Dokter Cantik Penakluk Hati Billioner

Dokter Cantik Penakluk Hati Billioner
Bunga Kamboja


__ADS_3

Satya yang berkutat di apartemennya dengan pikiran berkecamuk tak ingin dokter Liji dan Zack berkencan.


"Apa aku diam saja? Atau aku harus bertindak?" Tutur Satya geram.


Satya meluncurkan jari nya di layar ponsel untuk mencari tahu cara menembak wanita, Satya nampak kesal karena yang di tampilkan hanya lah cara menembak dengan pistol.


"Apa ini? Semua yang ku cari di media sosial tak ada!!" Gerama Satya.


Satya keluar dari apartemennya, saat melewati kamar sebrang Satya melihat seorang pria membawa bunga berwarna putih.


Pasti pria itu akan menyatakan cinta nya menggunakan bunga berwarna putih itu, saya beli saja yang seperti pria itu. Batin Satya senang.


Satya pun melajukan mobilnya ke sebuah toko bunga yang ramai banyak di kunjungi oleh anak-anak muda yang sedang kasmaran.


Satya keluar mobil lalu masuk ke dalam toko dengan gagah nya, Satya melihat-lihat bunga yang pria tadi bawa.


Sialan saya tahu warna nya tapi tidak tahu apa namanya. Batin Satya.


"Maaf tuan, apa ada yang bisa saya bantu?" Tutur si pelayan toko.


Apa saya tanya saja pada pelayan toko ini? Ah jangan Satya, kau sungguh memalukan. Batin Satya.


Satya menunjuk bunga kamboja yang berwarna putih, si pelayan merasa heran dan ke anehan tetapi si pelayan melayani Satya dengan baik.


"Bungkus kan bunga itu" Tutur Satya menunjuk bungan kamboja.


"Baik tuan, silahkan menunggu" Balas si pelayan mulai membungkus.


Beberapa menit membungkus akhirnya buket yang Satya sudah jadi, si pelayan memberikan buket itu kepada Satya.


"Total nya 200 ribu tuan" Tutur si pelayan.


Satya mengeluarkan dompet mencari uang kas pecahan seratus ribuan, selesai membayar Satya keluar dari toko bunga itu dengan wajah yang senang.


Satya memasuki mobil nya menyimpan buket di jok depan samping Satya.


"Tadi dokter Liji berkata dia masuk shift sore" Tutur Satya tersenyum sendirian.


Satya melajukan mobil nya menuju rumah sakit milik keluarga Harson untuk menyatakan cinta nya pada dokter Liji.


--


Sore hari ini Akia dan Sean berserta Gabriel tengah konsultasi kepada dokter Liji mengenai pemasangan alat pendengaran Gabriel.


Lidya memasuki ruangan dokter Liji seraya membawa contoh alat pendengaran yang nanti nya akan Gabriel kenakan.


"Apa pemasangan nya sudah dapat di lakukan?" Tanya Akia menoleh pada Sean.


"Usia Gabriel baru satu bulan, kita bisa memasangkan nya pada usia 2 bulan" Balas dokter Liji.

__ADS_1


"Apa untuk sekarang belum bisa?" Tanya Sean sudah mulai emosi namun Akia menahan emosi Sean.


Liji nampak ketakutan karena Sean sudah mulai emosi, penjelasan nya Lidya yang ambil alih karena Lidya sudah terbiasa dengan emosi Sean.


"Maaf Will, kami dokter dan istri mu juga dokter. Kami di sini harus mengikuti prosedur yang ada jika tidak itu akan mengakibatkan kefatalan bagi anak mu" Tutur Lidya.


"Sudah kita tunggu saja" Tambah Akia menenangkan Sean.


"Tapi sayang, aku ingin mendengar anak ku berkata ayah" Balas Sean manja.


"Sudah atau tak ada jatah" Tutur Akia berbisik.


Seketika Sean terdiam tanpa berkata karena hampir sudah beberapa bulan Sean tak merasakan lagi di beri jatah Akia, usai melahirkan dan kesibukan masing-masing membuat mereka tak bisa bermain di ranjang.


"Baiklah aku akan menunggu" Tutur Sean lesu.


