
Ada yang memanas dalam dada ini, tapi kesiapan diri dan logika membuatku seperti merasa siap untuk melihat kemungkinan apa pun yang akan terjadi,tiba-tiba ponsel ku berdering masuk panggilan dari mbak Nana.
"Bu tolong pulang bu, mbak Jum marah-marah dengan seseorang di telfon dan nangis-nangis,sekarang dia ingin bunuh diri bu".
Mau bunuh diri, YA ALLAH,ngapain lagi lah si Jum ini.
"Yang benar mbak".
"Iya bu,dia ngancam ingin bunuh diri kepada orang yang di dalam telfon tersebut, jadi saya dan yuk Titik takut sendiri lihat nya bu, karena dia teriak-teriak bu, maaf bu apa dia sedang hamil?, katanya dia mintak tanggung jawab dengan lelaki yang di telefon tersebut, seperti nya jawaban lelaki itu tak mengenakan jadi dia mau bunuh diri dan marah besar, sungguh saya takut bu, dia sudah memegang pisau bu".
"Anak-anak gimana mbak?".
"Anak-anak, baru mau saya jemput ke sekolah bu".
Jum kelihatan nya sudah mulai putus asa dengan Mas Mail mengulur-ulur waktu untuk membuka perihal tentang hubungan pernikahan mereka di hadapan keluarga, ditambah lagi kehamilan nya yang semakin membesar.
"Oke mbak Nana, terima kasih info nya, saya akan segera pulang".
Lekas aku berlari ke pakiran bawah dan menuju mobil ku, lalu memacu nya dengan sangat cepat.
__ADS_1
Ketika sampai di rumah ku hentikan mobil di seberang jalan, aku melihat adegan yang begitu mengesankan, Mas Mail juga baru keluar dari mobil yang dia parkir tepat di depan pagar rumah, aku yang tadi nya hendak berlari, menghentikan langkah, dan berjalan perlahan lalu ,memilih berdiri di balik pintu.
"Kamu apa-apaan sih Jum, main yang begituan ?,tolong jangan main-main beginilah Jum!".
Ujuar Mas Mail.
Dengan suara yang begetar, mungkin sangat takut melihat Jum dengan kehebatan nya memberontak dari cengkalan tangannya dan mencoba menancam kan benda tersebut ke perut nya, bisa jadi,karena aku yang tak melihat tapi aku hanya bisa menerka situasi saat ini.
"Kamu yang main-main sama aku mas, tapi sekarang aku akan hentikan permainan kamu mas, aku akan akhiri semuanya, minggir, aku ingin mati " teriak Jum.
"Nggak jangan gila kamu Jum"suara Mas Mail sedikit garang dan gerem terhadap Jum.
tangisan nya tentu saja membuat Mas Mail iba dan kasihan.
"Nggak sayang, kamu gak boleh mati, kamu sabar sedikit,nggak akan lama, tolong ngertiin mas,kamu sabar sayang, kamu tahu mas sayang kamu Jum, nggak akan aku sia-sia kan kamu Jum, pliss mengerti lah sedikit".
"Nggak mas, aku gak percaya kamu mas".
"Jangan gitu Jum, beneran Jum mau tinggalin mas, Jum tega sama mas".
__ADS_1
Dengan susuh payah dan bejuta rayuan yang Mas Mail untuk membujuk Jum, akhirnya ****** itu luluh juga, tangisan nya pecah dan dia sudah tak berniat bunuh diri lagi.
Lelaki itu sekarang pasti sudah memeluk jum dengan sangat erat dalam dekapan nya, menghentikan tangisan nya.
"Janji ya mas, secepatnya".
"Iya,mas janji tapi kamu harus manut sama mas juga ya...? ".
Dan aku yakin mbak Nana dan yuk Titik pasti melongo dan schok hebat melihat fenomena yang terjadi di hadapan mereka.
"Saya titip pesan buat kalian berdua, Nana dan Titik tolong rahasia kan ke jadian ini dari ibu, oke? "Mas Mail berkata dengan suara terengah-engah di antara suara tangisan Jum yang masih terdengar.
Sebuah drama yang menakjubkan.
Menunggu jeda beberapa menit, melihat setuasi yang aman aku segera masuk ke dalam rumah, penuh dengan pendirian ku supaya aku berpura-pura tak tahu.
"Ada apa ini ? masuk-masuk kok Jum menangis? "tanya ku.
Mas Mail sontak menengok ke arah aku,lalu secepat kilat melepaskan pelukannya dari Jum.
__ADS_1