Dokter Cantik Penakluk Hati Billioner

Dokter Cantik Penakluk Hati Billioner
Pandangan pertama


__ADS_3

Satya mengantar Sean ke rumah sakit, sebelum ke rumah sakit Sean bersinggah ke resto untuk membeli makanan sehat Akia.


Sampai di rumah sakit banyak suster dan staf di bangsal umum lantai 2 membicarakan Qausar dan dokter idola baru.


Sean dan Satya acuh tanpa memperdulikan nya, tepat di ruangan Akia nampak tak ada di ruangan nya. Saat suster Eva melewati Sean, Sean memberhentikan nya.


Eva nampak ketakutan saat berhadapan sang pemilik rumah sakit ini.


"Tidak usah takut, aku hanya ingin bertanya. Kau suster yang selalu dengan istri ku kan?" Tanya Sean lembut karena Akia yang meminta nya.


Eva nampak takut dan gemetaran, namun Eva masih bisa menjawab pertanyaan Sean sedangkan Satya hanyan berdiri di depan pintu ruangan Akia dengan menyilangkan tangan nya.


"Ma-maaf tuan, dokter Akia sedang bersama dengan dokter Lidya di ruangan nya" Balas Eva gugup.


"Dimana ruangan Lidya?" Tutur Sean bertanya.


"Lantai ini lorong kedua bangsal anak" Balas Eva takut.


"Baiklah terimakasih, kau boleh pergi" Tutur Sean.


Sean melirik Satya kemudian memberi isyarat "Ayo".


Satya mengikuti langkah tuan nya itu, dan sampai lah mereka di bangsal anak tepat di ruangan Lidya, Satya mencoba mengetuk namun tepat saat akan mengetuk pintu ruangan di buka oleh Liji.


Tatapan Satya bertemu dengan Liji, pemandangan yang tak biasa itu berlangsung cukup lama membuat Sean berdehem membuayarkan tatapan mereka.


Satya dan Liji salah tingakah, Akia keluar menyambut Sean.


" Kau datang, ayo ke ruangan ku" Ajak Akia menggandeng tangan Sean menjauh dari ruangan Akia.


Liji meminta maaf pada Satya kemudian masuk ke dalam ruangannya yang berada di depan ruangan Lidya. Lidya dan Qausar mendekat pada Satya yang masih terdiam.


"Apa kau mengalami cinta pandang pertama?" Goda Lidya.


Satya hanya menoleh lalu meluruskan pandangan nya mengacuhkan Lidya dan Qausar.


"Baiklah jika begitu kami ke kantin mau makan siang" Tambah Lidya berlalu meninggalkan Qausar dan Satya.


"Berjuang lah wahai pemuda!" Tambah Qausar menepuk pundak Satya lalu berlari mengejar Lidya.


Jantung ku berdebar kencang saat bertatapan dengan nya tadi. Batin Satya memegang dada nya.


Di ruangan nya Akia dan Sean sedang menikmati makam siang bersama, usai selesai Sean merebah diri nya di sofa yang ada di ruangan Akia.


Akia tahu jika suaminya kelelahan dengan banyak pekerjaan di kantor nya, Akia inisiatif memijat kaki Sean. Sean yang terkejut Akia memijat nya melepas kan tangan Akia dari kaki nya.

__ADS_1


"Aku ingin memijat nya" Tutur Akia kekeh ingin memijat Sean.


"Tidak, tidak" Balas Sean beranjak.


Sean memiringkan tubuh Akia lalu Sean memijat pundak Akia sambil tersenyum pada nya.


"Aku tidak capek" Tutur Akia melepaskan tangan Sean namun lagi-lagi Sean memijat nya.


"Aku tahu kau sangat capek dan sudah sepatut aku begini demi kau dan calon anak kita" Balas Sean tersenyum.


Akia mengelus tangan Sean yang sedang memijat nya sambil tersenyum bahagia.


"Besok aku akan ke Milan" Tutur Sean.


"Secepat itu kah?" Balas Akia dengan raut wajah kecewa nya.


Sean tahu Akia akan sangat kecewa jika ia tinggal, Sean beranjak kemudian menatap wajah Akia yang masam.


