Ditalak Saat Aku Berhasil Hamil

Ditalak Saat Aku Berhasil Hamil
BAB 4 BELI RUMAH


__ADS_3

Setelah memastikan alzena istirahat, Izam pun keluar dan menuju ke tempat di mana sang ibu berada


"bu" sapa izam


"iya zam, ada apa?" Jawab ibu


"izam tau ibu ga setuju dengan keputusan izam, izam paham bu, besok izam pastikan kalo alzena udah pindah bu, tolong hari ini izinkan alzena menginap di sini ya bu" ucap izam memohon


"bukan nya ibu ga setuju dengan keputusan kamu zam, kamu tau sendiri kan kita di sini bukan hidup sendiri, melainkan banyak mata yang melihat, kamu pasti tau betul dengan apa yang bakal terjadi bukan?" ucap sang ibu


"iya bu izam paham, kalau begitu izam pamit ya bu, izam mau mencarikan kost atau apartemen buat alzena" ucap izam


"ibu izin kan zam, kamu hati hati ya" ucap nya


"oh ya bu, sebenarnya alzena cuma temen izam saja bu, tidak lebih" ucap izam takut sang ibu salah paham


"iya ibu tau sifat kamu zam, mana mungkin kamu berhubungan dengan istri orang kan? " ucap nya sambil tersenyum


"ya sudah bu, izam pergi dulu, "


"iya zam, kalau sudah ketemu langsung pulang ya nak"


"iya bu Assalamu'alaikum" sambil mencium tangan sang ibu


"waalaikumsalam"


izam pun pergi untuk mencari rumah, izam baru kepikiran dengan rumah yang di samping rumah nya itu, jika rumah itu akan di jual, izam pun langsung menghubungi sang pemilik rumah


"assalamu'alaikum pak" sapa izam


"waalaikumsalam, maaf ini siapa? " jawab sang pemilik rumah


"ini izam pak, anak bu rania" ucap izam


"oh iya zam ada apa zam? "


"pak rumah bapa yang di samping rumah saya sudah kejual belum pak? kalau belum saya mau membeli nya pak"


"belum zam, kamu serius ingin membeli rumah saya? "


"iya Pak saya serius, bapa mau jual berapa pak" tanya izam


" 1,4 M zam" jawab nya


"ya sudah pak gimana kalau kita ketemu Hari ini pak"


"kamu yakin zam ingin membeli rumah saya zam? "


"saya yakin pak"


"ya sudah kamu ke rumah saya saja, rumah saya di jalan parangtritis 1 nomor 3 zam"


"baik Pak saya kesana sekarang"


Izam pun pergi ke rumah Pak Joko sang pemilik rumah, di sisi lain Farhan merasa kesepian karena mau bercerai dengan Alzena


" udah lah Mas, Mas Kenapa sih dari tadi melamun terus" ucap Fahmi


" nggak ada gunanya Mas mikirin Alzena itu, dia bukanlah perempuan yang baik buat Mas, bikin mas harusnya itu bersyukur bisa bercerai dengan Alzena, dengan begitu Mas pasti bisa memiliki wanita yang sempurna untuk Mas dan juga Mami dan Papi" ucap fahmi


" Iya Farhan ngapain kamu masih mikirin perempuan yang nggak berguna itu, sekarang lebih baik kamu urusin semua berkas-berkas untuk perceraian kalian, Mami harap kalian secepatnya bercerai secara hukum, karena Mami mau menjodohkan kamu dengan anak salah satu sahabat mami," ucap mami sarah


" terserah mami aja lah, kalau gitu aku ke kamar dulu mau siapin surat-suratnya" ucapan lalu pergi meninggalkan sang Ibu dan juga adiknya


saat kembali ke kamar Farhan teringat dengan Alzena, namun dia buang jauh-jauh pikiran itu, Farhan berusaha tidak peduli lagi dengan Alzena, meskipun dalam hati kecilnya dia khawatir bahkan sangat-sangat khawatir dengan keadaan Alzena

__ADS_1


apalagi dia mendengar bahwa sang Papi mengancam mantan mertuanya untuk mengusir Alzena anak kandungnya sendiri, dan dengan Teganya dirinya mengambil harta benda milik Alzena,


setelah mengambil surat-surat untuk perceraiannya, farhanlangsung pergi ke pengadilan,


" mih pih Farhan berangkat dulu"


" Iya kamu harus mengurus secepatnya Farhan, Papah mau dalam 2 bulan kamu sudah menjadi duda bagaimanapun caranya"


" Ya baiklah Farhan pamit"


Farhan pun pergi meninggalkan rumah dan menuju ke pengadilan untuk mengurus surat-surat nya


45 menit berlalu sekarang Izam sudah di rumah Pak Joko, sebelumnya Izam pergi ke bank untuk mengambil uang cash


" Assalamualaikum Pak"


" Waalaikumsalam nak Izam Mari masuk"


" Ya Pak terima kasih"


" Sebelumnya saya minta maaf sudah mengganggu waktu Bapak"


" tidak apa Nak Zam kita langsung saja ya"


" Iya Pak, ini silakan Bapak hitung uangnya" ucap Izam sambil memberikan tas berisi uang


