Dokter Cantik Penakluk Hati Billioner

Dokter Cantik Penakluk Hati Billioner
Satya Yang Hatinya Lembut


__ADS_3

Akia duduk di bangku yang ada di ruangan nya dengan tatapan Sean yang ada di hadapan nya sedangkan Satya menunggu di depan ruangan Akia.


Akia ke takutan sendiri melihat mata Sean yang berwarna abu-abu itu.


Apa yang akan di lakukan oleh si batu bata ini dengan tatapan yang mengerikan. Batin Akia mengumpat.


"Kau mengumpat ku kan?" Tanya Sean menebak.


Apa dari mana si batu bata ini tahu kalo aku mengumpat nya. Batin Akia takut.


"Sudah hentikan untuk mengumpat ku Akia" Tutur Sean.


"Aku tidak mengumpat mu tuan Sean" Balas Akia berbohong.


"Aku tau itu Akia" Tutur Sean.


"Kau tak tahu" Balas Akia kekeh.


"Aku tahu karena hati ku sudah melekat pada hati mu, dan lupakan saja. Setengah jam lagi kosongkan jadwal mu kita akan bertemu dengan orang tua mu bersama mommy and daddy" Tutur Sean tersenyum.


"Apa ta-tapi" Balas Akia mengantung.


"Tak ada alasan Akia" Tutur Sean tersenyum hendak keluar dari ruangan Akia.


"Dasar batu bata" Guman Akia pelan.


Perkataan Akia yang pelan ternyata terdengar oleh Sean, Sean yang akan membuka pintu kembali berbalik menghampiri Akia.


Akia yang tahu jika Sean mendengar langsung memalingkan wajah ke sembaranga arah berlaga tak tahu apa-apa.


"Kau sedang apa?" Tanya Sean basa-basi.


"Ah aku, aku sedang melihat cicak melahirkan" Balas Akia menjawab asal.


Sean yang gemas dengan tingkah laku Akia kembali mendekati Akia dan berbisik di telinga nya.


"Siapa yang kau sebut batu bata itu?" Tanya Sean lembut.


Akia merinding saat suara Sean terdengar lembut di telinga nya, Akia menjauh kan telinga nya dari bibir Akia.


Sean tahu bahwa Akia gugup dengan cepat Sean merubah posisi ny mejadi berdiri di hadapan Akia.


"Siapa yang kau sebut batu bata?" Tanya Sean kembali.


Aduh nih batu bata dengar lagi dengan sebutan yang aku julukk intuk dirinya. Batin Akia.


"Ah itu cicak nya batu bata karena kepala nya keras" Balas Akia asal

__ADS_1


"Kau aneh" Tutur Sean keluar dari ruangan Akia.


Setelah memastikan Sean sudah benar-benar tidak ada, Akia menghembuskan nafas nya lega.


"Fiuh... Akhirnya si batu bata pergi, sempat saja aku keceplosan menyebut nya batu bata. Eh tunggu dia akan mengajak ku menemui ibu dan ayah bersama ke dua orang tua nya, ah bisa kacau ini ibu kan tidak menyukai ku" Gumam Akia panik.


Akia segera keluar dari ruangan untuk menemui Sean, namun saat di loby Akia berpapasan dengan kedua orang tua Sean.


"Akia" Tutur Nyonya Harson.


"Nyonya, tuan" Balas Akia canggung.


"Panggil kami mommy and daddy karena sebentar lagi kamu akan menjadi menantu kami" Tutur Tuan Harson.


"Em ba-baik momm, dadd" Balas Akia merasa gugup.


"Nah begitu kan enak" Balas Nyonya Harson.


"Oh iya kamu mau kemana nak?" Tanya Nyonya Harson.


"Aku ingin bertemu Sean, momm" Balas Akia canggung.


"Bagus lah, ayo kita langsung pergi saja. Sean berada di bandara menunggu halipad nya, jadi kau bisa bertemu Sean dengan perjalanan menuju rumah orang tua mu" Tutur Tuan Harson.


"Ta-tapi" Balas Akia menggantung.


