Ditalak Saat Aku Berhasil Hamil

Ditalak Saat Aku Berhasil Hamil
BAB 43 SAKIT


__ADS_3

Adiba pun langsung menyusul izam di kamar nya, dan alzena duduk di gazebo belakang sambil menikmati pempek yang izam bawakan, namun belum selesai pempek nya habis tiba tiba ada yang menghampiri nya


"Nona ngapain malam malam begini disini" Tanya zayden


"Bukan urusan lo, lo ngapain disini" Alzena balik bertanya, namun dia tidak membalikkan badan nya.


"Boleh kah saya menemani nona disini? " Izin zayden


"Terserah lo, asal lo ngga ganggu gue" Ucap alzena, zayden pun langsung duduk di samping alzena dan memperhatikan alzena


"Saya tau nona pasti lagi galau karna tuan sudah menikah bukan? " Tebak zayden alzena pun langsung menghentikan memakan pempek nya, dan menengok kearah zayden


"Sok tau" Cibir alzena


"Bukan sok tau nona, tapi saya memang tau" Ucap zayden yang tak Terima di bilang sok tau


"saya juga galau nona, saya galau karna tuan menikah, itu artinya tugas saya bertambah" Ucap zayden dibuat seolah-olah galau 'bisa aja lu zay' -'


"lagian gue heran lo di bayar berapa si sama izam, sampe segitunya ngabdi nya" Tanya alzena penasaran karna setau alzena izam tidak mempunyai pekerjaan, karna izam masih menyembunyikan identitas asli nya


"Lebih dari cukup nona, namun ini bukan masalah gaji,tapi ini masalah balas budi" Jawab zayden sambil tersenyum dan menatap nanar ke depan


"Maksud lo? " Tanya alzena heran


"Siapapun yang menikah dengan tuan, dia adalah gadis yang sangat sangat beruntung, jika saya seorang wanita saya rela menjadi istri ke 2 nona" Ucap zayden sambil tersenyum


"Ish... Gue serius, emang berapa gaji yang udah dia kasih ke lo, karna setahu gue izam kan ngga kerja dari mana dia bisa sanggup bayar lo" Tanya alzena penasaran, lalu menghabiskan pempek nya agar bisa fokus mendengar cerita izam dari zayden


"Orang yang kita lihat tidak mempunyai pekerjaan itu, bukan orang sembarangan nona, kekayaan yang di miliki tuan izam bahkan tidak ada bandingannya dengan kekayaan mantan suami, atau orang tua angkat nona" Ucap zayden memberi bocoran agar alzena tidak penasaran

__ADS_1


"maksudnya" Tanya alzena belum nyambung


"maaf nona saya tidak bisa menjelaskan secara rinci tentang tuan izam, " Jawab zayden


"Hais... kalo ngga ada niatan buat ngejelasin, ngga usah cerita lah" ucap alzena kesel karna penasaran nya tidak terjawab, dan itu membuat zayden terkekeh


"terus tentang masalah bahas budi apa lo ngga bisa jelasin juga? " Tanya alzena


"jika nona tidak keberatan nanti saya ajak ketempat dimana kami hidup" Ucap zayden sambil tersenyum


"Oke besok lo harus ngajak gue ke tempat yang lo maksud itu" Ucap alzena lalu pergi meninggalkan zayden, dan zayden pun tersenyum mendengar ucapan alzena


berbeda dengan keadaan di kamar pengantin baru.


