
" Sayang kok lama ke toiletnya" tanya Farhan saat melihat Melisa kembali
" Iya Yang maaf aku sakit perut tadi" jawab Melisa bohong
" tapi perut kamu nggak apa-apa kan?" tanya Farhan khawatir
" nggak papa sayang cuman sakit perut Kayaknya salah makan deh" ucap Melisa
" Apa perlu kita ke dokter?" tanya Farhan berlebihan
" kamu jangan berlebihan gitu lah aku cuma sakit perut biasa kok" ucap Melisa agak sebal
" Ya udah Mih aku anterin Melisa pulang dulu, " ucap Farhan
" iya Han kasihan calon istri kamu, takutnya kecapean" ucap Mami Sarah
mereka berdua pun pamit pulang, sementara Fahmi menemui Papi Fikri
" Pih ada yang mau aku bicarakan sama papi!" ucap Fahmi
" mau bicara apa sih Mi?" tanya Papi Fikri
" Papi ada hubungan apa sama Melisa!?" tanya Fahmi to the point
" kamu ini ngomong apa, jangan sembarangan nanti mami kamu dengar!?" jawab Papi Fikri terkejut mendengar pertanyaan dari Fahmi
" tapi jangan ngelak lagi sama aku, Aku udah punya buktinya" ucap Fahmi lalu menunjukkan video yang terjadi beberapa saat yang lalu, Papi Fikri terkejut melihat video itu
" jangan macam-macam kamu Fahmi!, Jika kamu berani memberitahu Mami kamu soal video itu maka kamu tahu akibatnya" ucap Papi Fikri penuh ketegasan
" baiklah baiklah, Aku tidak akan memberitahu Mami dan juga Farhan tentang video ini, asalkan Papi ngasih separuh saham perusahaan atas Namaku" ucap Fahmi menyeringai
" Jangan kurang ajar kamu Fahmi, kamu itu udah punya 5% di perusahaan itu sudah besar bagi anak seperti kamu" ucap Papi Fikri menolak
" baiklah kalau Papi nggak mau ngasih saham lebih ke aku maka aku akan kasih lihat video ini ke Farhan dan juga Mami tapi pasti tahu apa yang akan terjadi bukan perusahaan akan hancur, Farhan akan murka sama papi dan Mami pun akan meninggalkan Papi, dan yang paling penting jika aku sebarkan video ini tapi pasti tahu apa yang akan terjadi kepada perusahaan Iskandar" ucap Fahmi Sambil tertawa kecil
" Sialan kamu Fahmi, berani kamu menyebarkan video ini mati kamu di tangan saya" ucapapi Fikri dengan emosi
__ADS_1
" caranya cukup simple tapi tinggal menyerahkan saham perusahaan ke aku" ucap Fahmi penuh kemenangan
" baiklah jika itu yang kamu mau akan tapi turuti tapi kamu harus Hapus video itu!" ucap papiFikri
" Terima kasih Papi" ucap Fahmi lalu meninggalkan Papi Fikri
" bener-bener sialan anak dasar anak membawa petaka" ucap Papi Fikri
di sisi lain tepatnya di rumah sakit mereka sedang menunggu Alzena, tak selang Berapa lama akhirnya Izam pun sampai di rumah sakit,
" Assalamualaikum Bu" ucap Izam lalu mencium tangan Ibu Rania
" Waalaikumsalam zam akhirnya kamu datang juga" ucap Ibu Rania
" Iya Bu Maafkan Izam Gimana keadaan Alzena Bu" tanya Izam khawatir
" Alzena masih di periksa Zam" ucap Ibu Rania,
izzam sebenarnya mengetahui bahwa ada Bunda shanum dan juga Papa Irsyad namun Dia seolah tidak tahu dan pura-pura tidak mengetahui kedatangannya
" Iya Bun ada apa?" jawab Izam dingin dan singkat
" kamu nggak papa nak?" tanya bunda shanum khawatir
" Saya tidak apa-apa Bun, Tumben bunda pulang ke Indonesia Memangnya anak bunda sudah sehat?" tanya Izam mengejutkan Bunda shanum dan juga Papa Irsyad, pasalnya mereka berdua sama-sama menyembunyikan anak mereka dari Izam, karena Bunda shanum tidak ingin izin menjadi perkecil hati atau menambah benci kepada Papa Irsyad,
