
Sean mendudukan tubuh nya di bangku samping ranjang Akia, Sean memegang tangan Akia yang di balut selang infusan. Dalam gengaman nya, Sean berharap kedepannya ia tak ingin berjauhan dengan Akia.
"Maaf kan aku Akia, belum jadi suami saja aku sudah lalai" Tutur Sean.
Tiba-tiba jari tangan Akia bergerak, Sean terkejut kemudian memanggil Lidya menggunakan call nurse. Tak lama Lidya datang dengan suster.
"Ada apa Will?" Tanya Lidya.
"Tangan Akia gerak kak" Balas Sean.
Lidya mendekat kemudian memeriksa Akia dan tak lama dari pemeriksaan mata Akia terbuka perlahan dengan cepat Sean mendekat pada Akia sambil memegang tangan Akia.
"Batu bata" Tutur Akia dengan nada serak.
"Ya Akia aku di sini" Balasa Sean senang.
Akia hendak bangun namun Akia merasakan rasa sakit di perut nya.
"Aw.." Ringis Akia.
Sean panik.
"Kak periksa Akia cepat!! Dia kesakitan!!" Tutur Sean teriak.
Lidya memeriksa Akia kembali.
"Kandungan ku baik-baik saja kan dokter Lidya?" Tanya Akia.
Sean sudah ingin menangis namun malu akan Lidya dan suster, Lidya yang dapat pertanyaan dari Akia hanya menunduk sambil menyudahi aktifitas nya.
"Kenapa diam? Batu bata apa yang terjadi? Dokter Lidya apa yang terjadi?!!!" Tutur Akia menggoyang tangan Lidya.
Namun sayang belum ada yang menjawab pertanyaan Akia.
Akia berusaha bangun dari tempat tidurnya walaupun perut nya sakit, Akia meringis membuat Sean khawatir. Sean mendekat pada Akia mencoba membantu Akia yang ingin beranjak.
"Jangan turun!! Berbaring!!" Tutur Sean marah.
"Jangan sentuh!!" Balas Akia marah.
"Kau mau apa?" Tanya Sean marah.
"Aku hanya ingin tahu perkembangan janin ku!!" Balas Akia berteriak.
"Hentikan Akia!! Hentikan!!" Tutur Sean marah.
Lidya dan suster pun pamit keluar karean tak enak jika harus melihat Sean dan Akia berantem.
"Jawab!!" Tutur Akia.
__ADS_1
Sean tak menjawab, Sean memalingkan tatapannya ke arah wajah Akia yang cantik, polos tanpa make up.
"Apa jangan-jangan..!!" Tutur Akia mulai menangis.
Sean melirik kembali Akia yang menangis di bawah ranjang, Sean mendekat lalu memeluk Akia.
"Apa yang aku pikir kan tidak benar kan batu bata hiks..hiks.." Tanya Akia menangis.
"Maaf Akia.." Balas Sean dengan wajah sedih nya.
"Tidak tidak, tidak mungkin ahh!!" Teriak Akia tak terima.
Akia memukul dada Sean sedang kan Sean memeluk Akia erat agar Akia tenang dan ikhlas dengan ujian yang di berikan padanya dan juga pada Sean.
Akia sedikit tenang, Sean mulai bisa melonggarkan pelukannya. Sean membantu Akia kembali ke atas ranjang nya, Akia duduk di atas ranjang dengan tatapan kosong.
"Apa kau mau makan?" Tanya Sean.
Akia hanya menggeleng kan kepala nya, pintu ruangan terbuka nampak Nyonya Aiza dan suaminya. Nyonya Aiza kaget dengan keadaan Akia, Akia yang berwajah cantik terlihat sangat pucat dengan tatapan kosong nya.
"Will, Akia baik-baik saja?" Tanya Nyonya Aiza.
"Akia tak menangis, Akia belum menerima harus kehilangan calon anak kita mom, dad" Balas Sean sedih.
"Panggil Qausar" Titah Tuan Chan.
Karena nurse call hanya di peruntukan Lidya yang menangani Akia jadi Sean harus memanggil Qausar ke ruangannya.
Nyonya Aiza mendekat pada Akia, semoga saja jika berbicara dengan sesama perempuan Akia akan ihklas.
