
Alifia dan Liji sudah sampai di sebuah rumah makan yang sederhana, Liji memandang keadaan rumah makan yang terletak di sebuah kampung yang kecil.
"Apa tidak apa-apa makan di sini?" Tanya Liji enggan.
"Tenang dok, makanan di sini sehat kok bukti nya saya. Jika tidak sehat mungkin saya akan sakit, lagi pula ini tempat makanan langganan saya" Balas Alifia meyakinkan.
Liji di gendeng oleh Alifia ke dalam tempat makan, Alifia memesan dua menu yang sama. Sambil menunggu makanan tiba, Liji mencoba bertanya kepada Alifia.
"Kamu benar suka dengan Satya?" Tanya Liji spontan.
Alifia mentap Liji kemudian tersenyum, Alifia menceritakan niat nya untuk mendekati Sean namun entah kenapa saat Zack memberi perhatian pada Alifia, rasa suka Alifia kepada Sean memudar.
"Jadi waktu di rumah sakit perkataan bohong mengenai suka pada Satya?" Tanya Liji.
"Iya benar sekali" Balas Alifia.
"Baiklah jika begitu kita berteman, siapa nama mu?" Tutur Liji senang.
"Alifia" Balas Alifia.
"Oke, aku Liji. Senang berteman dengan mu" Tutur Liji tersenyum.
Hati ku lega usai mendengar alasan Alifia jika ia tak menyukai Satya. Batin Liji bersorak.
Makanan tiba dengan sigap Alifia yang kelaparan memakan nya langsung, namun tidak dengan Liji. Liji masih enggan untuk makan, Alifia memaksa Liji untuk makan dan pertahan Liji roboh. Liji memakan perlahan walaupun belum terbiasa Liji tetap memakannya.
--
Beres makan siang masakan Akia yang Akia antarkan melalui pengantar online, Sean nampak terduduk di kursi kebesarannya sambil memegang salah satu berkas.
Pintu di ketuk, Sean memberi intruksi untuk masuk. Nampak Satya datang menghampiri Sean dengan sebuah ponsel untuk memberi tahu kan jika ada yang menelpon melalui Satya dari proyek Milan.
"Maaf tuan kontraktor proyek Milan ingin berbicara dengan tuan" Tutur Satya memberika ponselnya.
Sean berbicara panjang lebar kesana kemari dan akhirnya selesai, saat Sean hendak mengembalikan ponsel Satya, Sean nampak asing dengan ponsel milik Satya.
"Ponsel baru?" Tanya Sean.
"Sekali-kali ganti tuan" Balas Satya.
Ponsel baru milik Satya mengingatkan Sean pada taruhan nya dengan Satya tempo hari lalu.
"Oh iya Sat, tempo hari lalu kita pernah taruhan kan?" Tutur Sean mendelik.
Aduh tuan masih ingat saja, saya malah sudah lupa dengan taruhan menyebalkan itu. Batin Satya panik.
"Iya tuan saya ingat" Balas Satya.
__ADS_1
"Bagus, bagaimana sudah ada wanita yang akan kau kencani?" Tanya Sean memfokus kan mata nya pada layar laptop.
"Belum ada tuan" Balas Satya lantang.
"Lambat sekali, aku majukan taruhan sampai hari ulang tahun mommy ku. Jika masih tak ada, siap-siap gaji mu akan di potong dan di sumbang kan ke anak yatim" Tutur Sean.
"Baik tuan" Balas Satya.
Sumbangkan saja semua tuan saya ikhlas dari pada saya harus mencari wanita sama saja membuat saya lemah dan terpuruk. Batin Satya.
Satya keluar dari ruangan Sean, Satya masuk ke ruangan nya. Satya nampak menghela nafas dan membuang nya dengan kasar.
Siapa yang ingin dengan ku?. Batin Satya.
Satya meluncurkan jari nya di layar ponsel.
"Cari di online shop aja, kan dulu ponsel nya jelek makanya tidak ada coba kalo ponsel baru pasti ada" Tutur Satya optimis.
Satya mencari ke toko yang ada di online shop namun sayang yang di cari Satya tidak ada.
"Sialan, masa iya gak ada!!" Tutur Satya emosi.