" Maksud kamu apa Zam?" tanya bunda shanum pura-pura tidak mengetahui
" maksud saya Sheila Bun, anak kalian berdua Bukankah dia sedang sakit? Mengapa kalian tinggal?" ucap Izam
" Sheila siapa sih Zam, anak bunda kan kamu" ucap Bunda shanum tidak mengakui ucapan izzam
" Baiklah Terserah kalian saja jika masih ingin berpura-pura di hadapan saya" ucap Izam dingin dan cuek, sejujurnya Izam sangat amat kecewa dengan sang Bunda, sejak Izam mempelajari ilmu merentas, Hal pertama yang dia rentas adalah kediaman ibundanya di Turki, Iza mengerutkan keningnya saat melihat perempuan sedang bermain dengan sang Bunda, Izam pikir itu adalah keponakan Papi Irsyad atau siapalah, namun setelah diselidiki lebih lanjut, dirinya terkejut melihat anak kecil itu memanggil sang Bunda dengan sebutan mama, perlahan namun pasti izzam pun mendapatkan informasi bahwa sang Bunda sudah memiliki anak dari pernikahannya sekarang namun Izam pura-pura tidak mengetahuinya, usia anak tersebut kemungkinan 14 tahun
semua orang yang mendengar ucapan Izam pun langsung terdiam, mereka semua bingung ingin menanggapi ucapan Izam seperti apa,
tak selang berapa lama akhirnya dokter pun keluar dari ruangan alzena
__ADS_1
"bagaimana ke adaan nya dok?"tanya izam khawatir
"tolong di jaga lagi, istrinya pak, jangan sampai membuat nya stres, karna itu akan membahayakan janinnya, apalagi kehamilan ibu alzena masih lemah, jadi tolong jangan membuat nya sedih apa lagi stres"ucap sang dokter
"iya dok, terimakasih, apakah alzena harus di rawat?" tanya izam lagi
"tidak perlu pak, ini tinggal nunggu infus habis, baru boleh pulang"ucap dokter
"baik dok Terimakasih"ucap izam
"kalau gitu saya permisi dulu, pak bu"ucap sang dokter lalu meninggalkan izam dan juga keluarga nya
"ibu mau lihat alzena dulu zam, ayo nis" ucap ibu sambil mengajak nisa, karna dia tau bahwa, izam perlu bicara dengan kedua orang tua nya
"zam, "panggil bunda shanum
"apa lagi bun? "tanya izam dingin
"bunda mau tanya, kamu tau dari mana soal sheila zam?"tanya bunda shanum
"kalo mau bahas itu, nanti saja bun, di rumah utama, mending bunda sama om irsyad pulang saja, kalian pasti butuh istirahat, nanti setelah saya menghantar kan alzena pulang ke rumah ibu rania, saya akan ke rumah utama"ucap izam lalu pergi meninggalkan bunda shanum dan juga papa irsyad
"tunggu zam, bunda belum selesai bicara dengan kamu zam" ucap bunda shanum sedikit berteriak
"sudah mah, yang di katakan izam ada benar nya, lebih baik kita istirahat dulu, kamu pasti capek, baru sampai di Indonesia"ucap papa irsyad sambil menenangkan bunda shanum
"iya kamu bener pah, mungkin lebih baik kita istirahat dulu"ucap bunda shanum dan di angguki oleh papa irsyad mereka pun pulang ke kediaman utama ALFAUZI, sedangkan di dalam ruang rawat, alzena baru saja sadar langsung mencari keberadaan izam
"bu izam mana bu?"tanya alzena lemah
"ada di luar al, paling sebentar lagi masuk, kamu jangan banyak pikiran dulu ya, kamu harus banyak istirahat dan jangan terlalu stres, kalo kamu ada apa apa bilang sama ibu nak, "ucap ibu rania
"iya bu, maaf alzena sudah merepotkan ibu dan yang lain nya"ucap alzena tidak enak
"kamu kaya sama siapa aja al"ucap ibu rania
tak selang berapa lama izam pun masuk ke ruang rawat alzena
__ADS_1