Pengarahan sudah selesai, saat Akia dan Sean beranjak pintu ruangan Liji di ketuk. Liji dengan antusias memberi intruksi untuk masuk.


Pintu terbuka menampakan Satya yang membawa bunga, Liji keheranan dengan kedatangan Satya.


Aduh, tidak tepat waktu. Bagaimana ini ada nona dan tuan juga di sini. Batin Satya malu.


"Ada Satya kemari?" Tutur Sean menatap Satya.


Akia melihat Satya menyembunyikan bunga di balik tubuh nya.


"Ehem, sayang ayo keluar aku dan Gabriel lapar. Ajak Lidya juga" Tutur Akia menggandeng Sean juga Akia.


"Ih apaan sih dokter Akia" Balas Lidya yang tak lapar tapi di ajak oleh Akia.


Kini di ruangan tinggalah Satya dan Liji, mereka berdua nampak canggung, apa lagi Satya yang tak suka banyak bicara.


"Mari duduk tuan Satya" Tutur Liji mempersilahkan.


"Tak usah, saya hanya ingin memberikan ini" Balas Satya mengeluarkan bunga kamboja yang di belinya.


Bunga kamboja, untuk apa bunga kamboja?. Batin Liji heran.


Liji menerima nya dengan wajag kebingungan nya.


"Untuk apa bunga ini tuan?" Tanya Liji penasaran.


"Eum, jangan berkencan dengan Zack. Berkencan lah dengan saya" Balas Satya gugup dan formal.


What? Kencan? Bunga kamboja? Jadi ini acara menebak saya? Harus nya bunga mawar atau apalah tapi tak apalah mungkin tuan Satya tak tahu. Batin Liji.


"Kencan?" Tanya Liji kaget.


"Jika tidak mau tak masalah" Balas Satya hendak keluar.

__ADS_1


Liji memegang tangan Satya dengan refleks nya, Satya pun menoleh lalu Liji melepas kan pegangan nya.


"Maaf, baiklah mari kita berkencan" Tutur Liji malu.


Satya tersenyum bahagia dengan wajah yang menandakan ke gugupan.


"Malam ini saya akan menjemput dokter, saya permisi" Balas Satya dengan hati senang keluar dari ruangan Liji.


Liji nampak tersenyum kepada bunga kamboja yang di perantarakan untuk mengutarakan niat Satya.


"Bunga kamboja, tidak romantis tapi aku suka" Tutur Liji tersenyum.


Akia dan Sean yang masih di loby bersama Lidya dan suster Gabriel melihat Satya keluar dari lift dengan bahagia dan tersenyum.


"Satya!!" Panggil Sean.


Aduh tuan masih di sini, tapi tadi seperti nona tahu jika saya akan mengajak kencan dokter Liji. Batin Satya.


Satya kembali ke sifat aslinya yang kalem, Satya memasang wajah serius nya dengan tubuh yang tegap.


"Apa ada yang bisa saya bantu tuan?" Tutur Satya.


"Tadi bunga kamboja untuk apa?" Balas Sean penasaran.


"Maaf tuan, saya sudah berjanji akan memiliki wanita untuk di bawa ke hari ulang tahun Nyonya" Tutur Satya.


Akia hanya tersenyum melihat aksi Satya dengan keberanian kepada Liji, Lidya tak percaya jika Satya yang anti wanita bisa mendekati Liji.


"What? Jadi tadi? Menembak dokter Liji?" Tambah Lidya kaget.


"Saya hanya mengajak berkencan dulu" Balas Satya tersenyum malu.


"Hebat kau Satya, tapi tetap gaji mu akan di sumbangkan" Tutur Sean tertawa.


Terserah tuan saja, saya tahu tuan hanya ingin mengejek saya. Batin Satya.


"Aku kira dokter Liji menyukai Zack" Tutur Lidya penasaran.


"Sudah, mungkin dokter Liji memang menyukai Satya bukan Zack" Balas Akia.


Sean mengajak Akia dan suster yang menggendong Gabriel untuk pulang karena hari sudah menjelang sore meninggalkan Satya dan Lidya.


Lidya menoleh kepada Satya dengan wajah yang masih tak percaya.


--


Maaf author jarang up, bantu like dan vote nya yuu please.


Gomawo

__ADS_1


__ADS_2