Satya melupakan sejenak masalah taruhan, Satya kembali ke dalam pekerjaan yang masih menumpuk.
--
"Dokter, apa dokter bisa memeriksa adik ku?" Tanya si gadis yang bisa di perkirakan umur nya 9 tahun.
Akia nampak mematung dan langsung tersadar saat si gadis itu menarik baju Akia, Akia tersenyum lalu berjongkok di dahapan si gadis.
"Nama mu siapa, dan nama adik mu?" Tanya Akia mengelus pipi si gadis.
"Elora dan adik saya bernama Florin" Balas Elora kakak dari Florin.
"Baik jika begitu Elora, dokter akan memeriksa Florin. Ayo masuk" Ajak Akia.
Akia memanggil pelayan dan dengan cepat si pelayan datang menghampiri.
"Bi maaf tolong beri makan Elora, beri juga baju yang layak" Tutur Akia tersenyum.
"Baik nona" Balas si pelayan.
Elora di ajak Bi Sin makanan dan berganti pakaian sedang kan Florin, Akia gendong karena akan di periksa.
Saat menggendong Florin, Akia berpapasan dengan Nyonya Aiza yang datang dengan membawa jus jeruk.
"Kia siapa ini?" Tanya Nyonya Aiza melihat wajah Florin.
__ADS_1
"Seperti nya Florin pengemis lampu merah, kakak nya yang membawa kemari" Balas Akia.
"Baiklah cepat tangani, mommy akan bertanya pada kakak nya" Tutur Nyonya Aiza.
"Baik mom" Balas Akia.
Akia pergi meninggalkan Nyonya Aiza, Nyonya Aiza menyimpan jus nya di meja sembarangan tempat. Nyonya Aiza menghampiri gadis yang sedang makan di meja makan dengan lahap nya.
"Hai sedang apa?" Tutur Nyonya Aiza duduk berhadapan dengan si gadis.
Nampak nya Elora sangat canggung karena Elora makan banyak dan juga lahap.
"Makan saja, kenal kan saya Aiza. Kamu bisa memanggil saya dengan sebutan oma" Tutur Nyonya Aiza tersenyum.
"Apa boleh menyebut oma?" Balas Elora menunduk.
"Tentu saja, panggil oma. Nama mu siapa?" Tutur Nyonya Aiza.
"Nama aku Elora" Balas Elora malu.
"Nama mu cantik seperti wajah mu" Tutur Nyonya Aiza tersenyum.
Nyonya Aiza mengajak Elora bercerita kesan kemari tanpa melihat status Elora, Nyonya Aiza pula sangat turut perihatin dengan Elora dan adik nya. Mereka harus banting tulang mencari makan tanpa pendidikan di karena kan orang tua Elora meninggalkan Elora dan adik nya di pinggir jalan ibu kota ini dan sampai saat ini orang tua Elora tak pernah datang menjemput nya lagi.
Saat sedang bercerita, Akia yang datang bersama Gabriel putra nya menghampiri Nyonya Aiza dan Elora yang sedang makan.
"Dokter adik saya bagaimana?" Tutur Elora khawatir.
"Adik mu baik-baik saja hanya kekurangan gizi, adik mu sudah makan jika mau bertemu boleh kok" Balas Akia tersenyum.
Nyonya Aiza memanggil pelayan, pelayan pun datang lalu Nyonya Aiza menyuruh si pelayan untuk mengantar Elora pada adik nya.
Kini tinggal lah Akia dan Nyonya Aiza bersama dengan Gabriel yang tengah menyusui.
"Apa benar adik Elora tidak apa-apa?" Tanya Nyonya Aiza penasaran.
"Ya momm, aku tadi bertanya pada Lidya tentang diagnosis dan hasil nya adik Elora hanya kekurangan gizi" Balas Akia.
"Syukurlah" Tutur Nyonya Aiza.
"Oh iya momm, seperti nya cuti ku akan usai dan banyak pula pasien yang rindu dengan pengobatan ku. Boleh tidak jika Akia menitipkan Gabriel pada mommy?" Tutur Akia.
"Tentu saja nak, Gabriel cucuk oma" Balas Nyonya Aiza mengambil Gabriel dari Akia.
--
Voten dan like nya yuu yuu..
__ADS_1
Gomawo