"Nih kamu makan dulu, dari tadi sore belum makan kan" ucap izam sambil menyerah kan piring yang ia bawa, sebenernya izam ingin langsung istirahat namun saat mengingat adiba belum makan, dia berinisiatif untuk mengambil kan nya,


karna bagaimana pun adiba adalah tanggung jawab nya. Bukan nya menerima piring yang sudah di bawakan sang suami, adiba malah bengong, menatap izam


"makasih ya bang, udah diambilin"ucap adiba namun tidak ada jawaban dari izam, adiba pun langsung memakan makanan yang izam bawakan karna sejujurnya dia juga lapar, selesai makan, adiba langsung bersih bersih dan ikut terlelap bersama izam


*


*


*


saat adzan berkumandang adiba pun terbangun dan langsung ke kamar mandi, adiba berniat ingin membangunkan izam namun iya urungkan, saat melihat sang suami sangat terlelap dalam tidur nya, setelah menyelesaikan sholat subuh adiba pun membangunkan izam


"bang... "panggil adiba lembut

__ADS_1


" udah subuh bang" ucapnya sambil menggoyangkan tangan izam agar terbangun, izam yang merasa di sentuh pun langsung terbangun


"maaf bang, aku udah ganggu waktu abang tidur, cuma ini udah waktu nya sholat subuh" ucap adiba merasa tidak enak telah mengganggu waktu tidur izam, dan izam pun langsung ke kamar mandi dan melaksanakan shalat subuh, setelah selesai sholat, izam berniat ingin keluar kamar namun dia urungkan karna mendengar ucapan adiba


"bang... boleh kan aku bantu Ibu dan bunda di dapur"tanya adiba


"bunda sudah pulang, jika badan mu masih tidak enak tidak usah bantu Ibu, lebih baik kamu istirahat saja"ucap izam dingin lalu meninggalkan adiba.


'tapi masa iya pertama di rumah mertua malas malasan, tapi aku juga ngga bisa bantah perintah bang izam, nanti dia malah marah'batin abida bingung


izam pun langsung ke dapur sambil membawa piring bekas adiba makan, karna semalam adiba tidak tau dimana dapur nya, alhasil dia tidak ke dapur dan izam lah yang membawa piring nya, di dapur sudah ada Ibu rania, dan juga art nya sedang menyiapkan sarapan, seperti biasa jika jam segini alzena dan nisa masih terlelap dalam tidur nya,


"loh zam, itu piring dari mana zam?" tanya Ibu rania heran pasalnya sarapan belum tersaji di meja makan.


"piring semalam bu"ucap izam sambil mencuci piring nya


"adiba belum bangun zam?"tanya Ibu rania penasaran


"sudah, dia masih istirahat karna luka nya belum pulih, ini izam ingin mengambil obat untuk nya" jawab izam dan di angguki oleh Ibu rania


izam pun bergegas mengambil p3k dan membawanya kekamar agar bisa mengobati luka adiba, karna semalam dia benar benar cape dan ngantuk jadi tidak sempat mengobati adiba, saat membuka pintu kamar izam melihat adiba yang terbaring membelakangi nya


"ini saya bawakan obat buat luka kamu" ucap izam tanpa berniat membangun kan nya, namun setelah tak ada jawaban izam pun terpaksa menyentuh sang istri, karna tidak ada pergerakan, baru menyentuh izam terkejut karna badan adiba tiba tiba panas, padahal seperti nya sebelum izam ke dapur adiba terlihat baik baik saja


dengan telaten izam mengompres adiba agar panas nya segera turun, meskipun diri nya juga kurang sehat, akan tetapi mengingat status dirinya sudah menjadi suami, izam berusaha untuk tanggung jawab akan diri adiba, meskipun dia belum mencintai adiba, ditengah tengah aktifkan nya tiba tiba adiba terbangun, dan terkejut saat membuka mata langsung berhadapan dengan izam


"bang.. "panggil adiba lirih dan berusaha untuk duduk namun di cegah izam


"jika kepala kamu masih sakit istirahat saja tidak apa, agar saya bisa menyelesaikan tugas saya"ucap izam

__ADS_1


"maaf bang kalau aku malah merepotkan abang"ucap adiba menurut dan tetap berbaring


"memang kapan kamu tidak merepotkan saya, dari awal bertemu kamu sudah membuat masalah untuk saya"


__ADS_2