
Malam hari setelah makan malam Sean kembali naik ke atas untuk menuju kamar nya, sedangkan Akia masih mematung di meja makan.
Mengapa tuan arogan itu dingin padahal beliau tampan. Arghhh Kia tepisa pikiran mu. Batin Akia.
Akia beranjak dari meja makan karena si pelayan menyuruh untuk balik ke kamar nya.
Sesudah makan Akia tertidur pulas, tengah malam Akia terbangun dari tidur nya. Akia merasa kehausan.
Akia beranjak dari ranjang nya, memapah langkah dengan hati-hati dengan mata yang masih terpejam.
Dengan susah payah Akia menelusuri dan sampai pada akhir nya Akia sampai di depan kulkas.
Mata Akia masih samar-samar buram melihat isi kulkas tanpa melihat botol air yang di ambil nya Akia langsung meminum air yang di ambil nya di dalam kulkas.
"Tutup nya gampang di buka" Gumam Akia pelang.
"Apa ini minuman aroma baru" Akia bertanya-tanya.
Tanpa merasa heran Akia meminum setengah botol minuman itu.
"Akia no...! " Terik Sean.
---
Sean yang tengah malam belum tidur karena masih mengerjakan pekerjaan nya.
Sean turun dari kamar nya untuk ke ruang kerja mengambil dokumen yang penting.
Saat berlalu menuruni tangga, saat Sean melirik ke arah dapur, Sean melihat sosok Akia sedang meminum wine yang habis setengah botol.
Dengan sigao Sean berteriak namun sayang nya telat.
"Akia no...!" Teriak Sean.
Akia menoleh ke arah Sean, Akia tak memperdulikan Sean yang Akia rasa Akia hanya ingin minum dan kembali tidur.
Sean menghampiri Akia dan menepis botol yang ada di mulut Akia hingga jatuh pecah.
Akia menyisakan air wine dalam botol itu kira-kira satu gelas kecil lagi.
"You oke Akia?" Tanya Sean khawatir.
"Memang nya aku kenapa?" Tanya Balik Akia.
__ADS_1
Akia menepis tubub Sean yang menghalangi nya satu langkah, dua langkah Akia masih berjalan normal namun saat ketiga langkah kepala Akia pusing kini Akia jalan dengan sempoyongan.
Akia hilang pijakan nya tubuh nya hendak jatuh dengan sigap Sean menangkap tubuh Akia.
Sean membopong tubuh Akia menuju kamar tamu yang di tempati nya, Akia mengalungkan tangan di leher Sean.
Sean memasuki kamar tamu dan membaringkan Akia, namun Akia tak melepaskan pelukan dari tubuh nya Sean.
"Wine itu pasti sudah memunculkan reaksi nya, apalagi Akia meminum hingga tersisa sedikit" Gumam Sean pelan.
Akia mengecup bibir Sean, dan dengan aneh nya pula Sean tidak menolak nya sama sekali.
Hingga Sean terbuai akan serangan Akia yang sedang mabuk.
Peristiwa menjijikan tanpa ada ikatan pun mereka lakukan hingga kelelahan dan puas.
Pukul 03.00 Sean kembali ke kamar nya karena Akia sudah tertidur, Sean menyelimuti tubuh Akia yang tak memakai sehelai benang pun.
Sean kembali ke kamar nya, di kamar nya Sean tak bisa tidur dan tidak fokus dalam mengerjakan tugas nya.
"Argh.. Will, kau bodoh! Mengapa kau ikut nafsu saat Akia mulai mabuk dan menyerang ku!!" Gumam Sean menyesal.
"Apa aku memperkosa nya? Argh .. Tak mungkin justru gadis lugu itu yang menggoda dengan ciuman dan membuka baju nya, pria mana yang tak akan tergoda dengan komolekan tubuh gadis lugu itu" Gumam Sean.
Apa aku mengambil kesucian gadis itu?. Batin Sean bertanya.
Sean mandi mengguyur tubuh nya di bawahan guyuran shower.
Pagi hari tiba, Sean lebih awal bangu. Sean turun ke meja makan tanpa ada Akia.
