu Rania tau betapa perhatiannya izam kepada putri sulung nya itu
"nanti al bilang sama izam kalau udah keluar bu"ucap alzena
"kamu keluar nya sama siapa?"tanya ibu Rania
"al di antar sama zayden bu, kebetulan ada tempat yang mau kita kunjungi"jawab alzena
"yasudah kalian hati hati, ibu mau kebelakang dulu"ucap Ibu Rania lalu meninggalkan alzena sendiri, tak berapa lama zayden pun akhirnya sampai
"pagi nona"sapa zayden
"hem, kita langsung berangkat aja ya!"ucap alzena
"sebentar nona, saya izin dengan tuan izan terlebih dulu"ucap zayden yang hendak menelfon izam namun di cegah oleh alzena
"ngga usah gangguin pengantin baru, gue udah penasaran sama yang lo bilang, mending kita jalan dari pada di larang sama tuan kesayangan lo itu"ucap alzena lalu langsung duduk di samping zayden
"tapi non--"
"sttt mending nurut daripada gue gaplok lo" ancam alzena dan zayden langsung menurut, di dalam perjalanan mereka berdua hanya diam, setiap zayden bertanya pasti jawaban alzena singkat, alhasil dua sejoli itu pun bungkam, cukup lama dalam perjalanan hingga akhirnya mereka berdua sampai di perumahan AL FAUZI perumahan yang izam buat, untuk orang orang yang tidak memiliki tempat tinggal, perumahan itu cukup luas, dan bahkan cukup mewah untuk mereka
"ini kita di mana zay?"tanya alzena
"kita di perumahan al fauzi nona, ini adalah perumahan yang tuan izam bangun untuk orang yang tidak mampu seperti saya"ucap zayden mengejutkan alzena
"maksudnya lo??"tanya alzena heran karna menurut nya tidak mungkin seorang zayden yang selalu berpakaian cukup rapih itu tidak mampu, bahkan jika di banding kan dengan izam jauh berbeda, pasti yang melihat penampilan mereka akan mengira bahwa zayden lah tuan nya
__ADS_1
FLASHBACK
waktu zayden lagi berjuang pecel sayur, dia bertemu dengan izam, dan izam yang kebetulan belum makan pun membeli dagangan zayden, waktu mereka bertemu zayden masih SD, sedangkan zayden sudah SMP
"de pecel nya 1 ya makan sisi" ucap izam
"iya kak" jawab zayden
"kamu ngga sekolah? " tanya izam
"engga kak, soalnya mama lagi sakit jadi aku yang gantiin jualan"jawab zayden
"ya udah kaka beli semua pecel kamu"ucap izam
"beneran kak?"ucap zayden sumringah
"iya"jawab izam, zayden pun langsung membungkus semua dagangan nya,
" semuanya berapa de?"tanya izam
"satu nya 7 ribu, kalo semuanya 224 ribu kak, tapi karna kaka nya beli semua aku kasih diskon 4 ribu, jadi 220ribu aja kak hehe"ucap zayden sambil menunjukkan deretan gigi putih nya, izam pun mengeluarkan 220 ribu
" nih de"ucap izam sambil menyerah kan uang nya
"alhamdulillah makasih ya kak, udah ngeborong dagangan aku"ucap zayden menerima uang dagangan nya dan bersiap untuk pulang
"rumah kamu di mana de?, biar kaka antar sekalian kak mau jengukin mama kamu"ucap izam
"engga yok kaka antar, dari pada naik angkot kan sayang uang nya"ucap izam dan zayden pun menurut, 17 menit akhirnya mereka sampai di rumah zayden, izam cukup prihatin dengan rumah zayden, di bilang layak tidak terlalu layak, dan di bilang nyaman juga tak terlalu nyaman
"ini rumah aku kak"ucap zayden
"kaka boleh liat kondisi mama kamu?"tanya izam
"boleh kak, mama pasti seneng ada yang mau nge jengukin mama"ucap zayden dengan senang hati membuka pintu rumah nya
"assalamu'alaikum mama, zayden pulang"ucap zayden saat memasuki rumah dan di ikuti oleh izam
"waalaikumsalam nak"ucap mama zayden lemas,
"mamah masih sakit?"tanya zayden lembut
"mamah cuma butuh istirahat aja zay, kamu cape ya nak?"tanya mama zayden karna tak biasanya sang anak pulang tengah hari seperti ini
"engga mah, zay pulang karna dagangan kita udah abis"jawab zayden
"alhamdulillah terimakasih ya nak"ucap mama zayden