" ini nak Izam silakan periksa sertifikatnya"


izam pun memeriksa sertifikat rumahnya, dan Pak Joko juga Mulai menghitung uang dari Izam, cukup lama Pak Joko menghitung uang dari Izam,


" Oke Pak ini sertifikatnya asli, Bagaimana dengan uangnya Apakah kurang?" tanya Izam


" Bapak belum bisa menghitung semuanya nak Izam, Tapi bapak percaya dengan nak Izam, jika nanti uangnya kurang bapak akan menagih ke rumah"


"iya nak Terima kasih sudah membeli rumah saya "


" sama-sama Pak saya juga berterima kasih"


lalu Izam pun langsung pulang ke rumah, tidak lupa dia mengajak beberapa temannya untuk membersihkan rumah yang baru saja dia beli


" Gus lu di mana" tanya Izam saat menghubungi Agus


" di bengkel kenapa" jawab agus


" tolong bantuin gue dong ajak anak-anak yang lain juga buat bersih-bersih rumah"printah izam


" rumah yang mana? tanya agus


" gue baru aja beli rumah yang ada di samping rumah ibu, sekarang Lu mending ke sini bantuin gue beres-beres besok mau diisi soalnya" jawab izam


" tapi ngapain lu beli rumah di samping rumah Ibu," tanya agus heran


" udah Jangan banyak bacot lu cepetan nanti gue ceritain" panggilan pun terputus


Agus menggerutu tentang sikap izam yang tiba-tiba aneh menurut nya, namun dia tetap menuruti permintaan Izam karena jika tidak dituruti maka Izam akan mengamuk


40 menit berlalu akhirnya izam sudah sampai di rumah yang baru saja dia beli, dan ternyata agus, rian dan juga zidan sudah sampai di rumah itu


" nah kebetulan temen-temen gue udah pada sampai"


" lama amat sih Lu dari mana aja" ucap Agus


" tuh gua baru aja beli beberapa peralatan dapur"


" lu ngapain sih beliin di rumah segala emang rumah lu udah sempit?" tanya Rian

__ADS_1


" enak aja lu kalau ngomong ini buat temen gue"


" Astaga izam lu yang bener aja, Masa di rumah buat teman lu kita yang bersihin" ucap Zidan


" udah deh banyak bacot mendingan beresin, besok orangnya mau pindah ke sini soalnya"


Mereka pun terpaksa membereskan apa yang Izam suruh, cukup lama mereka berempat membersihkan rumah itu karena Pak Joko sudah 1 bulan tidak menempati rumah itu dan barang-barangnya pun masih kosong


3 jam berlalu akhirnya mereka selesai membereskan semua barang-barang yang baru Izam beli, mulai dari tempat tidur, meja makan, TV, mesin cuci ruang tamu serta yang lainnya


" Alhamdulillah Akhirnya selesai juga" ucap Agus


" ini rumah buat siapa sih Zam, lu sampai semangat banget," tanya rian


" ini buat Alzena, sekarang dia lagi tidur di rumah sebelah, karena Ibu nggak mau ada fitnah makanya gue beli rumah nih rumah" jawab izam


" Astaga Alzena temen lu?" tanya Rian


" Iya Alzena yang itu Alzena yang mana lagi"jawab izam


" Emang dia Udah cerai sama suaminya?" tanya Zidan


izam pun menceritakan secara singkat dengan apa yang sudah menimpa Alzena,


" dari cara lu ngomong kayaknya lu suka ya sama Alzena?" tanya Agus


" lu kalau ngomong disaring dulu ngapa gus" jawab izam


" Lagian lu sampai seperhatian ini sama cewek, sebelumnya belum pernah tuh"


" udah nggak usah omongin Alzena gue lagi capek" ucap izam


" Dikira lu doang apa yang capek kita juga capek kali" ucap Zidan


" Oh ya gimana bengkel?" tanya Izam


" lumayan rame" jawab Ryan


" Bagus deh kalau gitu, itu udah gue transfer buat lu pada thanksnya udah bantuin gue hari ini"


" Nah gini dong kan enak" ucap Zidan


" kalau ada duit aja cepet lu dan" ucap Agus


" Hei jangan munafik anda hidup itu perlu duit" ucap Zidan


" Ya udah sana lu pada pulang Thanks udah bantuin gue"


" Tega amat lo ama temen main ngusir ngusir aja"


" Ya udah kita pamit ya zam Thanks buat hari ini" ucap Agus


setelah memastikan mereka pulang Izam pun pulang ke rumah, dan pastinya disambut oleh sang ibu


" Assalamualaikum Bu"


" Waalaikumsalam Zam"


" Alzena di mana Bu?"


" masih di kamar dari tadi ibu panggilin nggak keluar-keluar coba kamu lihat zam"


Izam terkejut dengan ucapan sang ibu, dengan tergesa-gesa Izam pun langsung ke kamar Alzena


tanpa menunggu lama Izam langsung membuka pintu kamar Alzena, kebutuhan pintu kamarnya tidak dikunci, dan betapa terkejutnya Izam saat mendekati Alzena

__ADS_1


__ADS_2