
Sesampainya di kediaman Fahmi, alzena langsung memeluk adik iparnya itu, karena setau alzena, orang tua gina sudah meninggal dan gina menikah dengan fahmi tanpa ada satu keluarga pun yang menghadiri acara pernikahannya, meskipun gina masih mempunyai paman
" yang sabar ya Dek" ucap Alzena saat memeluk gina, tangisan gina pun akhirnya pecah
" hiks hiks hiks mas Fahmi Mbak" ucap gina di sela tangisan nya
"iya mbak tau, kamu pasti kuat, " ucap alzena sambil mengelus puncak kepala gina
setelah dirasa tenang baru alzena melepaskan pelukan nya,
"alea kemana dek?" tanya alzena yang tidak melihat keberadaan ponakannya itu,
"sama sus Nur mba"jawab gina, apa adanya sambil menyeka air mata nya
*
*
*
setelah selesai pemakaman alzena dan izam kembali ke kediaman gina, Alvin? entah kemana pria itu, dan izam pun tak mengkhawatirkan asisten pribadi ke 2 nya itu
"kamu kalo ada apa apa jangan sungkan hubungi mba ya"ucap alzena saat akan pamit pulang
"iya mba, makasih ya udah sempetin waktu buat hadir kesini"ucap gina terharu meskipun alzena bukan kaka kandung nya, tapi gina sangat menghormati alzena, begitu pula sebaliknya
"kalo gitu mba pamit pulang dulu ya, kamu jaga kesehatan nya, inget kamu masih ada alea yang perlu kamu perhatiin dek"nasihat alzena
"iya mba Terimakasih atas nasihat nya" ucap gina
"kalo gitu mba pamit pulang ya"ucap alzena kembali memeluk gina
"iya mba"ucap gina sambil membalas pelukan alzena
"udah pamit nya?" tanya izam saat melihat alzena keluar
"udah , kalo belum mana mungkin aku di sini"ucap alzena kesel
"iya maaf, gue telfon Alvin dulu" ucap izam lalu menelfon Alvin
__ADS_1
"ish nyebelin banget si jadi cowok, gue udah ngomong aku tapi dia malah gue gue aja! dasar ngga peka!! " batin alzena kesel
"vin lu dimana?" tanya izam saat panggilan terhubung
" apa udah mau pulang tuan?" tanya Alvin balik
"iya lu dimana?"tanya izam lagi
"saya segera kesana tuan"ucap Alvin lalu panggilan langsung terputus
" dasar anak buah ngga ada sopan sopan nya, main matiin aja"gerutu izam, dia tidak sadar bahwa alzena mendengarkan obrolan nya
"kenapa si zam, belum juga sembuh itu luka, udah ngomel ngomel aja" ucap alzena
"astaghfirullah ngangetin aja lu al" ucap izam
"bukannya tadi lo bilang mau telfon Alvin? kok malah ngomel ngomel si" omel alzena
belum sempat izam menjawab pertanyaan alzena, orang yang di tunggu tunggu akhirnya datang juga, namun yang bikin mereka heran, mengapa Alvin menggendong anak kecil?
"lu gendong anak siapa vin!?"tanya izam
"astaghfirullah lea kok kamu bisa sama Alvin nak"ucap alzena terkejut lalu mengambil alea dari gendongan Alvin, namun saat baru di gendong alzena, bayi berumur 3 bulan itu langsung menangis, sehingga menarik perhatian orang lain
"tidak apa nyonya, biar saya yang gendong"ucap Alvin tidak enak, takut membuat keributan, dan dengan terpaksa alzena pun memberikan alea kepada alzena,
"lu kenal sama anak ini al? "tanya izam penasaran
"dia anak nya gina dan fahmi"jawab alzena, dan izam hanya mengangguk pelan
"ya udah lu jagain ini anak aja, kita pulang naik taksi"ucap izam
"tapi tuan-"
"ngga ada tapi tapian, jagain ni anak sampai orang tua nya nyari, siapa tau lu bakal jadi calon bapak tiri nya"ucap izam lalu mengajak alzena meninggalkan kediaman fahmi, meski izam jalan nya belum stabil akan tetapi dia tetap memaksakan, karna takut terjadi hal yang tidak di inginkan kepada alzena.
*
*
__ADS_1
*
"zam"panggil alzena saat mereka sudah berada di dalam taksi
" kenapa al" jawab izam sambil membuka mata nya, karna dia merasakan sakit di Kepala nya
"lo ngga papa zam?" tanya alzena khawatir
"menurut lu gimana?"tanya izam balik
"keliatannya si ya ngga papa"jawab alzena
"nah itu lu tau" ucap izam sambil memaksakan senyuman nya di bibir pucat milik nya
"tapi muka lo pucat banget zam" ucap alzena sambil menyentuh pipi izam
"gue ngga papa al, gue cuma butuh istirahat aja"ucap izam sambil melepaskan tangan alzena dari pipi nya
"ya udah lo istirahat aja nanti kalo sampe rumah gue bangunin"ucap alzena dan izam pun menurut, namun dia hanya memejamkan mata saja, tidak benar benar tertidur, karna rasa kewaspadaan nya menghantui dirinya,
hingga tak terasa taksi yang di tumpangi mereka akhirnya sampai di kediaman ibu rania, zayden dan agus yang melihat izam keluar dari taksi langsung bergegas menghampiri izam dan membantu pria itu, untuk berjalan
begitu pula dengan nisa dan juga shaila, mereka berdua membantu alzena, padahal alzena tidak kenapa napa
"kaka pasti cape ya kak"ucap Nisa
"kaka ngga papa dee cuma laper aja"ujar Alzena jujur
"apa tuan baik baik saja?" tanya zayden, izam hanya membalas dengan anggukan, namun matanya masih terpejam, karna jika membuka mata rasanya kepala nya sakit
"zay coba lu telfon dokter suruh cek keadaan izam, gue takut dia kenapa-kenapa, karna dia kan baru keluar dari rumah sakit"ucap agus dan di turuti oleh zayden, pria 23 tahun itu segera menelfon dokter yang menangani izam sebelumnya, dan zayden juga menelfon anak buah nya agar menjemput sang dokter, karna mereka masih belum tenang jika orang yang ingin mencoba membunuh izam tertangkap
"tolong antar gue ke kamar, kepala gue rasanya pusing banget, gue butuh istirahat"ucap izam kepala agus dan juga zayden, namun matanya masih tetap terpejam
agus dan zayden pun mengikuti permintaan izam, karna mereka juga tidak tega melihat izam, setelah menghantar kan izam ke kamar, izam berpesan kepada mereka untuk menjaga alzena
"kalian berdua tolong jaga alzena, dan adik adik gue, jangan biarin satu pun yang keluar masuk ke dalam rumah ini tanpa tanda yang gue kasih" ucap izam sebelum benar benar terlelap
"siap tuan akan saya laksanakan, kalau begitu saya permisi dulu tuan pak"ucap zayden sambil menunduk
__ADS_1
"gue juga keluar dulu zam, lu cepet sehat ya" ucap agus dan di balas anggukan oleh izam