
Pagi yang mendung,sedikit gelap, aku sudah duduk di meja makan dengan pakaian kerja yang rapi dan bersih,Mas Mail duduk di hadapan ku,dengan wajah lesu,mungkin dia lelah, aku menyekapinya hanya biasa saja.
"Wajahmu sembab dek"uacap nya membuka pembicaraan.
Aku diam saja.
"Kok diam saja dek".
Beberapa detik kemudian baru aku jawab.
"Eee iya mas, mungkin karena baru coba lagi pakai soflen, mungkin sudah lama juga gak pakai, jadi perih deh,air mata nya menetes terus jadi sembab mas".
Aku menjawab dengan tak menatap nya, ku harap dia mempercayai ucapan ku.
Dia masih diam, dia melirik ku dan aku menatap nya.
"Mas ambilin obat tetes ya, biar agak enak kan".
"Nggak usah mas, nanti sembuh sendiri juga mas".
"Mas khawatir nanti jadi iritasi, obatnya juga dingin dek, biar sembabnya sedikit hilang".
Dia mengambil obat di lemari kotak obat, dan memegang perlahan kepala ku, dan dia sedikit membukukkan badan nya.
__ADS_1
"Mendongak dan tahan sedikit ya dek".
Cairan itu menetes dua tetes di kedua mataku, prannkkk suara piring jatuh,aku terperajat kaget.
Lalu melongok beberangan ke arah Jum yang juga menatap ku dengan Mas Mail.
Kupastikan dia cemburu melihat adegan kami barusan.
"Kenapa Jum"tanya Mas Mail.
Jum hanya diam lalu mengelos dengan tatapan kesal.
"Kamu kenapa sih Jum?pagi-pagi sudah aneh begini",tanyaku, dia yang memecahkan piring tapi wajah dia yang masam dan kesal.
"Kamu sakit Jum?,kalau sakit istirahat saja di kamar, gak usah cuci piring itu kan tugas yuk Titik"ucap Mas Mail begitu lembut kepada Jum, mungkin dia tidak enak dengan istri muda nya karena membuat nya cemburu.
"Sini Jum,kamu sarapan dulu, sini duduk sama-sama"ujuar ku.
Aku memang tidak membeda-bedakan sejak dulu, sarapan bersama seperti ini sudah biasa di lakukan setiap hari nya, sayang nya anak-anak belom bangun,mungkin sebentar lagi bangun dan besiap-siap ke sekolah.
Sebenci apapun aku pada Jum, dia masih di dalam rumah ini menjaga anak-anak,aku mengkhawatirkan keselamatan Sifaya dan Nia seandai nya aku gegabah dengan Jum, tunggu saja pasti ada waktu balasan yang kamu dapat Jum.
Tiba-tiba Jum berlari ke kamar mandi dan mengeluarkan erangan seperti muntah.
__ADS_1
"Hoek hoek hoek hoek hoek".
Mas Mail menatap ku, aku menatap nya ingin melihat reaksi nya dengan Jum seperti ini.
Di dalam kamar mandi Jum masih berusaha mengeluar kan isi perut nya dan memuntahkan nya.
"Mas tolong aku mas, aku muntah mas, mas tolong aku mas".
Sontak aku kaget dan Mas Mail langsung terperajat kuat,matanya membulat menatap ku sembari menelan air ludah nya.
Aku menyilangkan tangan ku kedepan, menatap tajam kepadanya'mati kamu mas'.
"Kamu kenapa kaget begitu mas?".
"Ya ya ya kaget lah,dia manggil siapa sih? "
Mas Mail membentangkan kedua telapak tangan nya dengan ekspresi tak paham.
"Dah,dek mas berangkat kerja dulu".
Secepat kilat dia meninggal kan meja makan dan menuju gerasi, terdengar suara mobil yang di pacu secepat mungkin meninggalkan rumah ini.
Aku menghela nafas.
__ADS_1
Ternyata kamu belum siap memperkenal kan Jum kepada ku mas, karena itu lah kamu berani menjalani hubungan dengan ART mas, keinginan kamu mempunyai istri lebih dari dua sangat besar mas, libido kamu juga besar mas, tapi sayang nyali kamu ciyut mas, meski kini kamu sudah punya bisnis yang mengahasilkan pundi-pundi uang sangat besar, tapi aku juga bukan wanita sembarangan yang kamu nikahi mas, lalu seenaknya kamu membuat rumah tangga ini jadi mainan demi memuaskan kebutuhan mu yang tidak kesudahan, kamu baik mas, tapi juga dengan mudah kamu mengumbar cinta dengan yang lain mas.
Aku melanjut kan sarapan ku yang masih tersisa sedikit.