Akia memasuki mobil keluarga Harson dan duduk di depan bersama supir, tadi nya Akia di tawari duduk di belakang bertiga bersama tuan dan nyonya Harson namun Akia menolak nya dan memilih untuk duduk di depan.


Selang satu jam akhir nya mobil yang di tumpangi Akia tiba di bandara, terlihat Sean dan Satya menunggu nya.


Tuan dan Nyonya Harson berjalan terlebih dahulu dengan di ikuti Akia di belakang nya.


"Bagimana Will? Apa sudah siap?" Tanya Tuan Harson.


"Sudah dadd" Balas Sean tersenyum.


Tuan dan Nyonya Harson masuk terlebih dahulu, di susul Akia yang di gandeng naik oleh Sean.


Akia dan Sean duduk di bangku pojok jauh dari ke dua orang tua nya, sedangkan Satya duduk sendiri di depan bangku Akia dan Sean.


"Apa kita terbang sekarang Tuan Harson?" Tanya co-pilot.


"Of course" Balas Tuan Harson.


Halipad pun perlahan terbang, meninggalkan bandara di Jakarta tempat terparkirkan nya halipad menuju Surabaya kampung halaman Akia.


"Batu bata kenapa kita duduk di pojok" Tutur Akia spontan.

__ADS_1


Sean yang sedang sibuk dengan ponsel tiba-tiba menoleh ke arah Akia saat Akia menyebutkan diri nya dengan sebutan batu bata.


"What?" Tanya Sean menoleh ke arah Akia.


Akia sedang melihat ke arah jendela halipad tiba-tiba kaget dengan ucapan Sean, tanpa Akia menoleh ke arah Sean, Akia mengulang lagi perkataanya.


"Batu bata kenapa kita duduk di pojok" Tanya Akia melemah karena telah lantang menyebut Sean dengan sebutan yang d sematkan nya.


Perlahan Akia menoleh ke arah Sean, terlihat Sean yang memandangi balik wajah Akia dengan halis yang di naikan sebelah.


"Siapa batu bata itu sekarang? Di sini tak ada cicak jangan mengelak" Tanya Sean bingung.


Akia yang sudah ketahuan pasrah saja dan jujur pada Sean.


"Baiklah, baiklah aku beri tahu. Batu bata itu sebutan ku pada mu" Balas Akia jujur.


"Why batu bata?" Tanya Sean penasaran.


"Karena memang kau mirip batu bata" Balas Akia tertawa.


Sean bingung dengan jawaban Akia yang tak masuk akal, Sean menggebrak bangku Satya yang ada di depannya.


Satya yang sedang menonton konser grils band


favorit nya yaitu Black Pink merasa kaget, Satya menoleh ke arah belakang dengan ponsel yang masih menampilkan vidio konser BlakPink yang masih berputar.


"Apa wajah ku mirip batu bata Satya?" Tanya Sean khawatir.


"Tentu saja tidak tuan" Balas Satya.


Akia yang menatap layar ponsel yang di pegang Satya merasa lucu, dengan sigap Akia mengambil ponsel dari tangan Satya sehingg earphone yang menamcab pada ponsel terlepas.


"Nona jangan" Tutur Satya cemas.


"Ada apa Akia? Kenapa kau mengambil ponsel milik Satya? Apa kau mau ponsel itu?" Tanya Sean.


"Bukan begitu batu bata, coba kamu lihat ternyata asisten pribadi mu menyukai grils band dari Korea. Aku tak menyangka tubuh yang kekar berisi dan wajah yang nampak kejam ternyata menyukai grils band" Tutur Akia menunjukan ponsel milik Satya pada Sean dengan tertawa.


Sean pun melihat ponsel milik Satya, dengan spontan pun Sean tertawa terbahak-bahak.


"Aku baru tahu kau suka menonton yang kaya begini, Satya" Tutur Sean dengan tawanya.


"Buahahahah" Tawa Akia tak henti.


"Tuan dan nona Akia jangan begitu, saya laki-laki normal jadi tak salah kan saya mengidolakan mereka? Lagi pula mereka cantik-cantik" Balas Satya membayangkan wajah personil grilsband BlackPink.


---

__ADS_1


Haii readers dukung author nya yukk biar author semangat buat up tiap hari nya.


__ADS_2