
Oke Anto, satpam kompleks,siapa lagi yang harus masuk list ku sebagai salah satu terduga,
"coba ingat-ingat lagi yuk, ada lagi apa nggak?"
"Nggak ada bu, paling-paling yang datang cuman bapak bu, sehari bisa dua kali,barangkali mau nengok anak-anak di rumah buk"jawab yuk Titik datar.
Mas Mail datang ke rumah sehari bisa dua kali? kenapa harus samapi dua kali, bukankah makan siang dia sudah di siapkan di kantor.
"Jadi bapak sering pulang ke rumah,sampai sehari dua kali yuk? ".
"Iya lumayan sering sih buk".
"Ngapain aja di rumah biasa nya yuk?"aku iseng mendengar jawaban yuk Titik.
"Saya kurang jelas bu, soal nya saya nyetrika dan nyuci, tidak lihat ke ruang depan".
Aku tak bertanya lebih jauh lagi, takut yuk Titik curiga ada apa-apa antara Jum dengan Mas Mail,tapi jujur aku tak tahu Mas Mail sering pulang ke rumah di jam-jam kerja nya,dia tidak pernah cerita.
Malam ini,jam dua dini hari, aku terbangun dari tidur ku,tersentak kaget di kejutkan dengan suara entah apa,yang jelas membuat mata ku yang sedang terlelap tiba-tiba terbuka.
__ADS_1
Kuraba ke samping kasur, tak ada tubuh Mas Mail di situ,lekas aku bangkit dan menyalakan lampu kamar tidur,gelap menjadi terang benderang, ku lihat anak-anak sedang terlelap tidur di kasur sebelah.
"Mas Mail?" ku panggil Mas Mail,barangakali dia sedang berada di kamar mandi,tapi tak ada jawaban.
Aku berjalan keluar kamar,tak ada orang di ruang depan, ruang keluarga,ku menuju ruang makan,ternyata Mas Mail sedang duduk sambil merokok di dekat meja makan.
"Mas,bukan nya tadi sudah tidur?".
"Iya kebangun,jadi ingin merokok".
Kulihat rambut-rambut tipis di dekat pelipis nya agak basah oleh keringat.
"Iya, mangka nya ngadem,sejuk di sini".
kalau memang ruangan ini sejuk, kenapa ia berkeringat?
Ku lirik pintu kamar Jum,sedikit terbuka dan lampu kamar nya masih menyala, kenapa menyala?, bukan kah dia sudah tidur?
"Aku balik ke kamar ya mas".
__ADS_1
Mas Mail tak menjawab, dia menyesap rokok nya dan mengembulkan.
Ku tingggal kan Mas Mail sendirian, entah mengapa Mas Mail barusan begitu dingin, apakah sebenar nya sedang menutupi perasaanya yang tegang?,apakah yang ku curigan kan benar?, jangan-jangan mereka habis berbuat?,aah aku benci dengan perasaan ku saat ini.
Di kamar aku tak bisa tidur, meskipun berusaha memejamkan nya,beberapa menit kemudian Mas Mail masuk ke kamar dan merebahkan diri nya di samping ku.
Pukul setengah lima pagi,ku membuka mata yang sama sekali tak tertidur, aku bangkit, melangkah menuju dapur, hendak membuat susu dalam dot untuk si kecil.
Ku lihat lampu kamar mandi di belakang menyala dengan daun pintu yang tertutup, terdengar gemercikan air yang di nyala kan,dan siraman air perlahan seperti orang mandi, ya meski pelan tapi aku bisa memastikan Jum sedang mandi.
Benar saja setelah sepuluh menit ku nantikan dia keluar dengan handuk di tangan dan rambut basah, matanya menyasar ke segenap ruangan,ku pastikan dia tidak melihat ku yang duduk di sudut ruangan dalam keadaan gelap.
Setelah dia masuk ke kamar, gegas aku melangkah menuju kamar, tumben Jum mandi subuh-subuh sekali, tak seperti biasanya?, ada apa ini?, perasaan menjadi gaduh, aku jadi teringat pesan mama.
"Lina, saran mama sih, setiap mbak yang kerja di rumah ini, dia pulang pergi aja, jangan sekali-kali mereka tinggal di sini, serumah dengan kalian".
"Kenapa ma".
"Pertama meraka bukan mahrom suami mu, jadi janganlah tinggal serumah, khawatir aja ada setan yang lewat, mereka kesambet jadi khilaf".
__ADS_1
Ucap mama menyampaikan ini dengan serius, kini baru aku sadar dengan apa maksud mama, meskipun ke curigaan ku belum tentu benar,sampai detik ini aku belum yakin benar-benar,Mas Mail sampai berbuat se jauh ini.