Mungkin gadis itu masih tidur. Batin Sean.
Sean menyelesaikan sarapan nya, kemudian Sean berlalu menuju keluar rumah. Dilihat nya Satya sudah stand di pinggir Koeningsegg Sean.
Sean memasuki mobil nya dengan pintu yang sudah di buka kan oleh Satya.
Satya langsung melajukan pedal gas nya karena sudah ada intruksi dari Sean untuk jalan.
"Antar kan aku ke rumah sakit Satya, dan beri Akia kartu atm bebas limit untuk Akia" Tutur Sean kacau.
"Apa ada masalah tuan?" Tanya Satya.
"Tak ada jalankan saya perintah ku!" Balas Satya dengan nada tinggi nya.
__ADS_1
"Baik tuan" Tutur Satya.
Beberapa menit Satya sudah tiba di rumah sakit mengantarkan Sean, Sean langsung melajukan langkah nya menuju ruangan inap mommy nya karena hari ini mommy sudah di perboleh kan pulang.
Satya menjalankan perintah atasan nya dengan menelpon supir dan menyuruh nya kemari, 35 menit supir yang di perintah Satya tiba.
"Ada yang bisa saya bantu tuan Satya?" Tanya si supir.
"Berikan ini pada pelayan rumah dan suruh si pelayan simpan kartu ini di dalam tas nona Akia, dan kau antarkan nanti nona Akia ke sini. Dan satu hal lagi tanyakan pada pelayan apa yang telah terjadi antar nona Akia dan tuan muda Sean" Balas Satya panjang lebar.
"Baik tuan" Tutur si supir.
Satya menyusul atasan yang pasti kini sudah berada di ruangan nya Nyonya Aiza.
---
Di kediaman Sean, Akia menangis di dalam kamar mandi melihat bercak merah menodai sprei putih. Daerah sensitif Akia terasa nyeri, Akia menangis di bawah guyuran shower.
"I hate you, Sean. Hate you" Teriak Akia yang terdengar hingga keluar kamar.
Akia sudah selesai mandi, Akia memakai pakaian yang di belikan Sean. Mau tak mau Akia memakai nya karena baju kemarin sudah banyak noda bercak merah.
Akia keluar dari kamar dengan jas putih kebanggannya, pelayan menyapa dan menawarkan sarapan namu Akia menolak.
"Nona apa anda mau sarapan dulu?" Tanya si pelayan.
"Tidak aku akan pergi ke rumah sakit sekarang" Balas Akia masih dengan senyuman nya.
"Baiklah nona, ini ada atm pemberian tuan muda Sean untuk nona" Tutur si pelayan.
Awal nya Akia menolak namun si pelayan terus memaksa dengan waja memelas mau tak mau Akia menerimanya, dan jika Akia bertemu dengan Sean akan Akia balikan.
Akia pergi menuju ke rumah sakit dengan supir yang Satya perintah karena Akia tidak mempunyai uang untuk ongkos.
Beberap menit Akia tiba di rumah sakit, Akia langsung melajukan langkah kaki nya menuju loby rumah sakit, sebelum nya Akia mengucap terimakasih pada si supir.
Saat menginjakan kaki nya di loby, Akia berpapasan denga keluarga Harson. Dengan sigap Akia menahan langkah keluarga Harson termasuk Sean.
"Tuan Sean yang terhormat, saya mengucap kan berterimakasih atas perlakuan sampah anda, dan saya tidak butuh kartu ini karena saya masih menghasilkan uang sendiri dengan jeri payah saya!" Tutur Akia menampar pipi Sean lalu melemparkan kartu atm bebas limit itu kepada wajah Sean.
Akia berlalu dari hadapan keluarga Harson, Nyonya Aiz dan Tuan Chan kagum bercampur kaget dengan keberanian Akia. Begitu Satya dan orang-orang yang ada di loby.
Seorang Sean Will Harson billioner muda benus Asia dan Eropa yang terlihat dingin dan kejam kini hanya membisu dengan tamparan yang membekas di pipi Sean.
__ADS_1