
Terlihat suasana dalam keadaan yang tidak efektif, dimana Mas Mail terlah bersimpuh memohon ampun ke papanya, dan Jum tak kala mengerikan ke adaan nya saat ini.
"Ohh Jum, Jum kamu kok kebangetan ngelunjak nya, lah suami nya nyonya kok di embat juga Jum, aku yo ora rela kalau kamu jadi mantu ku Kum,bisa gila aku Mail!".
"Bukan aku yang mau bu..., Mas Mail yang terus ngejar-ngejar saya bu!! "jawabnya merunduk-runduk.
"Bukan kamu yang mau bagai mana?tapi kok niat banget nampak nya?"
"Ya, tapi aku sudah nikah sama Mas Mail bu, kenapa kalian perlakukan aku seperti ini"ucap nya masih menunduk dan menangis.
"Helahhhhh, ojo alasan Jum, kamu ini bodoh atau pura-pura bodoh, apa kalian nikah sah,sembunyi-sembunyi dan tampa di ketahui orang tua?kamu nakal juga Jum!!".
Tak beberapa lama Anto langsung masuk ke rumah.
"Laknatullah"teriak Anto di hadapan Jum.
"Sundal kamu, pelacur kamu, aku kira kamu wanita baik-baik, aku pikir kamu serius mau nikah sama aku, ternyata kamu main-main dengan bosmu"teriak Anto dengan lantang ke pada jum.
Jum menunduk di hadapan Anto, aku terus menyaksikan kejadian ini, aku hanya mematung sambil menatapi mereka berdua, air mata ku terus mengalir dalam diam ku, mama indah menepuk-nepuk pundak ku agar aku tenang,
giliran papa ku yang duduk di hadapan Mas Mail.
"Bangkit,dan duduk kamu"
Perintahnya kepada Mas Mail yang masih tidur terkulai di lantai menahan sakit.
__ADS_1
"Ampun pa, maaf kan Mail pa".
Dia langsung menangis di hadapan papa sambil sujud-sujud, mungkin dia merasa bersalah karena telah menghianati janji nya kepada papa di awal pernikahan ku.
Aku tahu kok sebenarnya Mas Mail tidak bersungguh-sungguh menikahi Jum, Mas Mail hanya membodoh-bodohi Jum karena dia hanya butuh pemuas nya saja, yang jarang dapat dari ku.
"Kamu sadar, Apa yang kamu perbuat"tanya papa.
"Iya pa, sadar pa, maaf kan Mail pa, Mail tak mengira kejadian akan seperti ini".
Dia masih menangis dan memohon ke pada papa.
Aku tak tau lagi apa yang akan terjadi, tangisan ini semakin pecah, terbayang-bayang kilatan saat bersama Mas Mail, dimana saat pertama pertemuan,pernikahan kami yang masih ku ingat baju pernikan kami,di tambah lagi kebahagian atas lahir nya anak pertama kami dan di tambah anak kedua.
"Kalau kalian tak keluar dari rumah ini, aku bunuh anak ini! ".
Wajah nya pucat,urat lehernya sampai keluar menandakan dia sedang marah dan emosi, nafasnya naik turun dengan cepat tatapannya sinis sekali, suasana yang awalnya ricuh menjadi menegangkan.
"Jum, istighfar kamu".
"Kamu yang istighfar bu...., Kamu yang merencanakan jebakan ini kan?dasar busuk kamu bu? ".
Kurang ajar dia, dia bilang aku busuk padahal dia lah yang busuk,dasar orang tak tau diri,aku marah dan emosi ingin ku sambal mulutnya, namun di mengacukan pisau ke hadapan ku.
"Tenang dulu"ucapnya.
__ADS_1
"Cepat tinggalkan tempat ini, atau aku akan nekat".
Akhir nya aku memilih mundur dan kakak-kakakku sedang memberi kode, berharap Jum akan lengah, dia ambil tas nya dan memakai pakaiannya, mungkin dia akan kabur dari sini, ternyata seorang Juminten tak se lugu yang aku bayangkan.
"Jangan ada yang di belakang pintu"teriaknya
di curiga ada orang-orang di balik pintu siap menyigap nya.
Ibu yang anak nya di sandera Jum terus menangis dan memohon untuk melepaskan anaknya.
"Ambil kan satu motor untuk ku meninggalkan rumah ini, atau aku bunuh anak ini".
Jum meletakkan pisau di leher anak tersebut, anak itu hanya bisa menangis tampa memberontak mungkin dia tau jiwa nya sedang terancam.
Secepat kilat salah satu warga yang bermotor hadir di hadapan Jum, Jum menaikkan anak kecil itu tetap manaruh pisau di lehernya.
Pada saat matanya mengarah ke kaki pijakkan motor besar itu,secepat kilat salah satu polisi menendang tangan Jum, pisau nya terlempar jauh, tubuhnya langsung di bekuk oleh polisi lain nya.
"Borgol..... Borgol.... Borgol.... "teriak warga yang marah,melihat Jum menyandera anak kecil.
Setelah tubuhnya di borgol, warga masih berteriak.
"Arak... Arak.... Arak... Arak"warga memintak Jum dan Mas Mail di arak keliling kampung.
"Kami tidak terima ada warga berbuat mesum di sini,selama ini di lingkungan ini tidak pernah ada yang berbuat nista, jadi kami tidak terima pak"teriak salah satu warga.
__ADS_1