
Pagi hari yang sangat bahagia bagi pasang Sean dan Akia, nampak Akia tengah memakai kan dasi suami nya. Usai rapih, Sean mencium perut Akia yang sangat membuncit.
"Selamat pagi calon anak papah, baik-baik yah nak. Jangan buat mamah kesusahan, nanti papah marah!" Tutur Sean mengelus perut Akia.
Akia tersenyum bahagia dengan kelakuan suaminya yang sangat hangat pada nya dan calon bayi mereka. Sudah puas dengan calon bayi Sean berdiri memandang Akia yang tersenyum.
"Jangan tersenyum" Tutur Sean.
Akia mendelik marah pada Sean, Akia memukul dada Sean dengan cepat Sean memeluk Akia dengan tawa nya.
"Maaf kan aku, aku hanya bergurau sayang" Tutur Sean mencolek hidung Akia.
Akia mengusap hidung nya sambil cemberut berjalan menghampiri sofa.
"Kau selalu begitu" Balas Akia cemberut.
Sean mangambil sepatu nya lalu duduk di sebelah Akia yang masih kesal dengan ulah suami nya.
"Maaf kan aku, aku kan sudah meminta maaf sayang" Balas Sean fokus pada sepatu nya.
"Iya, iya" Tutur Akia singkat.
Sean sudah beres dengan sepatu nya, Sean memandang Akia dengan senyuman yang manis nya membuat Akia tak bisa lama-lama kesal pada Sean.
"Jangan tersenyum" Tutur Akia manja.
"Apa kau jatuh hati pada senyuman ku yang tampan ini?" Goda Sean.
Pipi Akia mulai memerah malu sudah seperti kepiting rebus.
"Sayang besok aku ada perjalanan bisnis ke Milan, apa kau mau ikut?" Tutur Sean.
Akia terdiam sebentar.
"Seperti nya tidak, akhir-akhir ini UGD selalu ramai. Aku tak bisa meninggalkan nya" Balas Akia.
"Apa kau tak mau cuti, aku lihat kau tak pernah cuti dari semenjak sebelum menikah sampai sekarang" Tutur Sean.
"Itu sudah sumpah ku menjadi dokter batu bata, aku tak bisa seenak nya cuti dan meninggalkan semua pasien ku" Balas Akia menjelaskan.
"Rumah sakit itu milik ku dan sudah pasti milik ku juga jadi kau bisa cuti kapan pun" Tutur Sean.
"Lidya pun kakak mu, tadi ia tak pernah mengambil cuti" Balas Akia membandingkan.
"Ah sudah aku tak mau berdebat dengan mu, kau selalu menang sayang. Jika tak mau ikut, berjanjilah untuk tidak bekerja dengan keras, makan makanan yang sehat dan aku akan menelpon mu satu jam sekali" Tutur Sean panjang lebar.
__ADS_1
"Iya suami ku, aku tahu itu" Balas Akia tersenyum.
Sean dan Akia berjalan bergandengan menuruni tangga untuk sarapan bersama, tak ada yang bersuara saat sarapan berlangsung. Usai sarapan Sean yang sudah di tunggu Satya untuk mengantarkan Akia ke rumah sakit.
Satu jam berlalu akhirnya Sean dan Akia tiba du rumah sakit, Akia mencium tangan Sean dan Sean mencium kening Akia, Akia turun dari mobil dengan hati-hati dan tak lama mobil yang membawa Sean berjalan menjauh dari Akia.
Dari kejauhan nampak Zoe sudah muak dengan Akia yang semakin hari semakin romantis dengan Sean, Zoe berjalan cepat menghampiri Akia yang akan masuk ke dalam rumah sakit.
Zoe menyenggol Akia sehingga Akia akan terjatuh namun dengan sigap Lidya menangkap nya.
"Kau tak apa?" Tanya Lidya.
Akia mengangguk tanda baik-baik saja.
"Gak punya mata? Tahu Akia hamil malah menyenggol!" Tutur Lidya marah.
"Salah kan pada nya, jangan sok keras di cap dokter idola sampai hamil besar tak ambil cuti! Ibu macam apa dia nanti nya?" Balas Zoe mendelik pada Akia.
