Ditalak Saat Aku Berhasil Hamil

Ditalak Saat Aku Berhasil Hamil
BAB 38 MANJA?


__ADS_3

"bagaimana kondisi anak saya dok" tanya bunda shanum khawatir karena sebelumnya beliau mendapatkan kabar dari zayden agar cepat cepat datang karna keadaan izam kurang membaik


"kondisi tuan izam cukup menghawatirkan, saya sarankan agar segera di bawa ke rumah sakit internasi-"


sebelum dokter aldo melanjutkan obrolan nya, izam lebih dulu memotong nya, karna dia tak ingin membuat keluarga khawatir dengan keadaan nya, sudah cukup kemarin dirinya membuat sang bunda menangis, dia tak ingin melihat bunda nya menangis karna diri izam sendiri


"saya tidak apa apa dok, dan jangan membuat bunda saya khawatir dengan ucapan anda"potong izam dengan cepat namun mata masih terpejam, hal itu mengejutkan dokter aldo dan juga bunda shanum, karna mereka mengira bahwa izam sedang tertidur


"maafkan saya tuan"ucap dokter aldo tidak enak hati


"ini resep obat yang harus tuan izam minum nyonya"ucap dokter aldo sambil memberikan resep obat izam


"baik dok Terimakasih"ucap papa irsyad karna bunda shanum dari tadi hanya diam setelah mendengarkan suara izam, alhasil papa irsyad lah yang menerima nya,


"kalau begitu saya permisi dulu tuan, nyonya, jika ada keluhannya lagi bisa langsung menghubungi saya" ucap dokter aldo sambil membungkuk lalu keluar dari kamar izam di antar dengan papa irsyad, sedangkan bunda shanum duduk dekat dengan izam,

__ADS_1


"bun"panggil izam lirih


"iya bang, kenapa?"jawab bunda shanum pelan


"abang pengen tidur, tapi di peluk sama bunda boleh?"ucap izam ijin dengan mata yang masih terpejam, tanpa menjawab pertanyaan izam, bunda shanum langsung berbaring di samping izam dan memeluk nya, izam pun membalas pelukan sang bunda, pelukan yang sudah lama ia rindukan, hingga tak terasa air mata bunda shanum pun menetes, meskipun ia jauh dari putra nya, namun jika sudah seperti ini, rasa sakit yang izam rasakan berarti benar benar sakit.


itu sebab nya beliau menangis, karna terakhir ia melihat sang putra terbaring lemah saat kepergian ayah albi, kira kira 16-17 tahun yang lalu , hubungan ibu dan anak itu sempat renggang bisa dibilang sejak bunda shanum menikah lagi dan izam tidak setuju jika bunda shanum menikah lagi, dan bunda shanum juga jarang pulang ke Indonesia, karna pekerjaan sang suami tidak bisa di tinggal.


"apa yang abang rasakan sayang?"tanya bunda shanum pelan sambil mengelus puncak kepala izam, siapa pun yang melihat posisi mereka pasti mengira izam anak kecil yang sedang butuh perlindungan dari ibunya


"kepala abang sedikit sakit bun, dan badan abang agak pegel sedikit"jawab izam, padahal saat di rumah gina kepalanya terasa sakit, dan itu mengapa izam mengajak alzena agar segera pulang, namun malah Alvin sedang menjaga anaknya gina, alhasil mereka pulang naik taksi


"ngga usah bun, bunda cukup di samping abang nanti ilang sakit nya"ucap izam, dan dengan terpaksa bunda shanum pun mengikuti permintaan sang putra


*

__ADS_1


*


*


*


"kaka mana pah?"tanya shaila, saat melihat sang papah masuk tak lama lalu keluar lagi


"kaka lagi istirahat, kamu mandi sana udah sore"perintah papa irsyad


"iya pah kalo gitu shaila mandi dulu"ucap shaila lalu pergi menghampiri nisa, sedangkan alzena wanita itu juga sedang istirahat, karna dari kemarin dia banyak menangis, hingga hari ini.


sore pun berganti malam, di meja makan hanya ada shaila, ibu rania, nisa dan juga alzena, izam dan bunda shanum tidak ikut makan malam, tadinya hanya izam yang tidak ikut makan, namun karna izam tak makan bunda shanum pun ikut tidak makan, dan menemani sang putra, begitu juga dengan papa irsyad (masa anak istri kelaparan sendiri nya kenyang ^_^)


"bang izam ngga ikut makan bu?"tanya nisa mewakili alzena yang sendari tadi makan sambil melirik ke arah pintu kamar izam

__ADS_1


"abang mu kan masih belum sehat betul, makanya perlu banyak istirahat"jawab ibu Rania


"pasti gara gara gue, yang ngga ngelarang dia buat ikut tadi" batin alzena


__ADS_2