"Nak, ini mommy calon mertua nu" Tutur Nyonya Aiza menepuk bahu Akia.
Akia menoleh kemudian membalikan tatapan nya kembali ke arah semula.
"Mommy tahu kehilangan itu berat sayang, mukin tuhan lebih sayang janin mu. Mommy yakin nanti tuhan akan menggantikan yang lebih baik untuk mu" Tutur Nyonya Aiza.
Ketahuilah Nyonya, saya belum rela jika harus kehilangan anak saya. Saya tahu Sean senang dengan kabar ini, kabaran ini menguatkan Sean agar tak bertanggung jawab pada ku. Batin Akia menangis.
Pintu ruangan terbuka nampak Sean bersama dengan Qausar dan Lidya.
Sean menghampiri Akia mengelus rambut Akia dengan penuh kasih sayang.
"Maaf tuan apa tuan memanggil saya?" Tanya Qausar.
"Ya, kenapa Lidya ikut?" Balas tuan Chan bertanya.
"Maaf om, aku dokter yang menangani Akia jadi aku harus tahu apa yang akan terjadi dengan Akia" Balas Lidya.
"Kau ini, dokter Qausar apa yang terjadi dengan calon menantu saya?" Tanya tuan Chan.
__ADS_1
"Saya akan memeriksa nya dulu" Balas Qausar.
Qausar mendekat pada Akia yang bertatapan kosong, Sean mundur mendekat pada ibu nya, saat hendak memeriksa Akia tangan Akia menepis tangan Qausar yang hendak memeriksa nya.
Sean dengan cepat menghampiri Akia.
"Tak perlu memeriksa ku dokter Qausar, aku baik-baik saja!!" Tutur Akia.
Semua yang ada di ruangan bernafas lega terutama Sean karena Akia mulai membuka suara dengan perkataan baik-baik saja.
"Sungguh kau baik-baik saja?" Tanya Sean meyakinkan.
"Pergi lah! Kau bebas sekarang, aku ingin pulang" Balas Akia turun dari ranjang.
"Apa maksud mu? Terbebas? Aku tak mengerti" Balas Sean bingung.
Bodoh!! Kata nya lulusan luar negri tapi otak lemot dasar batu bata. Batin Akia.
"Aku sekarang sudah tak mengandung anak mu lagi, ada kesempatan untuk agar tak bertanggung jawab" Tutur Akia.
"Akia tidak, tidak. Aku mencintai sungguh mecintai mu" Balas Sean memegang tangan Akia.
Nyonya Aiza mendekat pada Akia yang hendak pergi.
"Akia mommy mohon jangan pergi, mommy tidak mendidik Sean seperti pencundang. Sean benar-benar mencintai mu nak" Tambah Nyonya Aiza.
"Yang di katakan mommy benar, aku mencintai mu tulus tanpa paksaan dari mommy dan daddy percayalah Akia" Tutur Sean.
Akai dan Sean saling menatap hingga tatapan Akia luluh dengan tatapan Sean dan pernyataan nya yang mengatakan bahwa Sean tulus mencintai Akia.
Akia memeluk Sean begitu pun Sean yang bahagia karena Akia tak meninggalkan nya.
"Jangan berpikir seperti itu, mau bagaimana pun aku tetap akan mencintai mu" Tutur Sean.
Semua yang ada di ruangan menjadi nyamuk di antar Sean dan Akia, Lidya yang melihat nya berpura-pura batuk.
"Uhuk.. Uhuk" Suara Lidya.
Qausar yang tahu jika Lidya batuk pura-pura membantu menjalan kan aksinya.
"Dokter Lidya batuk, batuk sebelah mana?" Tutur Qausar serius.
"Batuk nya sebelah sini, aduh sakit" Balas Lidya.
Akia dan Sean melepas pelukannya karena tingkah laku Lidya dan Qausar. Akia dan Sean tertawa ria begitu pun dengan Nyonya Aiza dan tuan Chan senang karena tingkah laku keponakannya.
Usai adegan romantis itu Nyonya Aiza dan tuan Chan berpamitan pulang beserta Lidya dan Qausar yang ikut pamit untuk melanjut kan pekerjaan.
Akia kembali merebahkan tubuh nya di ranjang tadi di temani Sean yang duduk di bangku.
__ADS_1