
"Gimana keadaan izam ran" tanya bunda shanum Saat bertemu dengan ibu Rania
" Rania Belum tahu Mbak dari tadi dokternya belum keluar" ucap Ibu Rania
" kenapa bisa seperti ini Pah, Padahal baru tadi pagi kita ngobrol sama Izam" ucap Bunda shanum lemas
" sabar mah Izam pasti baik-baik aja" ucap papa Irsyad menguatkan sang istri
mereka menunggu cukup lama, hingga akhirnya sang dokter pun keluar, namun dari raut wajahnya menunjukkan kesedihan, hal itu tak lepas dari pandangan zayden
"bagimana dengan anak kami dok"tanya papa irsyad
"mohon maaf Pak, nyawa anak bapa tidak bisa kami selamat kan"ucap sang dokter sambil menunduk, bunda shanum dan ibu rania spontan langsung pingsan, untung papa irsyad sigap menahan tubuh sang istri,
zayden juga langsung sigap menahan tubuh ibu rania, sedangkan nisa langsung lemas begitu pula dengan alzena, dia masih tidak menyangka bahwa izam akan secepat ini meninggalkan nya.
__ADS_1
"maafin gue zam, gara-gara gue lo jadi kecelakaan, coba aja kalo gue ngga ngomong kayak gitu pasti lo masih ada" batin alzena
1 jam kemudian akhirnya bunda shanum pun sadar, sedangkan ibu rania sudah sadar sejak 16 menit yang lalu,
"izam mana pah"ucap bunda shanum
"mamah yang sabar ya mah, mamah harus ikhlas"ucap papa irsyad sambil memeluk sang istri
tangis bunda shanum pun langsung pecah seketika
"kenapa izam pergi secepat ini pah, kenapa izam ninggalin mamah"ucap bunda shanum di tengah tangis nya, papa irsyad pun tak membalas ucapan sang istri dia hanya memeluk dan mengelus kepala sang istri
"mamah harus kuat mah, kita harus segera memakamkan izam"ucap papa irsyad
nisa bersimpuh disamping makam izam sambil menatap pusara yang ada dihadapannya sendu. Sebisa mungkin nisa menjaga dirinya agar tidak lagi meneteskan air matanya.
__ADS_1
Ia tau dan takut tetesan air mata itu nantinya akan menjadi beban bagi izam.
"Abang jangan genit-genit ya sama bidadari disana. Nggak usah sok ganteng pake tebar-tebar pesona segala," Ujar nisa sambil mengusap-usap pusara nisa
"Yaa.. iya sih walaupun faktanya abang emang ganteng. Tapi tetep aja, nggak boleh genit!" Racau nisa yang membuat orang-orang yang masih berada disana bisa merasakan dalamnya kesedihan yang coba nisa tutupi
"Oh iya. Abang kalau kangen sama nisa jangan datang langsung, lewat mimpi aja. Awas aja kalau masih suka iseng." Tambahnya, namun kali ini suaranya kembali bergetar menahan tangis.
"nisa, pulang yuk dek." Ajak agus sambil merangkul bahu nisa.
nisa tersenyum dan mengangguk. nisa kemudian bangkit dan berdiri. Namun nisa kembali menyempatkan diri untuk mengusap pusara izam sekali lagi.
"Bang, nisa pulang dulu ya. Nanti kalau ditanya sama malaikat yang bagus jawabnya. Jangan lupa cari nisa kalau abang nggak liat nisa disurga nanti."
"nisa pamit. Assalmu'alaikum abang."
__ADS_1
Setelah mengucapkan salam nisa beranjak pergi dari tempat peristirahatan izam yang terakhir bersama agus, rian, zidan, alzena dan juga zayden. nisa berharap semoga izam mendapatkan tempat yang terbaik disisinya.
izam sudah nisa anggap seperti abang kandung nya, meskipun nisa tak terlihat meneteskan air mata nya, namun teman teman izam (agus, rian, dan juga zidan) tau bagaimana kedekatan mereka. nisa sengaja pulang paling terakhir, karna dia tak ingin menunjukkan kesedihan nya di depan orang tua nya