Zoe melenggang pergi masuk ke dalam rumah sakit meninggalkan Lidya dan Akia.
"Kau tak apa kan?" Tanya Lidya khawatir.
"Aku tah apa, lain kali jangan di tanggapi ya" Balas Akia tersenyum.
"Ta-tapi" Tutur Lidya.
Akia dan Lidya masuk bersama hingga Lidya berpisah dengan Akia tepat di bangsal anak-anak, sedang kan Akia menuju ruangan nya.
Di dalam ruangan nya Akia memakai jas nya kemudian keluar kembali di temani suster untuk memeriksa pasien nya.
--
Di perusahaan nya Sean bingung dengan dirinya yang akan meninggalkan Akia untuk menjalan kan perjalanan bisnis menuju Milan.
Pintu ruangan Sean di ketuk, Sean memberi intruksi untuk masuk, nampak Satya dengan map di tangan nya.
"Maaf tuan ini proposal deri perusahaan yang ada di Milan untuk perjalanan bisnis besok" Tutur Satya.
"Simpan saja" Balas Sean singkat.
Satya merasa heran dengan tingkah tuan muda nya yang agak gelisah.
"Maaf tuan apa ada masalah?" Tanya Satya.
"Kau tak akan paham dengan masalah ku ini urusan rumah tangga dan kau jomblo!!" Balas Sean tertawa.
__ADS_1
Mending tadi aku tak bertanya jika pada akhirnya aku di bully lagi. Batin Satya kesal.
"Bagimana jika tuan meminta bantuan pada tuan dan Nyonya besar, mungkin mereka bisa membantu masalah rumah tangga tuan" Tutur Satya.
"Ah iya boleh juga tuh, otak jomblo berfungsi juga" Balas Sean tertawa.
Memberi saran juga di bully. Batin Satya kesal.
"Baik tuan jika begitu saya pamit keruangan saya" Tutur Satya.
"Ya sanah, jangan lupa tantangan kita!!" Balas Sean mendelik.
Satya melenggang pergi dengan hati nya yang mengahardik bosa nya yang selalu membully dengan kata jomblo.
Sean menghubungi orang tua nya namun sayang ponselnya sedang tidak aktif.
Di dalam ruangan nya Satya berpikir keras bagaimana mendapat kan wanita, Satya membuka situs belanjan online. Satya mengetik "mencari ****wanita****" di pencarian namun sayang yang keluar hanya pakaian wanita.
"Dasar situs tak berguna!!" Tutur Satya marah.
Satya prustasi bagaimana ia mendapat kan wanita dengan cara cepat, Satya tak boleh kalah dari Sean yang sudah memiliki istri.
Satya keluar dari ruangan nya menuju pantry kantor, di pantry nampak ada Miss. Han HRD pilihan Sean.
"Tuan Satya tak biasa nya anda ke pantry" Tutur Miss. Han yang heran dengan kedatangan Satya ke pantry.
"Saya sedang pusing" Balas Satya duduk di bangku.
"Apa ada yang bisa saya bantu tuan?" Tutur Miss. Han.
Apa aku menceritakan nya? Ah mending tidak usah nanti aku di bully jomblo juga oleh miss. Han. Batin Satya.
Satya keluar dari pantry tanpa mejawab pertanyaan Miss. Han membuat diri Miss.Han kebingungan dengan sikap Satya.
Satya luntang-lantung di koridor ruangan berjalan kesana-kemari, terdengar suara pintu ruangan Sean terbuka dengan cepat Satya memukul-mukul tembok, Sean yang keluar dari ruangan nya di tampakan oleh sikap aneh asisten nya.
"Kau gila?" Tutur Sean mendekat pada Satya.
Satya menoleh kemudian memasang tubuh tegap nya.
"Maaf tuan tadi saya hanya mencoba menjadi cicak" Balas Satya tanpa tertawa.
"Gila, cepat kerjakan email yang aku kirim!" Tutur Sean memukul bahu Satya.
Satya pun dengan tingkah aneh nya masuk ke dalam ruangan membuat Sean geleng kepala.
__ADS_1
--
Like dam vote nya dong please help me...