Dua Garis Muncul

Dua Garis Muncul
Jum mulai mengeluarkan taringnya


__ADS_3

Mama yang sedari tadi melihat Jum bersikap sikap seperti itu menjadi kesel dan geram sendiri, akhirnya jum melihatkan wujud asli nya.


"Kamu jangan seperti itu Jum,mulut mu pedas tenan iki",ucap mama Indah kepada Jum.


"Nah Nto sini duduk sebelah saya, jangan berdiri di situ terus",papa Heri mengajak Anto duduk sebelah nya, sambil menepuk-nepuk kursi.


"Dari dulu emang seperti ini loh bu, sifat nya Jum bu, kalau tidak dituruti kemauan nya ngamuk dia bu,sama saya juga begitu bu, entah mengapa sama bu Lina seperti itu juga dia, di kampung mana betah dia bu, apalagi tinggal lama-lama di rumah, saya orang nya cerewet bu, sama suka galak juga kalau anak pada bandel".


Mbok Marni hanya mampu menggeleng-gelengkan kepala nya sambil mengelus dada melihat prilaku Jum,ternyata mbok sudah sejak lama kesal dengan sikap Jum ini.


Sebenarnya aku sedikit paham dengan sikap Jum mangkanya dari dulu aku transfer uang untuk si mbok di kampung, aku yakin Jum tak mau memberi mbok Marni uang, karena jarang sekali dia izin pergi untuk mengirim uang kepada keluarga, bahkan sama sekali tak pernah, memang di hadapan ku Jum bersikap baik dan sopan,tapi itu semua untuk melancarkan aksi nya.


Dari pintu luar terdengar suara anak-anak,rupanya anak-anak pada memaksa Yanto untuk ikut bersama nya menjemput ku. Aku memang mengirim pesan kepada nya untuk menjemput ku.


"Papa......... "Sifaya dan Nia berlarian memeluk papa nya yang duduk di kursi depan.

__ADS_1


Mas Mail memeluk anak-anak begitu erat, mencium mereka satu-satu, aku tau rasa cinta nya terhdap anak-anak begitu besar, hal yang membuat nya sedih adalah berpisah dari anak-anak ketika kami bercerai nanti, mau bagaimana lagi, untuk saat ini aku belum sanggup hidup bersama mas Mail,mangkanya katika dia tahu Jum hamil, dia sangat senang sekali, karena dia memang ingin menambah anak lagi.


"Papa, kenapa nangis, kenapa bibir dan wajah papa penuh luka-luka? "tanya Faya kepada mas Mail.


"Iya papa bau apa ini, nggak enak bau nya pa, pasti papa belum mandi ya!!" ucap Nia terhadap papanya.


"Iya papa belum mandi, sebenarnya papa mau mandi, ini papa sudah buka baju" Faya dan Nia nyengir,mungkin mereka masih bingung dengan situasi ini.


Belum saat nya mereka tahu takut hati mereka rapuh dan terluka, mereka masih terlalu kecil untuk memahami semua ini.


"Sudah lah mbok, aku tu malas nya seperti ini loh mbok, mbok cerita nya gak selesai-selesai, aku ni anak mu loh mbok, masih juga di jelek-jelekkan,seharus nya mbok membela aku,ini malah aku di bicarakan begitu, dan masih ada aku di sini mbok".


"Biarin tuh Ndok, mbok juga sudah gemes dan geram dengan kelakuan kamu,agar kamu bisa berubah dan tidak seperti ini lagi, jadi kan ini pelajaran yo.Nduk!".


"Baiklah, mungkin sampai di sini dulu pembahasan kita, coba merenungkan diri dulu apa yang telah menjadikan keputusan kita kepada ALLAh, semoga masih dalam lindungan NYA, nanti kita adakan lagi pertemuan setalah dua minggu dari hari ini, semoga kita bisa menuntas kan semua yang tertunda saat ini"ujar papa.

__ADS_1


"Setuju".


"Siap,aku setuju".


"Ya kini saat nya pulang dulu, biar semua nya adem dan kita bisa merenung satu sama lain"ucap semua kakak-kakak ku.


"Jum kamu ambil semua barang-barang kamu di rumah itu,dan kamu pulang kampung dulu bersama kedua orang tua mu, nanti kita saling membari kabar saja"ujar papa.


"Nddak pak, dari tadi aku di segal, dan di suruh diam tampa bisa mengeluarkan pendapat ku, nggak boleh ngomong, mas kamu kenapa diam saja, kamu janji akan mengurus ku, mana janji mu mas, lemah kamu mas!!!,mana janji mu yang akan memperkenalkan kepada keluarga mu bahwa aku istri kedua mu,kalau aku istri yang sahh yang sudah kamu nikahi, kenapa sekarang kamu melempem mas?, kamu sungguh jahat mas, jahat mas, setelah kamu mengetahui semua nya kamu diam saja mas, kamu tinggalin aku begitu saja mas, atau mau menikahi ku mas, jawab aku mas, jawab mas?".


Jum berkata dengan lantang dan sedikit berteriak kepada Mas Mail.


Bagus Jum,dia sudah berani memanggil Mas Mail dengan sebutan 'MAS' di depan seluruh anggota keluarga.


"Kalau kamu gak mau jawab mas, aku akan pergi jauh-jauh dari hidup mu mas, bukan juga aku akan menikah dengan Anto mas, tapi pergi untuk selama-lama nya di mungka bumi ini dengan janin yang berada dalam perut ku ini mas, ini anak kamu mas, bukan anak Anto maupun anak orang lain mas, dengar semua yang ada di sini, ini anak nya Mas Mail, bukan anak orang lain".

__ADS_1


Dia mengeluarkan amunisi terakhirnya, dengan cara mengacam bunuh diri lagi, aduhh Jum kalau sudah niat mati ya mati saja tak usah memberi pengumuman di hadapan semua orang seperti ini, demi mendapat kan kepastian dari Mas Mail dan pengakuan di hadapan keluarga, yang bagi nya untuk saat ini tidak bisa di tawar-tawar lagi.


__ADS_2