
Sekitar jam 4 Mas Mail datang ke rumah, ingin bermain dengan anak-anak nya.
"Gimana akhirnya Jum,Mas?"Aku bertanya kepada Mas Mail.
"Sudah beres dek, dia sudah pulang ke kediaman nya, sudah aku tenangkan dia".
"Benaran Mas, apa semudah itu menenang kan Jum Mas? "
"Ya, Mas bereskan sudah tidak pakai hati lagi dek, sudah pusing mas dengan kelakuan dia yang seperti itu, sekarang terserah dia mau nya apa, mau bunuh diri atau ngancam apa mas sudah gak peduli lagi dek, cuman assisten mas aja yang ngurus dia dari tadi, mas hanya berbicara dengan bapak nya "
"Owh gitu.Syukurlah Mas "
Dalam hati ku sih masih ragu terhadap Jum yang gampang di tenangi, mana mungkin bisa keluarga nya ngasih pengertian kepada Jum, sedangkan orang tua nya saja tidak di gubris nya,bahkan sama aku saja Jum sudah mulai kurang ajar, aku merasa ada kemarahan yang sangat besar dalam diri Jum,yang siap meledak kapan saja, aku takut dia berbuat liar lagi.
__ADS_1
"Tapi mas, aku boleh mintak tolong nggak mas, untuk beberapa hari ini jangan datang ke sini dulu,karena aku masih merasa kuatir mas, kalau Jum tau mas sering datang ke sini, aku tak mau aksi manjat tower terulang lagi, pertama aku takut dia main kekerasan atau bisa jadi main guna-guna, keduan kita akan segera bercerai, mas."
"Cepat atau lambat anak-anak harus terbiasa tampa kamu mas, yang ketiga,mas baru saja mempermalukan nya, membantal kan pernikahan di depan keluarga dan orang banyak,jadi biar kan semua nya tenang dulu mas, aku yakin Jum tidak akan tinggal diam, dia pasti sedang memantau kegiatan kita saat ini." Aku mencoba membari arahan kepada Mas Mail.
"Dek saran mu ada benarnya, tapi tidak semua nya bisa mas terima dek, yang pertama, kalau dia macam-macam mas nggak akan biar kan dia tinggal di rumah mewah yang mas kontrakkan sekarang buat dia, untuk sementara waktu biaya hidup nya mas tanggung,karena dia berdalih anak yang di kandung nya adalah anak mas, oke, fine,nggak apa-apa bagi mas,uang segitu nggak ada arti nya,yang mas kuatir kan itu ke selamatan kamu dan anak-anak dek, karena mas nggak 24 jam bersama kalian. "
Apa???
"Dek,kenapa diam? "
"Mas,aku mohon kita harus biasakan gak bersama-sama lagi."
"Dek,kenapa harus pisah dek?, kalau keadaan menginginkan kita untuk hidup bersama,mas gak mau terjadi apa-apa sama kamu dan anak-anak dek, kamu tau kan mas sayang dengan anak-anak dan kamu? "
__ADS_1
Tak ingin berdebat aku bangkit,dari kursi, aku ingin dia paham untuk tidak tinggal di sini bersama ku.
YA ALLAH,Mas Mail malah mengikuti ku ke kamar.
Aku sedikit kaget, dan mendorong tubuh nya ketika sudah di depan pintu kamar.
"Awas aku mau tutup pintu kamar, ini bukan kamar mu lagi, semua baju-baju mu sudah aku pindah kan ke kamar depan. " Ucap ku pada nya,sembari mendorong lagi.
"Oke, oke sayang, tunggu dulu,dengarkan mas dulu,"ucapanya terhadap ku sembari membuka telapak tangan ke arah ku,pertanda give up.
"Apa?"Tanya ku sedikit melotot kepadanya.
Mas Mail menggaruk kepala nya yang tidak gatal sedikit melirik ku dengan penuh arti.
__ADS_1