"ini kaka nya yang ngeborong dagangan kita mah, dan kakaknya juga pengen jengukin mamah" ucap zayden sambil menunjuk ke arah izam
__ADS_1
"assalamu'alaikum bu"ucap izam sambil mencium tangan mama nya zayden
"waalaikumsalam nak, terimakasih sudah memborong dagangan kami, dan terimakasih telah menjenguk ibu"ucap mama zayden sambil ingin duduk izam yang melihat itu pun langsung membantu nya
"iya bu sama sama, kalau boleh tau ibu sakit dari kapan bu?"tanya izam sambil memijat kaki nya, sedangkan zayden pergi ke belakang untuk bersih bersih
"udah 8 hari nak"jawab mama zayden
"terus yang membuat pecel nya siapa bu?"tanya izam
" yang membuat pecel nya zaenab nak, sekarang dia lagi berjualan juga"jawab mama zayden
tak lama kemudian zayden pun kembali, mereka mengobrol cukup lama mungkin sekitar 2 jam an kurang lebih, dan saat izam ingin pulang dia menyerah beberapa uang berwana merah untuk berobat mama nya zayden, dan juga untuk uang sekolah zayden
mulai saat itu izam rutin mengunjungi zayden dan memberikan rezeki untuk mereka hingga akhirnya zayden bisa kembali fokus sekolah, dan yang mencari uang hanya zaenab, pas izam lulus SMP dia mulai merentas akun para koruptor, uang nya dia gunakan untuk membeli tanah, dan membangun beberapa rumah di tanah tersebut, awalnya hanya 29 rumah yang izam bangun, karna izam membangun rumah itu cukup mewah untuk mereka.
bukan yang sekedar jadi, setelah komplek itu selesai, izam pun mengajak zayden untuk mencari orang yang tidak mampu, agar bisa tinggal di perumahan tersebut, dan izam juga membangun sekolah SD ,SMP,dan SMA tujuan nya agar mereka bisa belajar, tanpa bulian atau pun tanpa ejekan karna hidup mereka berbeda, sekolah tersebut berada di kompleks itu dan sekarang kompleks tersebut kurang lebih 475 rumah yang izam bangun. dan izam juga memberikan beberapa sembako setiap seminggu sekali, dan uang untuk mereka melanjutkan hidup, dan juga karyawan di kantor FTP hampir setengahnya dari mereka, karna izam percaya bahwa mereka tidak mungkin ber korupsi, atau melakukan hal yang aneh aneh salah satu nya zayden dan juga Alvin
FLASHBACK OFF
"kakak.... "panggil anak anak yang melihat kedatangan zayden dan juga alzena
"assalamu'alaikum cantik dan tampan"salam zayden
"waalaikumsalam kaka"jawab mereka kompak
"ayah kemana kak, udah lama ayah ngga pernah kesini lagi"tanya salah satu dari mereka, memang betul semenjak alzena tinggal bersama izam, izam sudah jarang mengunjungi mereka lagi, tapi dia tetap rutin memberikan sembako
"zay, ayah yang mereka maksud siapa?"tanya alzena sambil menyenggol lengan zayden
"ayah lagi sibuk, makanya ayah jarang kesini"jawab zayden sambil tersenyum, dan mereka pun mengangguk paham.
"ayah yang mereka maksud tuan izam nona"jawab zayden
"kalian mau liat ayah?"tanya alzena dan semuanya pun mengangguk, karna mereka juga rindu dengan izam, pahlawan mereka
"kaka telfon ayah kalian dulu ya"ucap alzena lalu menelfon izam, izam yang mendengar dering ponsel nya pun langsung mengangkat panggilan alzena, awalnya dia heran mengapa alzena video call padahal Izam berada di rumah, dan tidak biasa juga alzena membuat panggilan video call,
"assalamu'alaikum zam"salam alzena
"waalaikumsalam, lu dimana? tumben video call"tanya izam
"itu ngga penting gue dimana, yang penting itu adalah yang mau ketemu sama lo"jawab alzena
"siapa?"tanya izam, alzena pun memanggil salah satu dari anak yang ada di hadapan nya
"assalamu'alaikum ayah" ucap anak perempuan
deg
__ADS_1
adiba yang mendengar suara anak perempuan memanggil izam dengan sebutan ayah pun langsung menoleh ke arah izam, dan izam juga menoleh ke arah adiba, izam ingin tahu bagaimana reaksi adiba, beberapa saat mereka berpandangan,