"Aku tak akan lama, lagi pula persanilan mu akan segera tiba dan tak mungkin jika aku meninggalkan mu lama" Tutur Sean memberi penjelasan.


"Benarkah?" Tanya Akia.


"Iya benar" Balas Sean tersenyum.


"Baiklah jika begitu pulang dengan cepat!!" Tutur Akia mengacungkan jari telunjuk nya.


--


Di ruangan nya Zoe nampak mengacak-acak dokumen yang ada di atas meja nya, baru kali ini Zoe di tegur oleh kepala rumah sakit karena pasal nya kepala rumah sakit di negara Zoe sangat memanjakan Zoe sebagai dokter idola.


"Aku benci di sini!" Tutur Zoe menggebrak meja nya.


Lepas dari Zoe yang sedang marah, Liji yang bertatapan dengan Satya sedang di landa hati yang berdebar.


Liji keluar ruangan nya seraya mengalih kan pandang nya ke kanan dan ke kiri takut jika ada Satya, di rasa sudah aman Liji berlari menuju kantin rumah sakit.


Di kantin Liji bergabung dengan Lidya dan Qausar yang tengah makan siang, Liji duduk di sebelah Lidya dengan mata yang melirik ke kanan dan ke kiri.


"Kenapa sih?" Tutur Lidya aneh.


"Ada apa?" Tambah Qausar yang ikut celingak-celinguk.


Liji menoleh pada Lidya kemudian beralih pada Qausar, usai memastikan aman Liji duduk biasa sambil memakan makanan Lidya.


"Pesen sanah ini makan siang aku" Tutur Lidya kesal.

__ADS_1


"Sudah tak ada waktu, sebentar lagi jam istirahat selesai" Balas Liji terus memakan makanan Lidya.


"Ambilah semua, kau yang bayar" Tutur Lidya tertawa.


"Tahu gitu aku pesen aja" Balas Liji ketus.


"Udah jangan ribut, kali ini yang teraktir" Tutur Qausar tersenyum.


Lidya beranjak kemudian mengambil berbagai makanan instan sebanyak mungkin ke dalam kontong plastik, di rasa sudah banyak Lidya menggandeng tangan Liji dengan paksa.


"Ayo kita makan di ruangan ku, dokter Qausar yang baik bayar ini semua ya" Tutur Lidya tersenyum, Lidya melenggang pergi dengan Liji yang membawa piring milik kantin rumah sakit.


"Lidya!!! Gak banyak juga ngambil makanan nya hei!! Liji!! Lidya!!!" Balas Qausar berteriak.


Saat Qausar ingin beranjak mengejar tangan Qausar di tarik oleh pedagang kantin.


"Mau kemana, dokter Lidya berpesan makanan nya semua di bayar dokter Qausar" Tutur si pedagang.


"Iya, iya berapa semua nya" Balas Qausar mengeluarkan dompet nya.


"200 ribu" Tutur si pedagang.


Qausar membayar nya usai selesai Quasar mengejar Lidya dan Liji, saat akan menghampiri nya Qausar berpapasan dengan Sean, Akia beserta Satya.


"Kenapa kau buru-buru sekali?" Tanya Sean heran.


"Aku habis di poroti oleh dua dokter anak di sini" Balas Qausar kesal.


"Lidya dan Liji?" Akia menebak.


Saat mendengar nama Liji di sebut hati Satya berdebar kencang seperti kuda yang kabur.


Kenapa ini selalu berdebar?. Batin Satya.


"Iya mereka mengambil semua makanan di kantin dan pada akhirnya aku yang membayar" Tutur Qausar.


"Baiklah kejar kembali" Balas Sean tertawa.


Qausar melenggang pergi meninggalkan Sean, Akia dan Satya.


"Rekan kerja memang seperti itu semua sayang?" Tanya Sean.


"Tentu, tapi aku suka mereka" Balas Akia tersenyum.


Sean, Akia dan Satya kembali melajukan langkah nya menuju loby rumah sakit, sebelumnya Sean menolak agar Akia mengantar nya sampai loby rumah sakit namun Akia memaksa sampai mau menangis jadi mau tak mau Sean menuruti keingan istri dan bisa di sebut juga keinginan calon anak nya.

__ADS_1


--


Vote dan like nya dong...


__ADS_2